Kamis, 24 Mei 2012

Survey #1 Sekolah

"Tidak ada terminal terakhir untuk ilmu" (salah satu poster di lobi kantor)

Setelah menerima surat pemberitahuan dari ADS tentang beasiswa tahun ini, saya mulai sedikit-sedikit survey mengenai kota yang saya tuju. Profesor yang mau menerima saya sebagai mhs nya ada di Curtin University, Perth. Perth ini disebut sebagai kota paling terpencil di dunia (the most remote city in the world) dengan kriteria berdekatan dengan kota lain yang berpopulasi >500 ribu orang. Kota terdekatnya adalah Adelaide (Australia, +- 2100 km) dan Dili (+-2800 km) serta Jakarta (+-3000 km). Cocok, saya pikir, karena niat saya cuma belajar jadi bukan jalan-jalan. Jadi kalau bosan jalan-jalannya ke Jakarta atau Medan, hihi..

Namun begitu, Perth juga dipilih sebagai kota paling layak ditinggali (most livable city) dengan urutan ke-8 oleh majalah the Economist, dengan kriteria tersedianya barang dan jasa, efektifitas infrastruktur, dan rendahnya risiko personal (lihat di Wikipedia).

Sebenarnya sekolah bagi saya dimana saja oke, asal ada biayanya, hehe. Tapi itulah masalahnya, makanya saya nyari beasiswa. Melihat jumlah yang ditawarkan oleh ADS ini saya takjub, mungkin sampai pensiun gak bakal bisa sekolah disini. Biaya hidup saja (di luar uang kuliah) sekitar Rp250 juta/tahun, artinya untuk PhD 4 tahun disediakan sekitar Rp1 miliar/orang! catatan: untuk kursus bahasa Inggris saja di PusBah di Perth selama 3 bulan saja uang kursusnya (belum termasuk biaa hidup dan kos-kosan) sekitar Rp50 jt.

Nah setelah survey online ini, baru saya sedikit memahami efek ekonomi industri pendidikan ini. Sebagai salah satu pusat pendidikan, demand untuk akomodasi menjadi sangat tinggi di kota ini. Untuk satu keluarga, 1 atau 2 kamar, harga sewa apartment atau rumah (ada juga rumah kost dengan induk semang di Perth) adalah sekitar 60-70% dari yang diberikan. Ditambah dengan belanja biaya hidup disana, sebahagian besar uang Australia yang diberikan kepada penerima beasiswa sebenarnya kembali ke penduduk Australia dan memutar ekonomi di kota-kotanya. Sungguh brillian. Australia mendapat nilai tambah dengan memilih pelajar/mhs belajar di universitasnya, namun sekaligus menghidupi penduduknya dengan uang mereka.

Itu ditambah lagi dengan pelajar dan mahasiswa mandiri (ratusan ribu pelajar dan mahasiswa Cina belajar di Australia setiap tahun), juga Indonesia (termasuk putra Pak SBY di Perth dan sampai ada film Indonesia 'Love in Perth') yang tertarik bersekolah disana karena Australia serius menanganinya. Untuk diketahui ekonomi Australia utamanya ditopang oleh industri komoditas tambang juga jasa pendidikan.

Saya teringat dulu di kampus saya tercinta USU, banyak mahasiswa asing terutama dari Malaysia. Mereka tentu menjadi salah satu sumber penggerak ekonomi: kos-kosan, makan, transportasi dan belanja lainnya. Bagaimana sekarang situasinya? Apakah sudah terbalik? Mudah-mudahan tidak. Saya ke Kuala Lumpur dan banyak bertemu dengan mahasiswa Indonesia disana. Uang dan otak kita sedikit banyak membantu kemajuan negara tetangga. Mudah-mudahan pemerintah dapat mengembangkan institusi pendidikan kita sehingga bukan saja memperkuat daya saing SDM tapi juga menggerakkan roda ekonomi lebih baik lagi.

