Sabtu, 06 April 2019

Teknonitif Gap

Saya sedang kembali ke apartmen kampus ketika berpapasan dengan seorang pria bule yang menuju Curtin Oval, lapangan sepakbola kampus. Melihat saya mengenakan kaos berlambang Liverpool FC (LFC), dia berhenti dan menyapa saya dengan ramah. Dia memberikan kartu namanya, pengurus LFC Fans Club Western Australia, sebuah fans klub amatir di Perth, dan menawarkan untuk bergabung. Saya bilang terima kasih dan akan mendaftar. Anggota klub ini biasanya nobar pertandingan LFC di sebuah bar bernama Franklins.

Sesuai janji, beberapa hari kemudian saya mendaftar online, dapat kartu anggota dan beberapa merchandise dan beberapa kali ikut nobar di sana, walau hanya minum Coca Cola + es batu.

Begitu uniknya sebuah ikatan walau hanya berasal dari kesukaan klub yang sama. Saya dan bule tersebut sama sekali tidak kenal, Indonesia dan Australia tidak punya sejarah yang kental prestasi dalam sepakbola, bahkan saya tidak pernah ke Inggris. Namun ketika dia melihat saya mengenakan pakaian beridentitas, dia tidak ragu untuk bertegur sapa karena merasa seperasaan. Soal gembira atau kecewa ketika tim favorit menang, hanya supporter sepakbola yang tahu gimana rasanya.

***

Menurut Harari, manusia bisa memimpin dan mengendalikan manusia lain dengan jumlah maksimal 150 orang. Lebih dari itu, perlu konsep abstrak-psikologis untuk menyatukan–dan mengontrol– sekelompok orang tersebut. Klub, perusahaan, bahkan negara adalah contoh konsep abstrak itu. Seseorang bisa merasa solider terhadap orang lain yang sama sekali tidak pernah bertemu apalagi berinteraksi, hanya karena berada pada lingkup konsep abstrak yang sama. Misalnya orang Indonesia merasa bangga ketika Eddie Van Halen disebut memiliki darah Indonesia. Padahal Eddie Van Halen juga tidak mengenal dia, tidak pernah bertemu, dan mungkin 'darah Indonesia-nya' sangat jauh dari orang tersebut secara etnis. Tapi konsep 'negara Indonesia' itu membuat ia merasa punya ikatan dengan sang gitaris yang sangat mbule itu.

Tahap selanjutnya, seringkali diciptakan mitos-mitos sebagai perekat dan untuk pencapaian tujuan tertentu kelompok tersebut. Aksi kepahlawanan, kemampuan super-human, dan cerita-cerita keunggulan lain muncul, lalu diceritakan secara turun temurun. Ada opini bahwa kejayaan Majapahit dulu yang disebut memiliki kekuasaan lebih luas daripada wilayah Indonesia saat ini merupakan glorifikasi atas kejayaan Nusantara yang dibuat untuk membangkitkan kepercayaan diri rakyat Indonesia. Bahwa bangsa Nusantara (yang kemudian menjadi Indonesia) adalah bangsa yang besar.

Pada saat itu kepercayaan diri tersebut memang penting untuk membangkitan semangat melepaskan diri dari penjajah. Padahal, jika dianalisis secara obyektif, sangat sulit kerajaan Majapahit yang berada di Jawa Timur sekarang, dengan penduduk yang maksimal hanya beberapa juta orang dan teknologi saat itu, untuk dapat mempenetrasi wilayah-wilayah di Sumatera dan Sulawesi, misalnya, atau wilayah-wilayah sulit dijangkau lainnya apalagi menaklukkannya.

***

Saya pernah berfikir bahwa di zaman informasi terbuka seperti saat ini, mitos-mitos buatan orang zaman dahulu akan memudar dan ditinggalkan orang. Hal ini karena dengan kemampuan kognitif manusia yang semakin berkembang dan kemajuan internet sehingga informasi lebih mudah diperoleh, orang-orang akan mudah mengecek fakta. Kalau zaman dulu okelah, pemikiran, pengalaman manusia masih terbatas dan informasi susah didapat. Tidak heran banyak berkembang cerita-cerita aneh seperti "Kutukan Tutankhamen", "Misteri Segitiga Bermuda", "Anak Durhaka Dikutuk Jadi Ikan Pari" dan lain sebagainya.

Seseorang bilang, "Dulu UFO sering mampir ke bumi. Sekarang ketika setiap orang pegang kamera, tidak ada lagi UFO yang datang". Itu karena dulu memverifikasi foto-foto yang diklaim sebagai foto UFO itu sangat sulit. Jika sekarang alien benar datang, orang akan mudah mengambil foto dengan kamera HPnya.

Namun sepertinya pemikiran saya keliru, setidaknya sampai saat ini. Di era modern sekarang, masih ada orang-orang yang percaya hal-hal aneh yang seharusnya bisa diragukan kebenarannya dengan mudah. Masih banyak yang langsung menelan mentah-mentah informasi sepihak tanpa berfikir kritis terlebih dahulu. Banyak yang percaya bahwa uang bisa digandakan, dapat imbal besar dengan modal kecil tanpa bekerja, pertemuan dihadiri 10 juta orang di tempat terbatas, dan sebagainya. Tidak mengherankan banyak yang menjadi korban penipuan massal seperti korban Kanjeng Dimas, Annisa Hasibuan & Andika, dan lain sebagainya. Tidak terlalu berbeda dengan masyarakat di Afrika Selatan yang ditipu oleh Alph Lukau yang mengaku bisa menghidupkan kembali manusia yang sudah meninggal.

Situasi ini menunjukkan fenomena yang cukup menarik. Perkembangan teknologi yang pesat tidak diikuti dengan kemampuan kognitif yang setara. Perangkat dan jalur informasi seperti handphone dan aplikasi seperti whatsapp, alih-alih meningkatkan pengetahuan, justru jadi instrument penyebaran hoax dan mitos-mitos tersebut. Hal ini menciptakan "teknonitif gap", yaitu kesenjangan antara teknologi modern dengan kemampuan kognitif pengguna yang masih di belakang. Kata orang bule, "smart phones, dumb people". Masih terjal tantangan pendidikan agar mindset dan kemampuan kognitif sebagian orang agar gap ini bisa dikurangi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar