Selasa, 29 Januari 2013

Welcome to Perth #1

Rabu, 23 Januari 2013 sebelum subuh saya berangkat menuju bandara. Pesawat dijadwalkan akan take off pukul 6.05 WIB. Entah kenapa, saya dikasih tiket Garuda Indonesia, padahal karena ini uang pemerintah Australia, biasanya dikasih pakai Qantas. Buat saya sih lebih baik karena perjalanan jadi lebih pendek. Garuda transfer dulu di Denpasar, ngantar penumpang Jakarta-Denpasar, ganti sebagian penumpang, baru nyambung ke Perth. Kalau Qantas biasanya terbang ke utara dulu ke Singapura, baru dari Singapura terbang ke Perth. Lebih jauh kan.

Pertambangan di sebelah utara Perth dipotret dari pesawat.
Kecuali pesawat yang take off-nya telat sekitar setengah jam, perjalanan lancar. Jakarta-Denpasar mengambil waktu sekitar 1 jam 30 menit, di Denpasar keluar dari pesawat sekitar 30 menit, lalu boarding lagi ke pesawat yang sama untuk berangkat. Kali ini penumpangnya banyak bule. Denpasar-Perth mengambil waktu sekitar 3 jam 48 menit (Garuda, Pilot, 2013). Kami tiba di Perth sebelum jam 2 siang waktu setempat (waktu Perth sama dengan Bali yaitu WITA, jadi lebih dahulu 1 jam daripada WIB).

Di bandara saya dijemput oleh keluarga Indonesia yang sang ibu sedang studi PhD. Sebenarnya pihak AusAID dan kampus menyediakan fasilitas penjemputan, tapi entah kenapa kali ini urusan kurang beres. Bulan Oktober 2012 saya sudah email permintaan penjemputan ke agen AusAID di Indonesia. Tidak ada konfirmasi apakah formulir sudah diterima atau tidak. Ok, saya rasa sudah diterima seperti email-email saya yang lain ke mereka. 2 hari saat akan berangkat (tiket sudah saya diterima), saya kembali kirim email ke pihak liaison officer di kampus minta saya dijemput pada hari saya tiba. Tidak ada respon juga. Tidak jelas, saya iyakan tawaran si ibu untuk menjemput saya di bandara (saya sudah sepakat tinggal sementara di tempat beliau). Ternyata, setelah saya telah berjumpa dengan si ibu dan keluarganya, di bandara telah ada yang menjemput saya dari international office kampus! Kacau. Ternyata kamar di dormitori untuk saya juga sudah tersedia hari itu sehingga seharusnya saya tidak perlu mencari akomodasi sementara di tempat lain.

Tapi sudahlah saya tidak tanya-tanya lagi kenapa email saya tidak dijawab, hanya akan merusak hari-hari pertama saya di Perth. Saya hanya bilang ke petugas penjemput saya tidak ikut dia karena tidak ada konfirmasi email saya, dan dia jawab dengan riang, "Okay, no problem!" dan ngasih starter pack untuk saya. Isi starter pack itu antara lain informasi kegiatan besok, peta, nomor kamar saya di dormitori, dan hal-hal lain yang mahasiswa baru perlu ketahui.

Kesan pertama yang saya dapat dari kota Perth adalah... banyak orang Asia, terutama oriental. Mungkin ini karena ekspektasi saya yang mengasosiasikan Australia=penduduknya bule. Petugas imigrasi sih semua orang Kaukasus tapi petugas bandara banyak yang bukan. Yang menanyakan isi koper saya (mungkin petugas bea cukai) sepertinya keturunan India. Banyak orang Asia saya kira wajar karena jarak Perth relatif dekat dengan kita. Jarak hanya sekitar 4 jam penerbangan, dan ada penerbangan langsung Perth-Jakarta dengan Garuda dan JetStar. Jadi tak heran selama 5 hari saya berada disini, tidak ada satu haripun tanpa ketemu dengan orang Indonesia atau dengar orang berbicara bahasa Indonesia (diluar teman dan pelajar sekampus).

Tapi jangan bayangkan suasananya seperti di kita yah, karena infrastruktur dan suasana disini jauh berbeda dengan di kota-kota di Indonesia. Juga secara komposisi orang-orangnya tentu jauh lebih banyak orang Kaukasus daripada orang ras lainnya.

Pasar Malam, kosakata bukti pengaruh Indonesia di Curtin. Program Student Guild (BEM) Curtin University.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar