Jumat, 11 November 2022

Ditipu Loveftw Karangan Bunga Papan

Bisnis karangan bunga adalah bisnis kepercayaan. Bagaimana tidak, seringkali pemesan bunga adalah orang yang jauh dari lokasi bunga yang ingin diantarkan. Transaksi pemesanan dan pembayaran dilakukan jarak jauh via online, pembeli berharap bahwa penawar jasa memberi jasa yang sesuai dengan kesepakatan. 

Tapi tidak dengan usaha karangan bunga papan Loveftw loveftw. Loveftw adalah pemberi jasa karangan bunga papan pertama sampai saat ini yang menipu saya. Sungguh mengecewakan terkena penipuan loveftw.

***

Penipuan Loveftw Karangan Bunga Papan

Awalnya saya mendapat undangan dari seorang teman yang akan menikah di Boyolali. Karena berhalangan datang, saya berencana mengirimkan bunga papan sebagai ucapan ikut berbahagia. Melalui google, saya menemukan beberapa usaha karangan bunga salah satunya (dengan tulisa tambahan 'ad' di depannya) Loveftw. Loveftw ternyata semangat berusahanya sampai bayar ad yang patut diacungi jempol, sayangnya tidak menghargai pelanggan yang memercayainya.

Sebelumnya, saya juga menghubungi satu penyedia jasa karangan bunga lokal di Boyolali dan dikirim sampel melalui wa. Namun mungkin karena tertarik dengan tawaran delivery 24 jam Loveftw, saya menghubungi mereka . Mereka lalu menyampaikan sampel, namun hanya berupa gambar (bukan foto karangan bunga asli) seperti ini:

Baru setelah diminta gambar bunga papan asli, baru mereka mengirimkan beberapa sampel dengan bunga asli.

Dalam proses interaksi, saya coba memastikan juga apakah mereka benar-benar punya toko di Boyolali, bukan hanya agen yang mencari komisi. Mereka mejawab benar ada di Boyolali:

 

Dalam penawarannya, sales loveftw ini lumayan agresif. Baru menawarkan, 2 menit kemudian sudah minta konfirmasi: 


Akhirnya setelah menimbang-nimbang, saya memilih sebuah karangan bunga yang cukup mewah namun cukup terjangkau yang ditawarkan oleh Loveftw, dengan 4 umbul rangkaian bunga: atas, di bawah, dan kanan kiri atas. Ini penampakannya: 

 

Saya pun segera membayar sesuai harga yang ditawarkan melalui mobile banking, ke rekening a.n. F Rohedi Cesaria Kurnia. Sebelum transfer, saya google terlebih dahulu nama ini, dan muncul beberapa kali dengan terhubung pada PT Kaya Raya Turun Temurun, dan beberapa usaha karangan bunga, cake dan hampers. Saya kira ini sudah jelas sehingga saya berani transfer:

Cat: Transfer ke rekening an F Rohedi Cesaria Kurnia atas pesanan bunga ke Loveftw 

Setelah transfer pihak Loveftw pun berjanji akan memproses pesanan.

***

Keesokan harinya, pagi sekitar jam 10 melalui wa masuk pesan bahwa papan bunga ucapan saya telah sampai di lokasi. Bentuknya seperti ini:

Saya terkejut, yang dideliver adalah papan bunga versi murah. Bunganya sangat minimalis, cuma ada sedikit di atas dan di bawah (dan itupun dugaan saya bunga plastik). Tidak ada umbul bunga di atas bawah, kanan kiri atas seperti model yang ditawarkan Loveftw. Perhatikan sekali lagi model yang sebelumnya ditawarkan, dengan bunga-bunga yang banyak:

Saya sangat kecewa, karena pesanan itu adalah representasi saya di acara penting seorang teman. Seakan-akan saya hanya mau memesan bunga yang murah. Saya segera mengajukan komplain ke Loveftw via wa, mumpung masih pagi dan masih ada waktu untuk memperbaiki (acara sampai sore jam 16.00). 

Ketika di wa, berbeda saat menawarkan, pihak Loveftw lambat menjawab. Setelah 20 menit, mereka mengajukan tawaran yang sangat menggampangkan masalah:


Loveftw tidak mau memperbaiki papan bunga tapi menawarkan untuk pengembalian Rp100 ribu. Tentu saja saya tolak, karena ini bukan soal harga, tapi soal pesanan karangan bunga untuk acara spesial seorang teman. Ini juga soal mereka yang seharusnya tepat janji di usaha berdasarkan kepercayaan ini. 

