Sementara di Australia, terasa benar bahwa pemerintahnya berusaha mencegah kecelakaan. Di website Department of Transport Western Australia, misalnya, bisa di-download peraturan dan tata cara berkendara (termasuk bersepeda) dan berjalan kaki yang aman buat kita dan orang lain. Mulai dari membaca rambu lalu lintas sampai bagaimana harus bersikap di situasi tertentu. Garis pembatas di jalan jelas, lampu lalu lintas tidak ada yang mati. Apabila ada perbaikan jalan, jauh-jauh sudah dibuat tanda. Pengemudi juga "dipaksa" menggunakan sabuk pengaman (padahal untuk keselamatan sendiri) kalau tidak mau didenda AUD 500 (sekitar Rp 5 juta). Pengemudi yang pasfoto di SIM-nya menggunakan kacamata, apabila tertangkap sedang mengemudi tidak menggunakan kacamata juga akan didenda.
Di Indonesia, berita kecelakaan rasanya setiap hari ada. Bukan hanya pada saat aktifitas manusianya padat seperti hari raya, tapi juga hari-hari biasa. Tidak jarang mengambil korban nyawa. Banyak jiwa yang hilang sia-sia, mungkin karena kelalaian yang seharusnya bisa dicegah. Hal yang paling terasa dari perbedaan di Indonesia dan di negeri maju itu adalah betapa murahnya nyawa manusia di negeri kita. Sementara disana betapa berharganya. Betul, disana rasanya sangat jarang membaca berita-berita yang menyedihkan seperti itu.
Ada banyak hal yang membuat perbedaan itu saya kira. Apakah ekonomi, hukum, atau budaya. Tapi saat ini saya tidak akan mengumpulkannya, mungkin hanya beberapa contoh saja. Misalnya beberapa waktu lalu seorang pengendara sepeda motor tewas di jalan Sudirman, Jakarta, saat menghindari lubang jalan dan kemudian disambar metromini (fasilitas publik yang buruk). Kasus Afriyani dan Rasyid Rajasa yang baru nyabu dan begadang tapi masih mengemudikan mobil. Atau kejadian mobil kecebur bundaran HI yang bolak-balik terjadi (mungkin polisi dan Pemprov yang tak mau belajar dari kejadian terdahulu untuk mencegah terjadi lagi, atau memang tidak peduli, wallahu a'lam).
Saya ingin menulis tentang cerita diatas terkait dengan manajemen risiko (risk management) yang minimal bisa kita perbuat. Saya pernah mengurus administrasi manajemen risiko saat di Tata Usaha kantor dan ikut workshop manajemen risiko beberapa kali. Hitung-hitung catatan ini sumbangan dari kegiatan saya yang waktu itu menggunakan uang publik. Mudah-mudahan dapat berguna bagi anda yang membacanya.
Internalisasi Manajemen Risiko
Setiap kali kita melakukan sesuatu, kita ter-ekspose kepada risiko. Bahkan saat tidur sekalipun. Yang membedakan adalah tingkat risiko itu: kemungkinan terjadi (probabilitas), dan dampak-nya. Dengan mengetahui risiko, kita bisa mengantisipasinya, mengatasinya, atau mengurangi dampaknya jika memang harus terjadi. Kira-kira itulah manajemen risiko.
Manajemen risiko ini skop dan spektrum-nya ya sangat luas, dari individual, program/proyek, perusahaan, sampai negara (ada yang disebut manajemen risiko fiskal). Disini saya lebih menulis tentang manajemen risiko individual.
Setiap orang sebenarnya sudah menerapkan manajemen risiko, walaupun dalam hal berbeda ataupun skala berbeda. Beberapa orang misalnya membawa payung saat bepergian. Ada yang membeli power-bank, jaga-jaga kalau baterai smartphone habis saat main diluar. Ada yang walaupun tidak bakal ketemu polisi di jalanan, tetap menggunakan helm yang kuat untuk mengurangi dampak risiko jika suatu hal yang tak diinginkan terjadi.
Tapi, hal yang terpenting dari manajemen risiko itu adalah bagaimana dia terinternalisasi di diri kita. Sudah sadar, dilakukan secara sistematis, dan diterapkan dalam banyak hal.
