Rabu, 30 Januari 2013

Welcome to Perth #2

Buat yang jarang ke luar negeri seperti saya, pergi ke negara orang tentu perlu persiapan yang cukup. Apalagi untuk jangka waktu yang cukup lama. Perbedaan makanan misalnya, harus diantisipasi jangan sampai di hari-hari awal sebelum settle kesulitan makan. Begitu juga perbedaan infrastruktur seperti sumber listrik. Pengalaman di Jepang mengajarkan untuk switch menggunakan alat elektronik dari Jepang-Indonesia sangat repot karena perbedaan voltase. Di Indonesia kita pakai 220 volt, di Jepang pakai 110 volt. Kalau alat elektronik yang tidak sesuai dipaksa digunakan pasti rusak.

Tapi ternyata untuk Jakarta-Perth tidak begitu. Walaupun suasana sangat berbeda, ada beberapa hal yang sama, terutama masalah makanan dan telekomunikasi. Ini saya kira peran migrasi manusia (banyak orang Asia ke Perth dan orang Oksiden migrasi ke Jakarta) dan teknologi yang sering tidak mengenal batas negara. Yang membedakan adalah secara ekonomi dan purchasing power parity sehingga nilai harga barang jadi berbeda. Ini saya tuliskan pengalaman beberapa hari mengenai hal itu.

1. Makanan.

Buat orang Indonesia, mie instan seperti Indomie atau Pop Mie adalah penyelamat jika makanan yang cocok tidak ada. Banyak yang saya kenal jika keluar negeri bawa bekal makanan seperti ini untuk sehari dua hari sebelum nemu makanan yang cocok. Tak terkecuali saya. Begitu pula serbuk minuman dalam sachet seperti kopi dan teh. Juga obat-obatan tradisional seperti minyak angin dan balsam untuk kerokan.

Ternyata di Perth makanan seperti ini banyak sekali. Di setiap supermarket yang saya datangi, pasti ada bagian "Instant Noodle" dan di antaranya pasti ada makanan produksi kita itu. Ada pula bagian "Asian food" yang berisi rempah-rempah untuk masakan khas asia seperti tumbar-miri-jahe. Beras juga banyak. Jadi buat yang tidak bisa makan makanan barat atau suka masak sendiri ala Indonesia, tidak masalah.

Jika beruntung, ada toko Asia di sekitar tempat tinggal (maksudnya yang punya toko adalah orang Asia, biasanya warga negara manapun keturunan Cina). Yang ini lebih mirip lagi dengan yang ada di Indonesia. Ada sambal Indonesia yang mereknya yang tidak mainstream (yg mainstream itu ABC, Indofood dll), balsem gosok sampai minyak tawon. Kacang Garuda juga ada.

Ini bukan di swalayan Indonesia
Indo Mie, Teh Kotak dan Teh Botol
Yang berbeda tentu harganya, walaupun saya kira tidak mahal-mahal amat dibandingkan harga di Indonesia. Indo Mie diatas misalnya, $2 dapat empat bungkus, sekitar Rp5 ribu perbungkus, tidak jauh berbeda kan? Mungkin karena konsumennya disini juga orang kita dan Asia Tenggara lainnya.

Di negara-negara lain saya kira juga biasanya ada yang jual bahan makanan seperti ini (toko Indonesia, toko Asia). Tapi yang membedakan Perth adalah bahwa makanan ini banyak dan gampang ditemui, termasuk di supermarket-supermarket terkenal.

2. Telekomunikasi.

Saat baru tiba, mahasiswa yang tinggal di dormitori dikasih nelpon oleh kantor dormitori untuk nelpon kemana saja, dengan syarat hanya satu kali. Ini untuk mengabarkan ke keluarga bahwa dia sudah sampai dengan selamat sampai di negeri yang jauh (ternyata ADS recipient dari Afrika banyak sekali, di rombongan saya ke Curtin sekitar 40-50-an orang penerima beasiswa ADS dari Afrika, dibandingkan orang Asia yang paling belasan orang termasuk Indonesia 5 orang).