Sebelumnya, seperti yang saya sebutkan di atas, saya juga bertanya ke pengusaha jasa papan bunga lokal di Boyolali, untuk bunga seperti yang dideliver Loveftw itu ditawarkan Rp500 ribu:

Saya bersikukuh agar Loveftw memperbaiki bunga itu, karena masih ada waktu. Tapi Loveftw tidak bergeming, tetap pada pendiriannya dengan tawaran pengembalian Rp100 ribu. Padahal jelas-jelas mereka sudah menipu, menawarkan karangan bunga berbentuk A, tapi memberi karangan bunga berbentuk B yang jauh lebih murah. 

Akhirnya karena mereka tetap dengan pendirian itu saya diamkan, dan saya tuiskan ini, semoga dibaca orang agar mengurangi pihak yang ditipu oleh Loveftw, kena penipuan Loveftw dan dirugikan oleh Loveftw. Dan semoga usaha karangan bunga yang lain tidak terimbas negatif atas kelakukan Loveftw ini karena usaha karangan bunga papan ini banyak mengandalkan kepercayaan konsumen. 

Jakarta 25 Oktober 2022.

Percakapan terakhir dengan Loveftw:



 

Minggu, 25 Oktober 2020

Jejak

Beberapa waktu lalu, Tamara (bukan nama sebenarnya) mengundurkan diri dari kantor karena akan ikut suami yang bekerja di kota lain. Tamara adalah salah satu PPNPN (lebih populernya disebut Pegawai Honorer) yang bertugas mengatur lalu lintas pengunjung yang akan dilayani di kantor. Tamara sudah bekerja selama sekitar 12 tahun sebelum akhirnya mengundurkan diri. 

Yang menarik, beberapa minggu sebelum Tamara secara resmi tidak lagi bertugas, sudah masuk beberapa lamaran untuk mengisi posisinya. Rupanya sudah beredar di antara sebagian pegawai/PPNPN dan lainnya bahwa Tamara akan berhenti, dan mereka memberitahu kerabat/teman mereka jika berminat untuk melamar menggantikan posisinya. 

Karena tugasnya adalah front office, maka yang melamar kebanyakan wanita. Hanya ada satu pria. Bagian kepegawaian pun melakukan seleksi administrasi dan melihat riwayat hidup/kegiatan pelamar sebelum diadakan tes wawancara. Dari para pelamar itu, yang menjadi kandidat kuat adalah mereka yang punya kegiatan cukup aktif dan positif, baik saat sekolah/kuliah maupun setelahnya. Apalagi ini adalah tugas front office, diperlukan petugas yang supel dan cekatan untuk melayani pengunjung. Walaupun sebagai PPNPN front officer, hanya satu pelamar yang berpendidikan SMA. Selainnya berpendidikan S1. Begitu ketatnya persaingan bekerja saat ini.

Nah selain karakter tadi, bagian rekrutmen pun tidak lupa mengecek media sosial para pelamar. Karena mereka melamar mandiri (tidak ada pengumuman lowongan), maka tidak ada kewajiban untuk para pelamar mencantumkan halaman media sosialnya (facebook, twitter, instagram dll), hanya format standar riwayat hidup seperti identitas, foto, pendidikan, pengalaman dan sebagainya. Tapi hal itu tidak menjadi halangan. Saat ini google sudah sangat bisa diandalkan untuk melacak jejak seseorang di media sosial, yang sedikit banyak mencerminkan karakter dan aktifitas yang bersangkutan. 

Untunglah berdasarkan pencarian dan media sosial milik para pelamar, tidak ditemukan hal-hal aneh. Kantor tentu tidak boleh menerima pekerja yang toxic dan suka menebarkan hal-hal negatif. Bukannya terbantu, kantor bisa-bisa malah disharmoni atau bahkan terkena masalah.

Saat ini dan yang akan datang, sangat mudah untuk melihat jejak seseorang di internet. Jadi, jika anda masih ingin mencari nafkah baik itu sebagai karyawan, usaha sendiri, partner dan lain sebagainya, saran saya tidak perlulah meluapkan tendensi apalagi kebencian termasuk di internet dan media sosial. Jejaknya akan sangat mudah didapatkan. 

Lagipula, setahu saya, tidak pernah ada pendirian seseorang berubah karena posting orang lain di sosial media. Biasanya hanya mengkonfirmasi yang sudah setuju, meluapkan nafsu si pemosting, dan menumpuk-numpuk perasaannya (kebencian atau kecintaan). Hal yang sebenar-benarnya dihasilkan oleh postingan seperti itu adalah ekspose/menunjukkan karakter si pemosting itu sendiri.

Minggu, 13 September 2020

Agama Orang Jepang

Saya baru saja menonton "The Tale of Princess Kaguya" (TOPK) di Netflix. Seperti film-film Animasi Studio Ghibli lainnya, sinematografi film ini sangat keren. Gerakan tokohnya riil dan roh ceritanya begitu terwakili. 

