Minggu, 29 Juli 2012

Membalas Sayang Ibu


Pada suatu hari datanglah seorang laki-laki ke Rasulullah SAW. Dia seorang pedagang sukses - kalau sekarang, kira-kira adalah seorang businessman. Dia berkata pada nabi, "Ya Rasulullah, aku ingin meminta nasihat padamu". "Silahkan," kata nabi. "

"Aku ini pedagang. Dan apa yang kudapatkan, setengah kuberi ibuku. Jika aku mendapat 1000 dirham, 500 dirham kuberikan pada ibuku. Berapa pun yang kudapat, selalu separuhnya kuberikan ibuku".

"Barakallah," kata Nabi. " Semoga hartamu menjadi berkah."

"Tapi," lanjut laki-laki itu, "setelah aku beri, belum sampai beberapa hari, ibuku selalu meminta lagi. Selalu begitu, aku beri separuh penghasilanku, beberapa hari, selalu ibuku datang meminta lagi kepadaku".

Nabi lalu bertanya, "Lalu, apakah engkau memberikannya?". Laki-laki itu terdiam. Ia menunduk tak menjawab. Nabi mendekati laki-laki itu. Dipegangnya janggutnya (memegang janggut adalah tanda sayang - ustadz). "Apakah engkau memberinya?" ulang Nabi.

Laki-laki itu semakin menunduk tak menjawab.

"Anakku," kata nabi. "Seharusnya kau memberikannya, bahkan jangan sampai ibumu meminta".

"Ibumu berbulan-bulan membawamu di dalam rahimnya.

Ibumu berjuang antara hidup dan mati melahirkanmu.

Ibumu memberi darah dagingnya padamu (menyusui).

Engkau diberi makan oleh ibumu, bahkan tanpa dia pernah menghitung-hitungnya. Sepanjang hidupmu engkau dilimpahi kasih sayang oleh ibumu. "

Sungguh mulia posisi seorang Ibu. Ketika ditanya siapakah yang mesti dihormati, Rasulullah menjawab, "ibumu", "ibumu", "ibumu", 3 kali, baru kemudian setelah itu "ayahmu" . Semoga ibu kita selalu diberi rahmat dan kebahagiaan oleh Allah SWT, amiin YRA.

- Seperti kata Ustadz di kultum sehabis sholat Zuhur mesjid kantor.