Saat kemari saya membawa salah satu handphone dan nomornya. Ternyata disini nomor saya tetap aktif, roaming dengan menggunakan jalur salah satu provider disini. Jadi saya bisa kasih kabar ke rumah tentang ketibaan saya. Tapi harga pakai pulsa disini alamakjang mahal sekali, saya harus minta istri isi ulang pulsa 3 kali (tetap bisa isi dari Indonesia) satu hari itu walaupun cuma terima dan juga coba dihemat dengan komunikasi SMS saja. Tidak apa, yang paling penting tetap bisa komunikasi, minimal untuk yang penting-penting saja.

Segera setelah saya punya identitas yang cukup disini (student ID, nomor rekening bank) saya beli nomor telepon lokal. Disini juga serupa, ada kartu SIM prabayar, ada pula yang pasca bayar. Handsetnya sama saja, karena teknologi sama yaitu GSM dan yang bikin juga negara lain kok: Korea, Amerika, Finlandia, Taiwan dll. Jadi bisa saja kita bawa handset dari Indonesia, pakai SIM Card dari sini. Tapi saya tertarik dengan pasca bayar disini. Dengan ikut kontrak selama 2 tahun dan bayar bulanan tetap beberapa puluh dolar, kita akan dapat pulsa cukup banyak, cukup banyak untuk bisa nelpon ke Indonesia setiap hari, sekaligus dapat HPnya (harga di-bundle). Saya pun berlangganan dengan HP yang kalau di Indonesia mungkin tidak akan saya beli.

Jadi untuk komunikasi tidak masalah. Bisa pakai nomor Indonesia (asal tahan harga roaming-nya) atau bisa bawa handset dari Indonesia dan gunakan nomor disini, atau berlangganan disini sekalian.

3. Lain-lain.

Jika anda pergi ke supermarket di Jakarta seperti Food Mart, Grand Lucky, Carrefour dan sebagainya, ya seperti itulah supermarket di Perth. Ada makanan, snack, minuman, stationery, perlengkapan dapur, obat yang dijual bebas, alat elektronik, semuanya dengan barang-barangnya yang relatif sama. Perbedaannya mungkin di Jakarta barangnya lebih banyak dan bervariasi. Cuma harganya yang untuk banyak item lebih mahal di Perth. Ya, kecuali untuk makanan Asia seperti yang saya tulis diatas, harga barang disini, termasuk utilities, jika dibandingkan dalam rupiah bisa berkali-kali lipat mengikuti daya beli orang Australia.

Jadi untuk yang hendak ke Perth, bisa memilih, apakah membeli perlengkapan disini (tidak begitu repot membawa barang dalam perjalanan) atau bawa dari Indonesia (untuk banyak item lebih murah walau bawaan jadi lebih berat). Jika ada teman/saudara yang bisa mengantar ke toko terdekat, proses untuk settle di Perth bagi orang kita jadi lebih mudah, karena semua perlengkapan tersedia dan relatif sama. Untuk penerima beasiswa AusAID, pemerintah Australia juga memberikan etsablishment fee yang sangat memadai saat tiba yang mestinya digunakan untuk mecukupi kebutuhan itu di awal-awal tinggal disini.

Untuk listrik juga sama dengan di Indonesia menggunakan voltase 220-240, hanya yang berbeda bentuk colokannya. Jadi dengan adaptor colokan sederhana (beli di Indonesia), peralatan elektronik dari Indonesia bisa langsung dipakai di Australia.

Selasa, 29 Januari 2013

Welcome to Perth #1

Rabu, 23 Januari 2013 sebelum subuh saya berangkat menuju bandara. Pesawat dijadwalkan akan take off pukul 6.05 WIB. Entah kenapa, saya dikasih tiket Garuda Indonesia, padahal karena ini uang pemerintah Australia, biasanya dikasih pakai Qantas. Buat saya sih lebih baik karena perjalanan jadi lebih pendek. Garuda transfer dulu di Denpasar, ngantar penumpang Jakarta-Denpasar, ganti sebagian penumpang, baru nyambung ke Perth. Kalau Qantas biasanya terbang ke utara dulu ke Singapura, baru dari Singapura terbang ke Perth. Lebih jauh kan.