TOPK adalah cerita rakyat Jepang tentang seorang putri yang ditemukan dari dalam bambu (sehingga dipanggil anak lain teman-temannya sebagai "Kakenoko" atau Anak Bambu) oleh seorang pengrajin bambu yang lalu membesarkannya berdua dengan istrinya. Berbekal petunjuk ayng diperoleh si pengrajin dan emas di pohon bambu lain di sekitarnya, mereka pindah ke kota dan menaikkan status sosial menjadi bangsawan, sampai Kanenoko menjadi Puteri yang diberi nama "Kaguya". Karena kecantikan dan tutur adatnya, banyak bangsawan yang terpesona dan ingin melamar termasuk akhirnya Kaisar.

***

Ketika saya akan berangkat ke Jepang sekitar tahun 2006, salah satu pertanyaan yang cukup sering disampaikan ke saya adalah apa agama orang Jepang. Yang tahu biasanya menyebut Shinto, dan itu benar adanya. Di Jepang banyak dibangun kuil Shinto yang disebut Tera, yang berbeda dengan kuil Buddha (di Jepang juga ada sebagian pemeluk Buddha). 

Namun ketika pengetahuan saya mengenai sejarah agama-agama sedikit bertambah, saya baru tahu ternyata "agama Shinto" berbeda dari konsep agama yang sebelumnya saya pahami. Di Indonesia sejak kecil kita mengenal 6 agama, yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Dari 6 agama resmi itu, 3 agama yang disebut pertama, agama Abrahamik, memiliki jumlah pemeluk lebih dari 90% dari penduduk Indonesia, sehingga menanamkan pengaruh besar pada pemikiran masyarakat. Dari pemahaman ketiga agama ini dapat ditarik benang merah bahwa agama adalah konsep keimanan adanya Tuhan Sang Pencipta yang disembah dengan aturan-aturanNya demi kebaikan hidup manusia dan keselamatan sesudah mati. Itu konsep keyakinan yang menurut pakar sejarah diturunkan oleh Ibrahim sekitar 2.000 SM atau sekitar 4.000 tahun lalu. 

***

Untuk menjelaskan perbedaan konsep "agama" Jepang dengan lebih mudah, saya meminjam cerita Prof Richard Holloway di bukunya "A Little History of Religions" mengenai berbagai keyakinan. Seluruh keyakinan umumnya memiliki cerita yang disebut "kreasionisme" atau konsep penciptaan manusia dan semesta ini. Menurut Yahudi misalnya, Tuhan mencipatakan alam semesta dalam waktu 6 hari, dan kemudian di hari ke-7 beristirahat. Seluruh manusia saat ini merupakan keturunan Adam dan Eve (atau dalam Islam Adam dan Hawa), yang diciptakan Tuhan dari tanah. 

Jepang juga memiliki kisah kreasionisme mereka sendiri. Awal mulanya di alam ini hanya ada air, lalu Dewa Izanagi dan istrinya Dewi Izanami mengaduk dasar air dengan tombak, sehingga terbentuklah pulau-pulau Jepang. Pasangan dewa-dewi ini memiliki 3 anak: Dewi Matahari, Dewa Bulan dan Dewa Badai. Dewi Matahari memiliki anak dan cucunya kemudian menjadi Kaisar Jepang. Karena itu Kaisar Jepang adalah cucu Dewa Matahari.

Konsep kreasionisme Abrahamik meyakini bahwa penciptaan manusia dan alam adalah untuk keseluruhan umat manusia, yaitu semesta yang diciptakan adalah untuk manusia dan Adam dan Hawa adalah kakek nenek mereka, mulai dari kutub utara sampai kutub selatan. Berbeda dengan hal tersebut, orang Jepang meyakini Dewa menciptakan mereka saja. Diduga ini karena letak Jepang yang terkucil. Bahkan tetangga mereka, Tiongkok baru memiliki kontak dengan Jepang sekitar abad ke-6 Masehi. Orang Jepang dahulu tidak sadar ada orang lain di luar kepulauan mereka.

Selain eksklusifitas itu, ada pula perbedaan yang mendasar dengan keyakinan-keyakinan lain pada umumnya. Jika di keyakinan lain Tuhan/Dewa memiliki tahta atau bersemayam di "atas"/langit/surga, sementara manusia tinggal di dunia tengah/bumi (earth), dewa-dewi Jepang diyakini tinggal bersama-sama manusia di pulau-pulau Jepang tersebut. Roh/spirit tinggal di alam dan berdiam pada unsur-unsur alam seperti gunung (Gunung Fuji merupakan gunung tersakral/keramat), pohon, sungai, laut, dan sebagainya. 

