Tiga minggu lalu kami ke Jalan Barito, Jakarta Selatan (selanjutnya kita sebut Barito saja) untuk cari kucing peliharaan untuk dibeli (diadopsi, istilah pecinta kucing). Sudah beberapa lama anak-anak minta kucing, setelah kucing mereka mati. Kucing Himalaya jantan pemberian pecinta kucing, bulunya panjang, bulu ekornya mengembang, pokoknya baguslah, sayang suka keluar rumah main sampai malam (katanya karena jantan). Matinya ketahuan setelah hujan ada seonggok putih di pekarangan rumah kosong tetangga, ternyata dia. Diagnosa kami dia mati karena minum sembarangan sehingga terkena diare, karena tidak ada tanda kekerasan (karena berkelahi atau lainnya) atau kecelakaan di tubuhnya.
Kembali ke cerita Barito, sebelum pergi saya coba
google dulu untuk cari tau pengalaman orang membeli kucing di sana. Sayang cerita yang ada di internet kurang begitu
telling dan konklusif. Ada beberapa
google review yang bercerita tentang situasi di sana, tapi sangat singkat. Setelah beberapa minggu beli kucing dari sana dan tadi sore ke dokter hewan, saya memutuskan untuk menuliskan pengalaman saya dan saran dokter hewan sehingga netizen yang berencana mengadopsi kucing dari Barito dapat lebih terinformasi dengan baik berdasarkan pengalaman saya ini.
***
Kami sampai di Barito sekitar Minggu siang jam 12 sekitar 3 minggu lalu. Saat itu cukup ramai pengunjung. Setelah melihat-lihat di 2-3
pet store kucing, kami sampai di
pet store yang cukup banyak koleksi kucingnya. Tokonya sendiri berendeng beberapa toko, yang saya tanya katanya pemiliknya sama. Anak-anak antusias masuk memegang dan mengelus kucing. Saya sendiri iya-iya saja ketika disebut oleh penjualnya kucing ini jenis Persia, Himalaya, Peak Nose, Norwegia, dan lain sebagainya karena saya juga tidak mengerti. Yang saya perhatikan lucu dan sehatnya saja, dan itu juga dilihat anak-anak yang akhirnya memilih dua ekor, satu berbulu kuning emas dan satu lagi putih. Umurnya kata Akang penjualnya sekitar 3 bulanan.
Harga penawaran kucing-kucing yang kami tanya berkisar antara 1,2 juta-1,8 juta. Ada juga di atas 2 bahkan 6 juta tapi itu sudah di atas budget, dan anak-anak juga mengerti. Jadi pemilihan kucingnya yang saya izinkan adalah kisaran harga pertama tadi.
Saat anak-anak menimbang-nimbang beli kucing yang mana dan saya menimbang harganya, ada yang cukup menarik saya amati. Penjual ketika memberikan harga (setelah ditanya berapa) selalu bilang, "Silakan ditawar saja" atau "Maunya berapa, bilang saja" seakan-akan pokoknya berapa harganya Ok. Itu perasaan saya. Mereka memang sepertinya ingin cepat me'laku'kan saja koleksinya. Tentunya wajar, karena kucing adalah hewan yang cukup cepat berkembangnya; kalau tersimpan di mereka semakin banyak biaya pemeliharaannya.
Perputaran penjualan kucing yang cukup cepat di Barito saat itu terlihat ketika ada momen saat anak-anak masih menimang-nimang kucing untuk dipilih, seorang bapak dan anak perempuannya datang dan anaknya suka seekor kucing, tidak banyak cingcong atau cengkonek, si bapak langsung membayar, tunai. Ketika saya tanya si penjual dijual berapa, dia bilang Rp 2 juta, dan sepertinya memang begitu ketika mereka menghitung lembaran uang seratus ribu yang diserahkan si bapak.
Momen lain ketika di sana bertemu teman sekolah anak dan orangtuanya yang baru saja bertransaksi mengadopsi kucing di toko lain. Ketika ditanya harganya dia jawab Rp 1,2 dengan keranjang (keranjang harganya sekitar Rp 250 ribu). Jadi kucingnya dihargai sekitar Rp 950 ribu. Saya bilang ke penjual di toko kami tadi, "Nah tuh harganya lebih murah (daripada punya kamu yg ditawarkan Rp 1,5 juta)" Dia jawab, "Benar pak murah, tapi nggak jamin, ntar beberapa hari mati. Kualitasnya beda". Saya yakin saja karena dia juga berani meninggalkan nomor telepon ke saya, kalau saja ada apa-apa dengan kucing yang akan saya beli.
Setelah menimbang-nimbang dan takut juga kalau-kalau kucing yang sudah disukai anak-anak nanti diambil orang, saya menawar 2 ekor, satu betina (katanya Norwegia) satu lagi jantan (Persia Medium). Benar saja, ketika kucing yang ditawarkan Rp1,5 juta dan Rp1,2 (total seharusnya 2,7 juta) juta itu ditambah dengan kandang (ditawarkan Rp 600 ribu) sehingga total seharusnya Rp 3,3 juta saya tawar, tidak terlalu banyak perlawanan dari si penjual. Setelah sedikit basa-basi agar menaikkan tawaran, akhirnya dia sepakat dengan senang hati (dengan menambah bonus kotak pasir untuk tempat eek kucing) menjadi Rp2,1 juta untuk 2 kucing dan 1 kandang besi besar.
