Saya baru saja menonton "The Tale of Princess Kaguya" (TOPK) di Netflix. Seperti film-film Animasi Studio Ghibli lainnya, sinematografi film ini sangat keren. Gerakan tokohnya riil dan roh ceritanya begitu terwakili.
TOPK adalah cerita rakyat Jepang tentang seorang putri yang ditemukan dari dalam bambu (sehingga dipanggil anak lain teman-temannya sebagai "Kakenoko" atau Anak Bambu) oleh seorang pengrajin bambu yang lalu membesarkannya berdua dengan istrinya. Berbekal petunjuk ayng diperoleh si pengrajin dan emas di pohon bambu lain di sekitarnya, mereka pindah ke kota dan menaikkan status sosial menjadi bangsawan, sampai Kanenoko menjadi Puteri yang diberi nama "Kaguya". Karena kecantikan dan tutur adatnya, banyak bangsawan yang terpesona dan ingin melamar termasuk akhirnya Kaisar.
***
Ketika saya akan berangkat ke Jepang sekitar tahun 2006, salah satu pertanyaan yang cukup sering disampaikan ke saya adalah apa agama orang Jepang. Yang tahu biasanya menyebut Shinto, dan itu benar adanya. Di Jepang banyak dibangun kuil Shinto yang disebut Tera, yang berbeda dengan kuil Buddha (di Jepang juga ada sebagian pemeluk Buddha).
Namun ketika pengetahuan saya mengenai sejarah agama-agama sedikit bertambah, saya baru tahu ternyata "agama Shinto" berbeda dari konsep agama yang sebelumnya saya pahami. Di Indonesia sejak kecil kita mengenal 6 agama, yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Dari 6 agama resmi itu, 3 agama yang disebut pertama, agama Abrahamik, memiliki jumlah pemeluk lebih dari 90% dari penduduk Indonesia, sehingga menanamkan pengaruh besar pada pemikiran masyarakat. Dari pemahaman ketiga agama ini dapat ditarik benang merah bahwa agama adalah konsep keimanan adanya Tuhan Sang Pencipta yang disembah dengan aturan-aturanNya demi kebaikan hidup manusia dan keselamatan sesudah mati. Itu konsep keyakinan yang menurut pakar sejarah diturunkan oleh Ibrahim sekitar 2.000 SM atau sekitar 4.000 tahun lalu.
***
Untuk menjelaskan perbedaan konsep "agama" Jepang dengan lebih mudah, saya meminjam cerita Prof Richard Holloway di bukunya "A Little History of Religions" mengenai berbagai keyakinan. Seluruh keyakinan umumnya memiliki cerita yang disebut "kreasionisme" atau konsep penciptaan manusia dan semesta ini. Menurut Yahudi misalnya, Tuhan mencipatakan alam semesta dalam waktu 6 hari, dan kemudian di hari ke-7 beristirahat. Seluruh manusia saat ini merupakan keturunan Adam dan Eve (atau dalam Islam Adam dan Hawa), yang diciptakan Tuhan dari tanah.
Jepang juga memiliki kisah kreasionisme mereka sendiri. Awal mulanya di alam ini hanya ada air, lalu Dewa Izanagi dan istrinya Dewi Izanami mengaduk dasar air dengan tombak, sehingga terbentuklah pulau-pulau Jepang. Pasangan dewa-dewi ini memiliki 3 anak: Dewi Matahari, Dewa Bulan dan Dewa Badai. Dewi Matahari memiliki anak dan cucunya kemudian menjadi Kaisar Jepang. Karena itu Kaisar Jepang adalah cucu Dewa Matahari.
Konsep kreasionisme Abrahamik meyakini bahwa penciptaan manusia dan alam adalah untuk keseluruhan umat manusia, yaitu semesta yang diciptakan adalah untuk manusia dan Adam dan Hawa adalah kakek nenek mereka, mulai dari kutub utara sampai kutub selatan. Berbeda dengan hal tersebut, orang Jepang meyakini Dewa menciptakan mereka saja. Diduga ini karena letak Jepang yang terkucil. Bahkan tetangga mereka, Tiongkok baru memiliki kontak dengan Jepang sekitar abad ke-6 Masehi. Orang Jepang dahulu tidak sadar ada orang lain di luar kepulauan mereka.
Selain eksklusifitas itu, ada pula perbedaan yang mendasar dengan keyakinan-keyakinan lain pada umumnya. Jika di keyakinan lain Tuhan/Dewa memiliki tahta atau bersemayam di "atas"/langit/surga, sementara manusia tinggal di dunia tengah/bumi (earth), dewa-dewi Jepang diyakini tinggal bersama-sama manusia di pulau-pulau Jepang tersebut. Roh/spirit tinggal di alam dan berdiam pada unsur-unsur alam seperti gunung (Gunung Fuji merupakan gunung tersakral/keramat), pohon, sungai, laut, dan sebagainya.Karena itu tidak heran Jepang memiliki romantisme kepada alam yang sangat kental. Kuil yang didirikan di hutan dan alam lainnya seperti di pantai/ambang laut merupakan simbol penghormatan dan terima kasih mereka pada roh/spirit yang berdiam di sana. Princess Kayuga gundah ketika tuntutan budaya dan keinginan orang-orang akan dirinya yang merusak alam. Di film-film Ghibli lainnya seperti "My Neighbour Totoro" dan "Princess Mononoke" hal ini juga kelihatan. Di "My Neighbour Totoro" dikisahkan satu keluarga pindah ke sebuah desa dan menempati rumah tua dengan pohon raksasa di depannya. Ketika ada roh/spirit yang muncul di rumah dan pohon tersebut, bukannya takut, dua anak perempuan keluarga tersebut malah memanggil dan berteman dengan mereka.
***
Dalam antropologi budaya, agama Jepang itu disebut sebaga animisme. Bagi orang Jepang sendiri, hal itu bukan agama, tapi memang itulah pandangan mereka tentang diri mereka sendiri dan alam. Karena keyakinan itu alami belaka, mereka tidak punya istilah dan tidak tahu apa namanya. Setelah pengaruh Cina masuk ke Jepang membawa ajaran spiritual yang memiliki nama, Buddhisme dan Taoisme, baru mereka ikut menamai konsep keyakinan mereka itu, yang dinamai Shin-to, yang berarti Jalan (-to) Dewa (shin). Demikianlah disebut agama Jepang itu Shinto, yang sebenarnya bukan agama jika kita melihat dari perspektif keyakinan mayoritas masyarakat di Indonesia.
Kalau di Indonesia, animisme disebut sebagai kepercayaan nenek moyang dahulu kala. Namun di Jepang, keyakinan itu masih eksis sampai sekarang. Dulu ada upaya misionaris untuk meng-convert masyarakat Jepang, tapi kemudian digagalkan oleh penguasa kala itu.