Karena itu tidak heran Jepang memiliki romantisme kepada alam yang sangat kental. Kuil yang didirikan di hutan dan alam lainnya seperti di pantai/ambang laut merupakan simbol penghormatan dan terima kasih mereka pada roh/spirit yang berdiam di sana. Princess Kayuga gundah ketika tuntutan budaya dan keinginan orang-orang akan dirinya yang merusak alam. Di film-film Ghibli lainnya seperti "My Neighbour Totoro" dan "Princess Mononoke" hal ini juga kelihatan. Di "My Neighbour Totoro" dikisahkan satu keluarga pindah ke sebuah desa dan menempati rumah tua dengan pohon raksasa di depannya. Ketika ada roh/spirit yang muncul di rumah dan pohon tersebut, bukannya takut, dua anak perempuan keluarga tersebut malah memanggil dan berteman dengan mereka.

***

Dalam antropologi budaya, agama Jepang itu disebut sebaga animisme. Bagi orang Jepang sendiri, hal itu bukan agama, tapi memang itulah pandangan mereka tentang diri mereka sendiri dan alam. Karena keyakinan itu alami belaka, mereka tidak punya istilah dan tidak tahu apa namanya. Setelah pengaruh Cina masuk ke Jepang membawa ajaran spiritual yang memiliki nama, Buddhisme dan Taoisme, baru mereka ikut menamai konsep keyakinan mereka itu, yang dinamai Shin-to, yang berarti Jalan (-to) Dewa (shin). Demikianlah disebut agama Jepang itu Shinto, yang sebenarnya bukan agama jika kita melihat dari perspektif keyakinan mayoritas masyarakat di Indonesia. 

Kalau di Indonesia, animisme disebut sebagai kepercayaan nenek moyang dahulu kala. Namun di Jepang, keyakinan itu masih eksis sampai sekarang. Dulu ada upaya misionaris untuk meng-convert masyarakat Jepang, tapi kemudian digagalkan oleh penguasa kala itu.  

 

  

Kamis, 05 September 2019

Pengalaman Pesan Buku di Grobmart

Saya beberapa kali membeli buku secara online, antara lain dari gramedia, mizanstore, opentrolley, periplus, sampai beberapa merchant di tokopedia. Semuanya memuaskan. Buku yang saya order sampai dengan cukup cepat dengan packing yang baik.

Hal berbeda terjadi ketika saya memesan di grobmart. Ceritanya saya mencari buku Mun'im Sirry, Kontroversi Islam Awal. Setelah browsing di beberapa toko buku online, stok buku ini sudah habis. Saya cari lewat internet, membiarkan ke situs apa saja yang menawarkan buku ini. Salah satunya ada toko buku Grobmart yang kemudian saya cek.

Di situs tersebut buku berstatus "di gudang penerbit" yang berarti ada stock dan dalam 3-5 hari akan dikirim setelah verifikasi pembayaran. Saya memesan dan membayar tanggal 9 Agustus 2019 via go-pay, yang segera dikonfirmasi oleh Grobmart melalui email. Menurut situs tersebut tidak perlu melakukan verifikasi lagi, alias pihak toko dapat mendeteksi saya sudah membayar.

Setelah seminggu, dua minggu saya belum dapat kiriman buku atau bahkan kabar. Tanggal 30 Agustus 2019 atau 21 hari setelah pemesanan saya mengirim email menanyakan. Baru kemudian direspond bahwa stok tidak ada, pembayaran saya akan dikembalikan (refund). Sayang penjelasan refund-nya juga tidak jelas.

Sampai hari saya menulis post ini (5 September 2019), uang saya belum di-refund.

Minggu, 01 September 2019

Dunia Alternatif

Sejak kecil kita sudah diajarkan tentang surga/neraka. Beberapa waktu lalu ada seorang ustadz yang mengatakan akan "menggandeng tangan ke surga" seorang calon presiden. Nampaknya ia haqqul yakin bahwa mereka akan ke surga, dengan syarat tertentu tentu saja. Keyakinan soal hari akhir ini begitu melekat di pikiran kita sehingga tidak bisa membayangkan selain itu setelah umur manusia.

Saya baru mendengar pendapat "alternatif" saat sudah dewasa, ketika S2. Saat itu kami di kelas sejarah dan budaya Jepang. Profesor menceritakan orang Jepang secara umum, bahwa mereka tidak percaya surga dan neraka. Saya, heran, lalu bertanya. "Lalu, kalau anda meninggal, anda ke mana?"

Dia menjawab, "Ya tidak ada. Sama seperti waktu saya belum lahir. Saya tidak merasakan apa-apa karena memang sudah tidak ada".