Di kita mungkin pernah terjadi kita tidak bisa menepati suatu janji karena ternyata.... kita sudah punya janji sebelumnya pada saat yang sama. "Waduh maaf saya ternyata saat itu harus pergi menenami anak saya" itu mungkin kalimat yang familiar pada saat membatalkan janji.
Orang Jepang, termasuk mahasiswanya, sangat jarang salah janji seperti itu. Salah satu sebabnya adalah, saya kira, karena mereka mempraktekkan manajemen risiko yang lebih baik daripada kita. Apa itu? Mereka biasanya punya buku agenda atau buku notes. Setiap kali berjanji, mereka akan menuliskannya di buku itu. Tanggal berapa, jam berapa, dan dimana. Dengan menulis itu mereka mencatat dan melihat apabila ada jadwal mereka yang bertabrakan. Bukan seperti saya yang hanya mengandalkan ingatan yang lebih besar kemungkinan lupanya.
Untuk keselamatan, masinis kereta api Jepang beberapa kali saya lihat melakukan pengecekan lingkungan secara fisik. Ini setiap kali sebelum jalan selesai berhenti di tiap stasiun. Mereka bukan hanya melihat dengan pandangan, tapi juga mengarahkan telunjuknya (menunjuk) ke beberapa arah, kanan, kiri, kemudian depan, untuk memastikan bahwa semua sisi clear (aman). Mungkin terasa lebay jika kita sesaat sebelum berangkat menunjuk posisi dompet, hp, jam tangan, kunci, tas supaya tidak tertinggal. Tapi tidak ada yang lebay soal keselamatan orang. Mungkin salah satunya karena itu walau ratusan kereta api bersliweran di Jepang tapi kecelakaan sangat minim sekali.
Begitu juga dengan "nasib" Jepang sebagai negara rawan gempa. Mereka terbiasa melakukan simulasi apabila terjadi bencana (saya pernah ikut). Titik-titik evakuasi setiap hari bisa dilihat dengan jelas di jalan. Bahkan mereka punya tas khusus yang diletakkan di tempat tertentu yang mudah dijangkau yang berisi survival kit sewaktu-waktu apabila gempa terjadi.
Indonesia sebagai negeri yang rawan bencana juga seharusnya begitu. Misalnya saya kira tidaklah berlebihan kalau di setiap acara, sebelum acara dimulai, pembawa acara mengumumkan tentang langkah-langkah evakuasi. Dimana pintu exit, dan kemana harus keluar. Gempa Sumatera beberapa tahun lalu yang memerangkap peserta seminar di sebuah hotel di Padang (mereka salah arah, meyelamatkan diri ke arah kolam renang di tengah yang dianggap lebih terbuka, padahal pintu exit keluar hotel ada di sebelah lainnya dan akhirnya tertimbun reruntuhan yang jatuh ke tengah) dan akhirnya menewaskan mereka seharusnya jadi pelajaran buat kita.
Menerapkan Manajemen Risiko
Kesan yang saya dapat dari seminar manajemen risiko beberapa perusahaan besar, pihak pengelola manajemen risiko dalam perusahaan itu biasanya "tidak favorit" di kalangan perusahaan. Ya siapa juga bos atau kolega yang nyaman atau senang diingatkan tentang hal-hal buruk, bencana dan kemungkinan-kemungkinan negatif lainnya. Orang lebih suka - dan juga umum dipercaya - berita-berita positif lebih baik sehingga membawa ke arah yang positif. Ber-positive thinking diyakini lebih membawa kebaikan daripada ber-negative thinking.
Tapi manajemen risiko diyakini bukanlah soal negative thinking. Ini adalah soal pengelolaan risiko yang mau tak mau selalu ada di setiap kegiatan dan tindakan. Di setiap risiko ada peluang. Di setiap peluang ada risiko. Jika terhadap peluang itu diambil tindakan, penting untuk mampu mengelola risiko itu.
