Minggu, 02 Juli 2017

Ritual Memanggil Tuyul

Pulang ke kampung halaman saat lebaran kemarin dan bertemu teman-teman masa kecil mengingatkan saya sewaktu dikenal sebagai pemanggil tuyul di lingkungan di kota kelahiran.

Memanggil tuyul di sini bukan seperti orang memanggil jailangkung atau seperti di film Jumanji itu. Sekarang perbuatan semacam ini lebih dikenal sebagai "prank".

Saya sendiri kena prank ini saat SMA oleh kakak sepupu, selanjutnya beberapa tahun kemudian iseng saya tawarkan kepada teman di lingkungan dan ndilalah berhasil.

Biasanya teman-teman yang sudah "melihat tuyul" itu menceritakan pengalamannya dengan semangat kepada yang lain, begitu seterusnya seperti MLM, hingga hampir semua teman-teman ikut. Ketika iseng saya lakukan waktu KKN di sebuah desa di Kabupaten Labuhan Batu, peminat menjalar sampai dari desa tetangga.

Syarat pemanggilan tuyul ini tidak banyak, hanya lilin (dan korek/mancis untuk menyalakannya), piring kaleng (atau apapun wadah berbahan kaleng) dan dilakukan malam hari. Kalau mau lebih seru sebenarnya bisa didramatisir: minta bunga atau kemenyan sekalian.

Biasanya korban yang "sudah melihat tuyul" kemudian menceritakan kepada yang lain yang kemudian datang dan minta diperlihatkan juga.

Sebenarnya seringkali saya menolak, mungkin karena ada perasaan geli karena bakal ada korban (lagi), dan tidak semua orang bisa terima. Hanya karena mereka yang mengendorse biasanya semangat sekali dan calon korban juga mendesak, antara rasa penasaran dan ngeri-ngeri sedap akan melihat hal yang ghoib.

Sebelum setuju dan sebelum melakukan ritual selalu saya tekankan untuk ikut aturan. Jangan membuka mata sebelum diminta, kalau tidak tuyulnya tidak akan mau pulang dan risiko ditanggung sendiri. Semakin takutlah mereka.

Sebelum ritual dilakukan pada malam harinya, terkadang suasana mistis dibangun dulu oleh teman yang mengendorse. Saat di KKN misalnya, sebelumnya kita ngobrol-ngobrol tentang hantu dan tentang jalan di gang sebelah yang banyak pohon pisang yang sering bergoyang-goyang malam hari. Konon katanya di sana sering ada penampakan kuntilanak.

PROSESI MENGUNDANG TUYUL

Prosesi memanggil tuyulnya sendiri sederhana. Peserta diminta duduk melingkar, tangan menengadah dalam posisi berdoa, dan picing mata rapat-rapat. Jangan sampai dibuka sebelum diperintahkan dan tuyulnya menampakkan diri. Lalu pemanggil tuyul (pura-puranya) berdoa lalu mereka diminta meng-aminkan sambil mengusap kedua tangan ke muka.

Yang terjadi adalah, saat mereka menutup mata, pemanggil tuyul membakar pantat/lapisan bawah piring kaleng hingga hitam/berjelaga. Lalu jelaga itu diambil dan diusapkan ke tangan para korban. Setelah semua dapat bagian lalu pemanggil tuyul bilang "aamiin".

Dengan takzim para korban dengan mata dipicingkan rapat-rapat (seringkali wajah sudah berkeringat, mungkin karena takut) akan mengikut: "amiin" dan mengusap wajahnya dengan tangannya yang sudah diolesi jelaga itu.  Ini dilakukan berulang kali. Hasilnya coreng-morenglah wajah mereka. Di saat-saat seperti itu dibutuhkan kekuatan mental "pemanggil tuyul" dan teman pengendorse untuk menahan tawa.

Setelah semua dapat bagian dan wajah sudah pada hitam, baru "pemanggil tuyul" berkata "Sudah, buka matanya". Dengan wajah takut, harapan akan melihat tuyul dan mata terpicing beberapa lama, reaksi mereka bermacam-macam. Biasanya butuh beberapa saat bagi mereka yang berani untuk sadar dan tertawa sudah dikerjai saat melihat wajah teman sebelahnya sudah hitam belang-belang. Tapi, ada juga yang saking takutnya, begitu buka mata langsung melompat ketakutan. Ada pula korban yang langsung lari terbirit-birit hahaha....

Berapa success rate saya melakukan prank ini? Angkanya sangat meyakinkan, 100%. Semua yang datang berhasil jadi korban. Buat saya ini tentu mengejutkan, karena saya tidak punya riwayat soal klenik dan tuyul menuyul, namun anehnya mereka percaya saja. Korbannya bermacam-macam, mulai teman-teman laymen/rakjel, mahasiswa, preman kampung, sampai sarjana.

Masih terekam dalam benak saya seorang teman yang saat itu sedang liburan kuliah dari Bandung setelah selesai dikerjai memukul-mukul tembok sambil bilang "Kok bisa... kok bisa...(percaya)" sementara kami yang lainnya tertawa-tawa terpingkal-pingkal.

Dari seluruh peserta, tidak ada satupun yang mencoba membuka mata saat prosesi dilakukan dan melihat apa yang terjadi. Andai saja ada yang "rebellious", anti mainstream dan berani mengintip, tentu dia akan melihat saya mengintip-intip pantat piring di atas lilin apakah sudah cukup hitam atau belum sambil menahan tawa.

Walaupun kalau ada yang berani tapi ketahuan ngintip, tentu akan mudah disalahkan, karena dia (mengintip) membuat tuyulnya gak jadi datang. Dan tentu teman-teman yang lain marah ke dia. Pokoknya serba salahlah D.

Begitulah. Sekarang setelah saya pikir-pikir, bukan pelaku prank, tapi pemikiran korban sendirilah yang lebih banyak berperan sehingga membuat mereka menjadi korban. Ini seperti psychological trick (trik psikologis). Tumbuh dengan percaya cerita-cerita mistis selama ini, kemudian dicampur ketakutan yang dibangun membuat mereka kehilangan akal sehat untuk berfikir secara logis. Ketidaktahuan memang jadi bahan dasar untuk rasa takut, dan orang yang ketakutan sangat mudah dimanipulasi sehingga bisa mengikuti perintah-perintah tanpa perlawanan.