Orang Jepang memang banyak agnostik. Agnosti itu tidak serta merta percaya, atau ragu pada agama, terutama jika yang dimaksud adalah agama Abrahamik.

Keyakinan tentang hari kemudian ini sangat berpengaruh pada hidup manusia. Bisa dilihat pada sikap orang terhadap kerabatnya yang sudah meninggal.

Mereka yang percaya bahwa kerabatnya itu telah terselamatkan, hidup bahagia bersama Tuhan, dll, akan menampakkan wajah gembira ketika berkunjung ke makamnya. Mereka yang berkeyakinan bahwa kerabatnya masih harus menjalani perhitungan, akan cemas, sedih dan rajin memohon/berdoa untuk keselamatannya.

Demikian pula pada hidup sehari-hari, baik buat individu itu sendiri maupun lingkungannya.

Mereka yang percaya akan surga/neraka yang abadi akan berupaya untuk mencapainya. Berbuat baik untuk mendapat balasan kelak, atau setidaknya agar tidak dihukum. Tidak semua juga sih, ada juga yang berbuat keji, seperti teror, pembunuhan massal dll, yang menganggap itu akan memberi jalan dia ke surga. Mereka tidak peduli pada korban atau keluarganya.

Sementara itu, orang Jepang/agnostik seperti profesor saya itu, yang menganggap bahwa hidup hanya di dunia ini, juga berusaha berbuat terbaik di dunia ini. Panduan moralnya? Aturan hukum manusia yang diperbaharui sesuai zamannya untuk ketertiban sesama, selain sensasi kepuasan ketika berbuat baik atau berguna bagi orang lain.

Tentu saja ada juga mereka itu yang mengejar hidup di dunia ini saja, tanpa peduli merugikan orang lain, karena mereka anggap toh you only live once, YOLO. Mumpung bisa.

Allahu a'lam bisshawab.

Minggu, 07 April 2019

Beli Kucing di Jalan Barito

Tiga minggu lalu kami ke Jalan Barito, Jakarta Selatan (selanjutnya kita sebut Barito saja) untuk cari kucing peliharaan untuk dibeli (diadopsi, istilah pecinta kucing). Sudah beberapa lama anak-anak minta kucing, setelah kucing mereka mati. Kucing Himalaya jantan pemberian pecinta kucing, bulunya panjang, bulu ekornya mengembang, pokoknya baguslah, sayang suka keluar rumah main sampai malam (katanya karena jantan). Matinya ketahuan setelah hujan ada seonggok putih di pekarangan rumah kosong tetangga, ternyata dia. Diagnosa kami dia mati karena minum sembarangan sehingga terkena diare, karena tidak ada tanda kekerasan (karena berkelahi atau lainnya) atau kecelakaan di tubuhnya.

Kembali ke cerita Barito, sebelum pergi saya coba google dulu untuk cari tau pengalaman orang membeli kucing di sana. Sayang cerita yang ada di internet kurang begitu telling dan konklusif. Ada beberapa google review yang bercerita tentang situasi di sana, tapi sangat singkat. Setelah beberapa minggu beli kucing dari sana dan tadi sore ke dokter hewan, saya memutuskan untuk menuliskan pengalaman saya dan saran dokter hewan sehingga netizen yang berencana mengadopsi kucing dari Barito dapat lebih terinformasi dengan baik berdasarkan pengalaman saya ini.

***

Kami sampai di Barito sekitar Minggu siang jam 12 sekitar 3 minggu lalu. Saat itu cukup ramai pengunjung. Setelah melihat-lihat di 2-3 pet store kucing, kami sampai di pet store yang cukup banyak koleksi kucingnya. Tokonya sendiri berendeng beberapa toko, yang saya tanya katanya pemiliknya sama. Anak-anak antusias masuk memegang dan mengelus kucing. Saya sendiri iya-iya saja ketika disebut oleh penjualnya kucing ini jenis Persia, Himalaya, Peak Nose, Norwegia, dan lain sebagainya karena saya juga tidak mengerti. Yang saya perhatikan lucu dan sehatnya saja, dan itu juga dilihat anak-anak yang akhirnya memilih dua ekor, satu berbulu kuning emas dan satu lagi putih. Umurnya kata Akang penjualnya sekitar 3 bulanan.

Harga penawaran kucing-kucing yang kami tanya berkisar antara 1,2 juta-1,8 juta. Ada juga di atas 2 bahkan 6 juta tapi itu sudah di atas budget, dan anak-anak juga mengerti. Jadi pemilihan kucingnya yang saya izinkan adalah kisaran harga pertama tadi.