Pertambangan di sebelah utara Perth dipotret dari pesawat.
Kecuali pesawat yang take off-nya telat sekitar setengah jam, perjalanan lancar. Jakarta-Denpasar mengambil waktu sekitar 1 jam 30 menit, di Denpasar keluar dari pesawat sekitar 30 menit, lalu boarding lagi ke pesawat yang sama untuk berangkat. Kali ini penumpangnya banyak bule. Denpasar-Perth mengambil waktu sekitar 3 jam 48 menit (Garuda, Pilot, 2013). Kami tiba di Perth sebelum jam 2 siang waktu setempat (waktu Perth sama dengan Bali yaitu WITA, jadi lebih dahulu 1 jam daripada WIB).

Di bandara saya dijemput oleh keluarga Indonesia yang sang ibu sedang studi PhD. Sebenarnya pihak AusAID dan kampus menyediakan fasilitas penjemputan, tapi entah kenapa kali ini urusan kurang beres. Bulan Oktober 2012 saya sudah email permintaan penjemputan ke agen AusAID di Indonesia. Tidak ada konfirmasi apakah formulir sudah diterima atau tidak. Ok, saya rasa sudah diterima seperti email-email saya yang lain ke mereka. 2 hari saat akan berangkat (tiket sudah saya diterima), saya kembali kirim email ke pihak liaison officer di kampus minta saya dijemput pada hari saya tiba. Tidak ada respon juga. Tidak jelas, saya iyakan tawaran si ibu untuk menjemput saya di bandara (saya sudah sepakat tinggal sementara di tempat beliau). Ternyata, setelah saya telah berjumpa dengan si ibu dan keluarganya, di bandara telah ada yang menjemput saya dari international office kampus! Kacau. Ternyata kamar di dormitori untuk saya juga sudah tersedia hari itu sehingga seharusnya saya tidak perlu mencari akomodasi sementara di tempat lain.

Tapi sudahlah saya tidak tanya-tanya lagi kenapa email saya tidak dijawab, hanya akan merusak hari-hari pertama saya di Perth. Saya hanya bilang ke petugas penjemput saya tidak ikut dia karena tidak ada konfirmasi email saya, dan dia jawab dengan riang, "Okay, no problem!" dan ngasih starter pack untuk saya. Isi starter pack itu antara lain informasi kegiatan besok, peta, nomor kamar saya di dormitori, dan hal-hal lain yang mahasiswa baru perlu ketahui.

Kesan pertama yang saya dapat dari kota Perth adalah... banyak orang Asia, terutama oriental. Mungkin ini karena ekspektasi saya yang mengasosiasikan Australia=penduduknya bule. Petugas imigrasi sih semua orang Kaukasus tapi petugas bandara banyak yang bukan. Yang menanyakan isi koper saya (mungkin petugas bea cukai) sepertinya keturunan India. Banyak orang Asia saya kira wajar karena jarak Perth relatif dekat dengan kita. Jarak hanya sekitar 4 jam penerbangan, dan ada penerbangan langsung Perth-Jakarta dengan Garuda dan JetStar. Jadi tak heran selama 5 hari saya berada disini, tidak ada satu haripun tanpa ketemu dengan orang Indonesia atau dengar orang berbicara bahasa Indonesia (diluar teman dan pelajar sekampus).

Tapi jangan bayangkan suasananya seperti di kita yah, karena infrastruktur dan suasana disini jauh berbeda dengan di kota-kota di Indonesia. Juga secara komposisi orang-orangnya tentu jauh lebih banyak orang Kaukasus daripada orang ras lainnya.

Pasar Malam, kosakata bukti pengaruh Indonesia di Curtin. Program Student Guild (BEM) Curtin University.