SOTO
Hampir seluruh penduduk Indonesia kenal dengan soto. Makanan berkuah ini ada di banyak daerah di Indonesia dengan masing-masing variasinya. Ada soto Medan, soto Padang, soto Banjar, soto Betawi, soto Lamongan dll. Di Makassar dikenal dengan nama coto. Tapi adakah yang tau darimana asal-usulnya? Tidak banyak saya kira jadi saya bagikan.
Alkisah zaman dulu, berangkatlah sejumlah orang dari Sumatera Barat untuk merantau ke Jakarta. Seperti kita tau orang Minang dari dulu sampai sekarang suka merantau. Mereka pergi naik bus yang dulu disebut oto. Berangkat sore hari dari terminal di Padang.
Singkat cerita saat dalam perjalanan hampir tengah malam, oto tersebut mogok di jalan di tengah hutan Sumatera. Supir dan kernet berusaha memperbaiki tapi tanpa hasil karena ada onderdil yang harus diganti. Tidak ada alat komunikasi. Mereka terpaksa menunggu oto lain yang lewat jalan itu menuju Padang untuk mengabarkan tentang kondisi mereka dan mengirim onderdil dan montir dari sana.
Malampun akan berganti pagi. Para penumpang sudah lapar sementara mereka terjebak di tengah hutan. Penumpang sepakat untuk masak bersama-sama. Lazimnya orang merantau pada zaman itu, untunglah peralatan masak juga ikut dibawa. Ada kuali, panci, dandang dan lain-lain. Ada juga yang membawa bekal beras, garam, dan, saat itu, dendeng. Kayu bakar diambil dari sekitar dan air dari sungai yang dekat.
Bahan-bahan pun dikumpulkan, dicampur dan dimasak. Karena penumpang cukup banyak, maka disepakati makanan yang dibuat dengan banyak air sehingga cukup untuk banyak orang dan dimakan bersama nasi. Terciptalah suatu kreasi makanan baru. Fast forward, para penumpang pun senang dan bisa makan sekaligus untuk siang itu ketika bantuan dan onderdil dari Padang sudah datang.
Awak oto dan seluruh penumpang bersuka-cita karena bisa kembali melanjutkan perjalanannya. Di antara penumpang ada yang menanyakan, kita beri nama apa makanan lezat yang kita buat bersama-sama tadi? Seseorang usul karena dibuat bersama-sama oleh penumpang bus (oto), maka dinamakan saja makanan sa-oto (satu bus). Begitulah, akhirnya makanan tersebut disebut saoto. Sekarang, karena lebih mudah, nama itu berubah menjadi "soto". Dari sebuah peristiwa tak sengaja namun bersejarah itulah soto tercipta yang kemudian tersebar ke banyak penjuru Indonesia.
GAJAH MADA
Gajah Mada adalah tokoh nusantara yang sangat dikenal oleh orang Indonesia yang bahkan namanya diabadikan menjadi nama salah satu universitas tertua di negeri ini. Gajah Mada banyak dikenal dengan sumpah Palapa-nya, klaim keberhasilan menyatukan nusantara di bawah kerajaan Majapahit, dan juga intrik yang berujung perang Bubat antara Majapahit dan kerajaan Sunda. Tapi tidak banyak yang tau bahwa Gajah Mada sendiri asalnya dari Sumatera, tepatnya Tapanuli.
Saat Majapahit sudah berkembang tapi belum menjadi kerajaan adikuasa di wilayah nusantara, dua orang sahabat dari Tapanuli merantau ke Majapahit yang salah satunya satu bernama Gajah. Zaman dulu orang sering disebut dengan atribut yang dimiliki, seperti si Kancil untuk orang yang cerdik, si Keong untuk orang yang lamban dan sebagainya. Si Gajah disebut begitu karena badannya yang besar. Namun selain berbadan besar, Gajah juga seorang pemuda yang rajin bekerja dan cerdas. Adapun nama temannya sejarah tidak sempat mencatat karena hilang ditelan zaman, mungkin akibat kemalasannya.
Singkat cerita sampailah mereka di kotaraja Majapahit. Mereka diterima bekerja sebagai pegawai kerajaan. Tapi garis tangan menentukan bahwa Gajah karirinya melesat, dipercaya menjadi abdi dalam dan kepercayaan petinggi. Ini karena kerja kerasnya dan kecerdasannya. Sebaliknya, teman si Gajah sangat malas bekerja.
Seringkali saat sahabat si Gajah disuruh, bukannya melakukan perintah, dia malah berkata, "Ah si Gajah mada" (dalam bahasa Tapanuli, yang artinya "ah si Gajah sajalah" (yang mengerjakannya)". Begitu selalu, berulang-ulang. Jika disuruh, "ah si Gajah mada". Si Gajah fine-fine saja karena nama tidaklah terlalu penting bagi dia, yang penting kerja, kerja, kerja. Orang-orang Majapahit dengan begitu mengira bahwa nama si Gajah adalah Gajah Mada, sehingga nama itulah yang dikenal.
Demikianlah, Gajah (yang kemudian dikenal dengan Gajah Mada) akhirnya sukses meniti karir dan menempati posisi tertinggi sebagai Mahapatih yang memimpin Bhayangkara di kerajaan tersebut, sebuah posisi karir tertinggi dalam kerajaan.
Sejarah ini dapat dibuktikan dengan menelisik struktur wajah Gajah Mada yang lebih mirip wajah orang Tapanuli daripada Jawa. Terlebih lagi, seperti dicatat sejarah, banyak orang Tapanuli banyak yang mencapai posisi tinggi dalam karir namun seringkali tidak sebagai pemimpin nomor 1 di dalam negara (misalnya Adam Malik), dan, Gajah Mada berani dan sangat loyal pada atasan.
Catatan Penting:
Saya bukan ahli sejarah jadi tulisan di atas jangan terlalu dipercaya. Kedua cerita ini pun saya dapat dari orang.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Ramai berita tentang Waka DPR yang anaknya diminta dijemput oleh KJRI New York mengingatkan saya sebuah kata "Kopasjiba" yang say...
-
Saya sedang kembali ke apartmen kampus ketika berpapasan dengan seorang pria bule yang menuju Curtin Oval, lapangan sepakbola kampus. Meliha...
-
Kita yang bukan penutur asli bahasa Inggris mudah keliru mengartikan Moral Hazard . Saya dua kali mendengar orang menyebutkan istilah itu t...