Saat anak-anak menimbang-nimbang beli kucing yang mana dan saya menimbang harganya, ada yang cukup menarik saya amati. Penjual ketika memberikan harga (setelah ditanya berapa) selalu bilang, "Silakan ditawar saja" atau "Maunya berapa, bilang saja" seakan-akan pokoknya berapa harganya Ok. Itu perasaan saya. Mereka memang sepertinya ingin cepat me'laku'kan saja koleksinya. Tentunya wajar, karena kucing adalah hewan yang cukup cepat berkembangnya; kalau tersimpan di mereka semakin banyak biaya pemeliharaannya.

Perputaran penjualan kucing yang cukup cepat di Barito saat itu terlihat ketika ada momen saat anak-anak masih menimang-nimang kucing untuk dipilih, seorang bapak dan anak perempuannya datang dan anaknya suka seekor kucing, tidak banyak cingcong atau cengkonek, si bapak langsung membayar, tunai. Ketika saya tanya si penjual dijual berapa, dia bilang Rp 2 juta, dan sepertinya memang begitu ketika mereka menghitung lembaran uang seratus ribu yang diserahkan si bapak.

Momen lain ketika di sana bertemu teman sekolah anak dan orangtuanya yang baru saja bertransaksi mengadopsi kucing di toko lain. Ketika ditanya harganya dia jawab Rp 1,2 dengan keranjang (keranjang harganya sekitar Rp 250 ribu). Jadi kucingnya dihargai sekitar Rp 950 ribu. Saya bilang ke penjual di toko kami tadi, "Nah tuh harganya lebih murah (daripada punya kamu yg ditawarkan Rp 1,5 juta)" Dia jawab, "Benar pak murah, tapi nggak jamin, ntar beberapa hari mati. Kualitasnya beda". Saya yakin saja karena dia juga berani meninggalkan nomor telepon ke saya, kalau saja ada apa-apa dengan kucing yang akan saya beli.

Setelah menimbang-nimbang dan takut juga kalau-kalau kucing yang sudah disukai anak-anak nanti diambil orang, saya menawar 2 ekor, satu betina (katanya Norwegia) satu lagi jantan (Persia Medium). Benar saja, ketika kucing yang ditawarkan Rp1,5 juta dan Rp1,2 (total seharusnya 2,7 juta) juta itu ditambah dengan kandang (ditawarkan Rp 600 ribu) sehingga total seharusnya Rp 3,3 juta saya tawar, tidak terlalu banyak perlawanan dari si penjual. Setelah sedikit basa-basi agar menaikkan tawaran, akhirnya dia sepakat dengan senang hati (dengan menambah bonus kotak pasir untuk tempat eek kucing) menjadi Rp2,1 juta untuk 2 kucing dan 1 kandang besi besar.

***

Setelah di rumah, kucing yang kuning (betina) cukup aktif dan bermain-main. Sementara itu, yang putih (jantan) kurang bergairah. Fast forward, 3 hari kemudian si putih sudah kuyu, maunya duduk meringkuk saja. Makan tidak bergairah dan suaranya mengeong pelan. Kasihan melihatnya. Tapi saya dan istri bekerja, sehingga tidak bisa membawanya ke dokter hewan. Hari ke-4 atau ke-5, anak saya sudah menemukan dia mati di kandang. Tinggallah si kuning, yang masih lincah dan mengeong-ngeong minta keluar untuk bermain. Sebelumnya di Barito, saran penjual agar kucingnya selama seminggu dikurung dulu di kandang untuk membiasakan mereka sengan suasana baru.

Matinya si putih cukup menyedihkan karena istri dan mbaknya anak-anak sudah berusaha merawat dan menyediakan keperluan mereka. Kandangnya bersih, pasir disediakan yang wangi, makanannya royal canine sesuai saran si penjual. Tapi sebenarnya istri saya katanya sudah melihat kok si putih sebenarnya tidak begitu aktif waktu di Barito, apakah sakit, tapi apa mau dikata karena anak sudah suka yang itu akhirnya itu yang diambil.

***

Kemudian ceritanya tadi siang kita pergi ke luar dan meninggalkan si Kuning di rumah. Balik sekitar jam 3, saya lihat dia yang biasanya aktif dan suka mengeong sekarang wajah dan matanya kuyu, badan meringkuk dan suaranya pelan. Saya ingat ini ciri-ciri waktu si putih sakit. Setelah bilang ke istri dan anak-anak, kami pun mencari dokter hewan yang buka hari ini, hari Minggu. Untung ada dokter hewan yang buka praktek di sekitar Cijantung. Kami pun bergegas ke sana.