***
Setelah di rumah, kucing yang kuning (betina) cukup aktif dan bermain-main. Sementara itu, yang putih (jantan) kurang bergairah.
Fast forward, 3 hari kemudian si putih sudah kuyu, maunya duduk meringkuk saja. Makan tidak bergairah dan suaranya mengeong pelan. Kasihan melihatnya. Tapi saya dan istri bekerja, sehingga tidak bisa membawanya ke dokter hewan. Hari ke-4 atau ke-5, anak saya sudah menemukan dia mati di kandang. Tinggallah si kuning, yang masih lincah dan mengeong-ngeong minta keluar untuk bermain. Sebelumnya di Barito, saran penjual agar kucingnya selama seminggu dikurung dulu di kandang untuk membiasakan mereka sengan suasana baru.
Matinya si putih cukup menyedihkan karena istri dan mbaknya anak-anak sudah berusaha merawat dan menyediakan keperluan mereka. Kandangnya bersih, pasir disediakan yang wangi, makanannya
royal canine sesuai saran si penjual. Tapi sebenarnya istri saya katanya sudah melihat kok si putih sebenarnya tidak begitu aktif waktu di Barito, apakah sakit, tapi apa mau dikata karena anak sudah suka yang itu akhirnya itu yang diambil.
***
Kemudian ceritanya tadi siang kita pergi ke luar dan meninggalkan si Kuning di rumah. Balik sekitar jam 3, saya lihat dia yang biasanya aktif dan suka mengeong sekarang wajah dan matanya kuyu, badan meringkuk dan suaranya pelan. Saya ingat ini ciri-ciri waktu si putih sakit. Setelah bilang ke istri dan anak-anak, kami pun mencari dokter hewan yang buka hari ini, hari Minggu. Untung ada dokter hewan yang buka praktek di sekitar Cijantung. Kami pun bergegas ke sana.
Di tempat praktek dokter hewan tersebut (yang berupa bagian dari sebuah
pet store) kami harus menunggu kaena ada sepasang suami-istri yang sedang mengobati dan konsultasi tentang kucing mereka. Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya giliran si kuning diperiksa, dan diagnosa dokter hewannya si kuning terkena virus. Si kuning pun di beri makan oleh dokter, dikasih obat (antibiotik) dan kami diminta nanti beli
imboost (multi vitamin itu) untuk diberikan ke si kuning untuk memperbaiki sistem pertahanan tubuhnya.
Saat diberitahu bahwa si kuning diadopsi dari Barito, si dokter bilang pantas... memang (pada saat ini) banyak kucing dari Barito yang kena virus, begitu pula kucing suami istri yang baru pulang tadi yang juga dibeli di Barito. Kucing mereka padahal sudah diinfus
but unfortunately he did'nt make it setelah dirawat seminggu. Ada 2 kucingnya dari Barito yang akhirnya mati. Penuturan sang dokter, ada sekitar 6 kucing dalam seminggu ini yang datang ke dia yang kasusnya sama yaitu diadopsi dari Barito.
Setelah menjelaskan cara-cara merawat si kuning, ada beberapa saran dokter hewan tersebut yang diambil pengalaman untuk mereka yang berencana mengadopsi kucing dari Barito sebagai berikut:
- Kalau membeli kucing, buat perjanjian ke penjual agar kucing bisa ditukar jika dalam 2-3 hari sakit
- Sumber adopsi kucing ada 3: hobbyist, peternak, dan pedagang. Hobbyist adalah mereka yang memang menyukai kucing dan merawat mereka dengan baik. Ada riwayat kesehatan, vaksin, keturunannya dan lain-lain, sehingga kucingnya biasanya lebih jelas dan sehat. Sementara itu peternak adalah mereka yang hanya mengembangkan kucing untuk kepentingan bisnis, begitu pula pedagang. Dengan begitu, lebih aman untuk mengadopsi kucing dari hobbyist; namun harganya menjadi berlipat-lipat, dan mereka bahkan selektif memilih pembelinya.
Penuturan dokter hewan virus yang ada di kucing sebenarnya juga adalah bawaan dari induk-induknya terdahulu, sehingga riwayat keturunannya (yang biasanya dimiliki oleh hobbyist) penting untuk keperluan kesehatan sang kucing.
Saya sudah bilang ke istri dan anak-anak kalau si kuning tidak bisa bertahan kita tidak akan mengadopsi kucing lagi, kasihan sepertinya kita masih belum bisa merawat hewan peliharaan dengan baik. Sebenarnya ada pula teman istri yang sudah bersedia memberikan salah satu kucingnya kepada kami untuk diadopsi, tapi dibatalkan saja untuk saat ini.
Doakan semoga si kuning sembuh yah.
###
Update: Akhirnya si Kuning menyusul si Putih, hari selasa malam, 9 April 2019, tepat ketika kami sudah bersiap-siap berangkat ke RSH Ragunan membawanya.
===
Catatan:
Si kuning dan si putih ada namanya diberi anak-anak, tapi untuk di sini saya tulis saja seperti di atas.