Sejalan dengan itu, saya percaya penting belajar dan mengaplikasikan manajemen risiko untuk setiap individu. Mungkin tantangan paling besar di kita adalah pandangan orang. Misalnya dulu sebelum sabuk pengaman diwajibkan, saya sudah pakai, yang diketawai kawan saya haha.... Mungkin ada juga yang bilang pilot tidak perlu cek urine, karena itu pilot Lion Air ketahuan nyabu masih selamat juga kok. Tapi soal selamat atau tidak itu di belakang, yang pertama bagaimana kita mengantisipasi risiko atau mengurangi kemungkinannya seminimal mungkin.
Sebenarnya, ada cara mudah untuk menerapkan manajemen risiko di diri kita. Tapi mendapatkannya belum tentu mudah. Atau tergantung nasib. Yaitu dengan punya otoritas yang peduli dan memaksakan manajemen risiko kepada kita.
Ambil contoh di negara maju. Pemerintah biasanya memaksa agar sabuk pengaman digunakan secara benar. Termasuk di Australia, anak-anak harus duduk di belakang menggunakan booster ataupun baby carseat untuk mengurangi dampak risiko tumbukan apabila terjadi. Apabila tidak dilakukan akan menjadi pelanggaran yang dikenakan sanksi. Begitu juga larangan dan pemeriksaan untuk mengemudi kendaraan bermotor bagi mereka yang mengkonsumsi alkohol dalam batas tertentu.
Mau tidak mau, suka tidak suka, warga melakukannya, dan akhirnya ter-internalisasi (terbiasa). Tidak nyaman apabila tidak menggunakan sabuk pengaman. Beberapa teman saya yang pergi dugem atau party di Perth, kalau pergi pakai mobil selalu bawa satu orang yang tugasnya menyetir pulang-pergi, dan dia ini tidak boleh minum alkohol. Biarpun senang dugem dan party begitu, mereka patuh dengan manajemen risiko yang dibuat otoritasnya.
Saya kira peraturan juga dibuat untuk kepentingan mengatur risiko. SIM baru boleh dimiliki oleh orang berumur minimal 17 tahun, sehat, tidak buta warna, adalah salah satu langkah untuk menghindari risiko bahaya di jalanan. Begitu juga larangan untuk mengemudi kendaraan bermotor apabila dalam keadaan mabuk atau hal lain yang bisa mengganggu lainnya.
| Sesi "Keep Safe" dengan Polisi Western Australia di Orientasi Mahasiswa baru ADS 2013, Curtin University. |
Sayang kita tidak memiliki otoritas se-peduli itu,paling tidak dalam hal penerapan dan sanksi-nya. Paling tidak saat ini. Biarpun ada peraturannya, kenyataannya banyak hal terserah kita. Mau pakai helm silahkan, tidak pakai masih bisa kok kemana-mana bawa motor. Kalaupun tertangkap sanksinya juga tidak membuat jera. Mengemudi kendaraan bermotor harus punya SIM, tapi tidak punya juga tidak terlau diperhatikan. Jarang ada random check (razia) yang benar-benar mengena ke banyak orang. Padahal ini juga menyangkut kepentingan dan nyawa orang lain. Tak heran kejadian-kejadian sama masih terulang lagi, dan mengambil korban jiwa lagi.
Apa boleh buat. Dengan begitu, untuk saat ini, kita sendirilah yang harus pintar-pintar belajar manajemen risiko. Misalnya menggunakan notes atau MS Outlook untuk mencatat janji. Istirahat secara berkala jika menyetir jarak jauh. Atau berhati-hati jika mengemudi pada dini hari Minggu atau Minggu pagi dimana banyak orang yang tak dikontrol risiko tindakannya berkeliaran di jalan raya seperti kasus-kasus sebelumnya (orang pulang nyabu/dugem). Atau juga jangan berfoto-foto di depan Bundaran HI, karena selalu ada risiko mobil yang nyemplung lagi!
Kita tidak bisa mencegah sesuatu yang di luar kendali kita. Tapi kita masih bisa mengelola risiko yang mungkin terjadi. Statistic doesn't lie: jumlah kejadian di Jepang, Australia dan Indonesia yang begitu berbeda, bukanlah karena mereka lebih hebat. Tapi salah satunya karena hal-hal kecil - seperti manajemen risiko - yang mereka lakukan secara lebih baik.