Di tempat praktek dokter hewan tersebut (yang berupa bagian dari sebuah pet store) kami harus menunggu kaena ada sepasang suami-istri yang sedang mengobati dan konsultasi tentang kucing mereka. Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya giliran si kuning diperiksa, dan diagnosa dokter hewannya si kuning terkena virus. Si kuning pun di beri makan oleh dokter, dikasih obat (antibiotik) dan kami diminta nanti beli imboost (multi vitamin itu) untuk diberikan ke si kuning untuk memperbaiki sistem pertahanan tubuhnya.

Saat diberitahu bahwa si kuning diadopsi dari Barito, si dokter bilang pantas... memang (pada saat ini) banyak kucing dari Barito yang kena virus, begitu pula kucing suami istri yang baru pulang tadi yang juga dibeli di Barito. Kucing mereka padahal sudah diinfus but unfortunately he did'nt make it setelah dirawat seminggu. Ada 2 kucingnya dari Barito yang akhirnya mati. Penuturan sang dokter, ada sekitar 6 kucing dalam seminggu ini yang datang ke dia yang kasusnya sama yaitu diadopsi dari Barito.

Setelah menjelaskan cara-cara merawat si kuning, ada beberapa saran dokter hewan tersebut yang diambil pengalaman untuk mereka yang berencana mengadopsi kucing dari Barito sebagai berikut:

- Kalau membeli kucing, buat perjanjian ke penjual agar kucing bisa ditukar jika dalam 2-3 hari sakit

- Sumber adopsi kucing ada 3: hobbyist, peternak, dan pedagang. Hobbyist adalah mereka yang memang menyukai kucing dan merawat mereka dengan baik. Ada riwayat kesehatan, vaksin, keturunannya dan lain-lain, sehingga kucingnya biasanya lebih jelas dan sehat. Sementara itu peternak adalah mereka yang hanya mengembangkan kucing untuk kepentingan bisnis, begitu pula pedagang. Dengan begitu, lebih aman untuk mengadopsi kucing dari hobbyist; namun harganya menjadi berlipat-lipat, dan mereka bahkan selektif memilih pembelinya.

Penuturan dokter hewan virus yang ada di kucing sebenarnya juga adalah bawaan dari induk-induknya terdahulu, sehingga riwayat keturunannya (yang biasanya dimiliki oleh hobbyist) penting untuk keperluan kesehatan sang kucing.

Saya sudah bilang ke istri dan anak-anak kalau si kuning tidak bisa bertahan kita tidak akan mengadopsi kucing lagi, kasihan sepertinya kita masih belum bisa merawat hewan peliharaan dengan baik. Sebenarnya ada pula teman istri yang sudah bersedia memberikan salah satu kucingnya kepada kami untuk diadopsi, tapi dibatalkan saja untuk saat ini.

Doakan semoga si kuning sembuh yah.

###

Update: Akhirnya si Kuning menyusul si Putih, hari selasa malam, 9 April 2019, tepat ketika kami sudah bersiap-siap berangkat ke RSH Ragunan membawanya.

===

Catatan:
Si kuning dan si putih ada namanya diberi anak-anak, tapi untuk di sini saya tulis saja seperti di atas.

Sabtu, 06 April 2019

Teknonitif Gap

Saya sedang kembali ke apartmen kampus ketika berpapasan dengan seorang pria bule yang menuju Curtin Oval, lapangan sepakbola kampus. Melihat saya mengenakan kaos berlambang Liverpool FC (LFC), dia berhenti dan menyapa saya dengan ramah. Dia memberikan kartu namanya, pengurus LFC Fans Club Western Australia, sebuah fans klub amatir di Perth, dan menawarkan untuk bergabung. Saya bilang terima kasih dan akan mendaftar. Anggota klub ini biasanya nobar pertandingan LFC di sebuah bar bernama Franklins.

Sesuai janji, beberapa hari kemudian saya mendaftar online, dapat kartu anggota dan beberapa merchandise dan beberapa kali ikut nobar di sana, walau hanya minum Coca Cola + es batu.

Begitu uniknya sebuah ikatan walau hanya berasal dari kesukaan klub yang sama. Saya dan bule tersebut sama sekali tidak kenal, Indonesia dan Australia tidak punya sejarah yang kental prestasi dalam sepakbola, bahkan saya tidak pernah ke Inggris. Namun ketika dia melihat saya mengenakan pakaian beridentitas, dia tidak ragu untuk bertegur sapa karena merasa seperasaan. Soal gembira atau kecewa ketika tim favorit menang, hanya supporter sepakbola yang tahu gimana rasanya.

