Setelah menerima surat
pemberitahuan dari ADS tentang beasiswa tahun ini, saya mulai
sedikit-sedikit survey mengenai kota yang saya tuju. Profesor yang mau
menerima saya sebagai mhs nya ada di Curtin University, Perth. Perth ini
disebut sebagai kota paling terpencil di dunia (the most remote city in the world)
dengan kriteria berdekatan dengan kota lain yang berpopulasi >500
ribu orang. Kota terdekatnya adalah Adelaide (Australia, +- 2100 km) dan
Dili (+-2800 km) serta Jakarta (+-3000 km). Cocok, saya pikir, karena
niat saya cuma belajar jadi bukan jalan-jalan. Jadi kalau bosan
jalan-jalannya ke Jakarta atau Medan, hihi..
Namun begitu, Perth juga dipilih sebagai kota paling layak ditinggali (most livable city) dengan urutan ke-8 oleh majalah the Economist, dengan kriteria tersedianya barang dan jasa, efektifitas infrastruktur, dan rendahnya risiko personal (lihat di Wikipedia).
Sebenarnya sekolah bagi saya dimana saja oke, asal ada biayanya, hehe. Tapi itulah masalahnya, makanya saya nyari beasiswa. Melihat jumlah yang ditawarkan oleh ADS ini saya takjub, mungkin sampai pensiun gak bakal bisa sekolah disini. Biaya hidup saja (di luar uang kuliah) sekitar Rp250 juta/tahun, artinya untuk PhD 4 tahun disediakan sekitar Rp1 miliar/orang! catatan: untuk kursus bahasa Inggris saja di PusBah di Perth selama 3 bulan saja uang kursusnya (belum termasuk biaa hidup dan kos-kosan) sekitar Rp50 jt.
Nah setelah survey online ini, baru saya sedikit memahami efek ekonomi industri pendidikan ini. Sebagai salah satu pusat pendidikan, demand untuk akomodasi menjadi sangat tinggi di kota ini. Untuk satu keluarga, 1 atau 2 kamar, harga sewa apartment atau rumah (ada juga rumah kost dengan induk semang di Perth) adalah sekitar 60-70% dari yang diberikan. Ditambah dengan belanja biaya hidup disana, sebahagian besar uang Australia yang diberikan kepada penerima beasiswa sebenarnya kembali ke penduduk Australia dan memutar ekonomi di kota-kotanya. Sungguh brillian. Australia mendapat nilai tambah dengan memilih pelajar/mhs belajar di universitasnya, namun sekaligus menghidupi penduduknya dengan uang mereka.
Itu ditambah lagi dengan pelajar dan mahasiswa mandiri (ratusan ribu pelajar dan mahasiswa Cina belajar di Australia setiap tahun), juga Indonesia (termasuk putra Pak SBY di Perth dan sampai ada film Indonesia 'Love in Perth') yang tertarik bersekolah disana karena Australia serius menanganinya. Untuk diketahui ekonomi Australia utamanya ditopang oleh industri komoditas tambang juga jasa pendidikan.
Saya teringat dulu di kampus saya tercinta USU, banyak mahasiswa asing terutama dari Malaysia. Mereka tentu menjadi salah satu sumber penggerak ekonomi: kos-kosan, makan, transportasi dan belanja lainnya. Bagaimana sekarang situasinya? Apakah sudah terbalik? Mudah-mudahan tidak. Saya ke Kuala Lumpur dan banyak bertemu dengan mahasiswa Indonesia disana. Uang dan otak kita sedikit banyak membantu kemajuan negara tetangga. Mudah-mudahan pemerintah dapat mengembangkan institusi pendidikan kita sehingga bukan saja memperkuat daya saing SDM tapi juga menggerakkan roda ekonomi lebih baik lagi.
Namun begitu, Perth juga dipilih sebagai kota paling layak ditinggali (most livable city) dengan urutan ke-8 oleh majalah the Economist, dengan kriteria tersedianya barang dan jasa, efektifitas infrastruktur, dan rendahnya risiko personal (lihat di Wikipedia).
Sebenarnya sekolah bagi saya dimana saja oke, asal ada biayanya, hehe. Tapi itulah masalahnya, makanya saya nyari beasiswa. Melihat jumlah yang ditawarkan oleh ADS ini saya takjub, mungkin sampai pensiun gak bakal bisa sekolah disini. Biaya hidup saja (di luar uang kuliah) sekitar Rp250 juta/tahun, artinya untuk PhD 4 tahun disediakan sekitar Rp1 miliar/orang! catatan: untuk kursus bahasa Inggris saja di PusBah di Perth selama 3 bulan saja uang kursusnya (belum termasuk biaa hidup dan kos-kosan) sekitar Rp50 jt.
Nah setelah survey online ini, baru saya sedikit memahami efek ekonomi industri pendidikan ini. Sebagai salah satu pusat pendidikan, demand untuk akomodasi menjadi sangat tinggi di kota ini. Untuk satu keluarga, 1 atau 2 kamar, harga sewa apartment atau rumah (ada juga rumah kost dengan induk semang di Perth) adalah sekitar 60-70% dari yang diberikan. Ditambah dengan belanja biaya hidup disana, sebahagian besar uang Australia yang diberikan kepada penerima beasiswa sebenarnya kembali ke penduduk Australia dan memutar ekonomi di kota-kotanya. Sungguh brillian. Australia mendapat nilai tambah dengan memilih pelajar/mhs belajar di universitasnya, namun sekaligus menghidupi penduduknya dengan uang mereka.
Itu ditambah lagi dengan pelajar dan mahasiswa mandiri (ratusan ribu pelajar dan mahasiswa Cina belajar di Australia setiap tahun), juga Indonesia (termasuk putra Pak SBY di Perth dan sampai ada film Indonesia 'Love in Perth') yang tertarik bersekolah disana karena Australia serius menanganinya. Untuk diketahui ekonomi Australia utamanya ditopang oleh industri komoditas tambang juga jasa pendidikan.
Saya teringat dulu di kampus saya tercinta USU, banyak mahasiswa asing terutama dari Malaysia. Mereka tentu menjadi salah satu sumber penggerak ekonomi: kos-kosan, makan, transportasi dan belanja lainnya. Bagaimana sekarang situasinya? Apakah sudah terbalik? Mudah-mudahan tidak. Saya ke Kuala Lumpur dan banyak bertemu dengan mahasiswa Indonesia disana. Uang dan otak kita sedikit banyak membantu kemajuan negara tetangga. Mudah-mudahan pemerintah dapat mengembangkan institusi pendidikan kita sehingga bukan saja memperkuat daya saing SDM tapi juga menggerakkan roda ekonomi lebih baik lagi.