Kamis, 17 Mei 2012

Surat Buat Tondi


Tondi, nanti saat Tondi sekolah mungkin Tondi heran kenapa nama Tondi beda dengan nama teman-teman. Kenapa tidak seperti Rava, Dafha, Ziza, Zozi, Geraldo, Stefan, dan lain-lain? Ini nak ayah ceritain.

Tondi, kewajiban pertama seorang ayah muslim itu ngasih anaknya nama yang baik. Sebelum Tondi lahir, ayah sudah cari-cari nama buat anak ayah. Nama yang unik dan asli identitas kita sendiri. Sebelumnya ayah baca-baca buku agama tentang bagaimana memberi nama anak yang baik. Ayah nggak mau keliru menafsirkan ajaran Nabi kita dan ikut-ikutan orang. Dari buku-buku itu, ayah paham, dalam memberi nama, tidak ada disebutkan bahwa satu bahasa atau budaya lebih baik daripada yang lain. Yang terpenting adalah arti nama itu. Orang yang namanya dibenerin oleh Nabi Muhammad, sebelumnya artinya kurang bagus seperti "api" atau "panas". Oleh Nabi diganti dengan nama yang berarti baik, misalnya "Wangi", "Pintar", ataupun "Lurus", karena nama adalah doa untuk pemiliknya. Dikasih dalam bahasa Arab karena mereka orang Arab. Kalau Nabi Muhammad dan mereka itu orang Batak mungkin sudah dikasih nama "Hushus" atau "Tigor" (hushus artinya wangi, tigor artinya lurus).

Tondi, dari dulu bangsa kita selalu dibawah pengaruh bangsa lain. Dulu sekali, pernah dikuasai orang India. Sampai sekarang, pengaruh itu masih kelihatan. Kita masih sering pakai bahasa mereka sebagai identitas kita. Baru-baru ini ayah sadar, kita yang orang Batak pun terpengaruh juga. Almarhum Ompung-uwakmu, abangnya Ompung, namanya Indra Sari. Indra dalam kepercayaan Hindu adalah Dewa Petir. Jadi nama ompung itu diambil dari nama salah satu tokoh Hindu. 

Kata kawan ayah, "Nama itu bentuk paling primitif aktualisasi diri seseorang". Maksudnya, nama itu paling sederhana tapi penting untuk menunjuk seseorang. Tondi tentu namanya adalah Tondi, nggak mau dipanggil Badu, misalnya. Karena sangat penting itu, orangtua ngasih nama yang terbaik buat anaknya.

Sayangnya, sering ayah lihat nama yang dianggap baik itu nama-nama dari budaya lain. Nggak juga berhubungan dengan agama. Ada yang dari Barat. Ada dari India. Ada juga dari Timur Tengah. Ada juga sih dari Indonesia, tapi... jarang. Padahal seperti ayah bilang tadi, tidak ada budaya atau identitas yang lebih baik atau jelek. Entah kenapa kita sering memilih identitas milik orang lain. Malah kita membangga-banggakan punya orang lain itu.

Kalau Tondi nanti sekolahnya bareng dengan bangsa lain, Tondi pasti tau semua bangsa itu sama. Orang Barat banyak yang pintar, banyak juga yang dibawah kita. Orang Arab banyak yang baik, tapi banyak juga yang nggak baik. Begitu juga orang Indonesia ada yang biasa, banyak yang pintar atau baik.

Jadi, kenapa kita suka pakai identitas bangsa lain? Mungkin di bawah sadar kita masih menganggap mereka lebih hebat. Sayangnya ayah nggak pernah liat kebalikannya. Ayah nggak pernah liat orang asing ngasih nama Indonesia ke anaknya, biarpun anak orang asing itu lahir disini.

Waktu ayah sekolah di Jepang, ayah pernah ngobrol dengan guru ayah orang Jepang, dia ahli sejarah. Waktu itu kami jalan-jalan di tugu peringatan pengeboman di Hiroshima. Kami ngobrol tentang Korea. Dia nanya ayah, "Kamu tau kenapa orang Korea benci sekali dengan orang Jepang?". "Tidak sensei", jawab ayah. "Bukan karena Jepang dulu menjajah secara fisik orang Korea, tapi lebih karena penjajahan budaya", katanya. "Dulu waktu Jepang menduduki Korea, orang Korea dipaksa mengganti identitas. Nama mereka diganti dengan nama Jepang. Bagi orang Korea itu perbuatan yang paling menghina dan menyakitkan. Bayangkan, kamu dipaksa menghilangkan identitasmu".