***

Menurut Harari, manusia bisa memimpin dan mengendalikan manusia lain dengan jumlah maksimal 150 orang. Lebih dari itu, perlu konsep abstrak-psikologis untuk menyatukan–dan mengontrol– sekelompok orang tersebut. Klub, perusahaan, bahkan negara adalah contoh konsep abstrak itu. Seseorang bisa merasa solider terhadap orang lain yang sama sekali tidak pernah bertemu apalagi berinteraksi, hanya karena berada pada lingkup konsep abstrak yang sama. Misalnya orang Indonesia merasa bangga ketika Eddie Van Halen disebut memiliki darah Indonesia. Padahal Eddie Van Halen juga tidak mengenal dia, tidak pernah bertemu, dan mungkin 'darah Indonesia-nya' sangat jauh dari orang tersebut secara etnis. Tapi konsep 'negara Indonesia' itu membuat ia merasa punya ikatan dengan sang gitaris yang sangat mbule itu.

Tahap selanjutnya, seringkali diciptakan mitos-mitos sebagai perekat dan untuk pencapaian tujuan tertentu kelompok tersebut. Aksi kepahlawanan, kemampuan super-human, dan cerita-cerita keunggulan lain muncul, lalu diceritakan secara turun temurun. Ada opini bahwa kejayaan Majapahit dulu yang disebut memiliki kekuasaan lebih luas daripada wilayah Indonesia saat ini merupakan glorifikasi atas kejayaan Nusantara yang dibuat untuk membangkitkan kepercayaan diri rakyat Indonesia. Bahwa bangsa Nusantara (yang kemudian menjadi Indonesia) adalah bangsa yang besar.

Pada saat itu kepercayaan diri tersebut memang penting untuk membangkitan semangat melepaskan diri dari penjajah. Padahal, jika dianalisis secara obyektif, sangat sulit kerajaan Majapahit yang berada di Jawa Timur sekarang, dengan penduduk yang maksimal hanya beberapa juta orang dan teknologi saat itu, untuk dapat mempenetrasi wilayah-wilayah di Sumatera dan Sulawesi, misalnya, atau wilayah-wilayah sulit dijangkau lainnya apalagi menaklukkannya.

***

Saya pernah berfikir bahwa di zaman informasi terbuka seperti saat ini, mitos-mitos buatan orang zaman dahulu akan memudar dan ditinggalkan orang. Hal ini karena dengan kemampuan kognitif manusia yang semakin berkembang dan kemajuan internet sehingga informasi lebih mudah diperoleh, orang-orang akan mudah mengecek fakta. Kalau zaman dulu okelah, pemikiran, pengalaman manusia masih terbatas dan informasi susah didapat. Tidak heran banyak berkembang cerita-cerita aneh seperti "Kutukan Tutankhamen", "Misteri Segitiga Bermuda", "Anak Durhaka Dikutuk Jadi Ikan Pari" dan lain sebagainya.

Seseorang bilang, "Dulu UFO sering mampir ke bumi. Sekarang ketika setiap orang pegang kamera, tidak ada lagi UFO yang datang". Itu karena dulu memverifikasi foto-foto yang diklaim sebagai foto UFO itu sangat sulit. Jika sekarang alien benar datang, orang akan mudah mengambil foto dengan kamera HPnya.

Namun sepertinya pemikiran saya keliru, setidaknya sampai saat ini. Di era modern sekarang, masih ada orang-orang yang percaya hal-hal aneh yang seharusnya bisa diragukan kebenarannya dengan mudah. Masih banyak yang langsung menelan mentah-mentah informasi sepihak tanpa berfikir kritis terlebih dahulu. Banyak yang percaya bahwa uang bisa digandakan, dapat imbal besar dengan modal kecil tanpa bekerja, pertemuan dihadiri 10 juta orang di tempat terbatas, dan sebagainya. Tidak mengherankan banyak yang menjadi korban penipuan massal seperti korban Kanjeng Dimas, Annisa Hasibuan & Andika, dan lain sebagainya. Tidak terlalu berbeda dengan masyarakat di Afrika Selatan yang ditipu oleh Alph Lukau yang mengaku bisa menghidupkan kembali manusia yang sudah meninggal.

Situasi ini menunjukkan fenomena yang cukup menarik. Perkembangan teknologi yang pesat tidak diikuti dengan kemampuan kognitif yang setara. Perangkat dan jalur informasi seperti handphone dan aplikasi seperti whatsapp, alih-alih meningkatkan pengetahuan, justru jadi instrument penyebaran hoax dan mitos-mitos tersebut. Hal ini menciptakan "teknonitif gap", yaitu kesenjangan antara teknologi modern dengan kemampuan kognitif pengguna yang masih di belakang. Kata orang bule, "smart phones, dumb people". Masih terjal tantangan pendidikan agar mindset dan kemampuan kognitif sebagian orang agar gap ini bisa dikurangi.