Ayah manggut-manggut. Tapi sebenarnya yang terakhir ayah kurang setuju. Di negeri kita masih banyak orang yang sepertinya ingin mengganti identitasnya dengan identitas asing. Tidak marah, malah dengan sukarela dan senang hati.

Kalau Tondi lihat, tentu Tondi tau bangsa yang besar itu bangga dengan identitas mereka. Orang-orang Italia, Jerman, Perancis, punya nama-nama khas mereka. Jepang dari jaman jebot dulu sampai sekarang tetap menggunakan nama asli mereka. Orang Korea juga begitu. Bahkan orang Thailand dan Vietnam langsung kita kenali dari namanya. Mungkin karena itu mereka sulit dijajah dan ditaklukkan, mereka punya kebanggaan. Ayah pernah ditanya kawan ayah orang Nepal, dia bilang "Kenapa banyak sekali mahasiswa dari negerimu seperti nama-nama kami?" (dia melihat daftar alumni dari Indonesia di kampus kami, nama dia Bhisma, senior kami sebelumnya dari India namanya Surya). Ayah cuma tersenyum dan bilang, "iya".

Jadi, nanti kalau ada yang bilang ke anak ayah "Nama kamu Batak banget", Tondi justru harus bangga dan bilang (sambil tertawa), "karena Tondi memang orang Batak". Tondi orang Indonesia. Orang Indonesia itu juga pintar-pintar. Oh iya, Tondi itu di bahasa asal Ompung dan Nenek artinya "jiwa" atau "semangat". Tahun lalu, di ulang tahun Ompung yang ke-75 dibuat kata-kata doa yang sering diucapkan di budaya kita: "Horas Tondi Madingin, Pir Tondi Matogu". Waktu ayah tanya ke Ompung apa artinya, beliau bilang kira-kira harapan agar tondi-nya kuat yaitu jiwanya kuat dan teguh sehingga tidak lesu, selalu semangat, energik, dan sebagainya.

Tapi sebagai anggota masyarakat, ayah bunda juga tidak bisa terlalu ekstrem melawan arus. Misalnya memberi namamu dengan "Togar" (tegar), "Binsar" (bersinar), "Joko" dan lain-lain, nama-nama yang berkarakter dan sangat baik artinya, tapi  justru di masyarakat sendiri dianggap "udik", tidak seperti nama-nama barat yang dianggap lebih mentereng. Yang ayah rasakan senang dengan mereka yang menyandang nama-nama itu. Mereka adalah simbol kebanggaan identitas kita. Salah satu tokoh yang ayah kagumi, almarhum ompung Bismar Siregar, juga punya nama Indonesia yang tidak biasa. Perilaku beliaulah yang membuat namanya yang tidak biasa itu menjadi harum.

Tondi, apapun itu, setiap orang tua ingin yang terbaik buat anaknya. Jadi, pemberian nama itu adalah doa dari kami, para orangtua kepada kalian, dengan cara-cara yang berbeda. Nama Tondi ayah berikan dengan doa agar Tondi jadi orang yang bangga pada identitas bangsa sendiri. Supaya Tondi nanti jadi bagian dari orang-orang yang betul-betul percaya, baik dalam perkataan maupun di bawah sadar, bahwa setiap bangsa setara posisinya, tidak ada yang lebih baik satu daripada yang lain. Mudah-mudahan Tondi mengerti. Doa ayah dan bunda lainnya juga sama dengan orangtua-orangtua lain yang selalu kami bisikkan, mudah-mudahan Tondi selalu sehat, pintar, bahagia, bermanfaat buat orang lain, dan selalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Peluk cium sayang dari ayah.

Medan, 17 Mei 2012.