1. Strawman fallacy
Strawman artinya orang-orangan jerami, atau di Indonesia disebut sebagai orang-orangan sawah. Orang-orangan sawah merupakan representasi benda yang diciptakan pendebat sendiri yang lalu dia jadikan sasaran karena gampang diserang.
Dalam praktek debat, orang-orangan jerami yang diciptakan adalah argumen dikarang-karang sendiri oleh seseorang berdasarkan (yang dia kira/posisikan) argumen lawan. Namanya dikarang-karang, tentu bukan pendapat atau posisi lawan yang sebenarnya.
Contoh yang sering beredar adalah seperti ini:
A : Saya suka bingits ayam goreng KFC.
B : A suka ayam goreng luar negeri. A tidak cinta makanan negeri sendiri. A tidak nasionalis!
Lihat betapa jauhnya pendapat suka ayam goreng KFC dengan nasionalisme, yang bahkan tidak disebutkan oleh A sama sekali. B mengambil kesimpulan sendiri lalu akan menggebuki "posisi" A yang dia sebut anasionalis.
Sesat pikir strawman fallacy ini bisa terjadi karena berbagai hal. Bisa karena seseorang tidak cermat mengartikan pendapat lawannya, karena terlalu bernafsu berasumsi, atau juga karena memang disengaja untuk pembunuhan karakter.
2. Ad hominem
Sesat pikir ad hominem (atau disingkat ad-hom) terjadi ketika alih-alih mendebat argumen, seseorang justru menyerang status atau posisi lawannya. Dengan menyerang status, maka dia meperlakukan argumen lawan, sebaik apapun, menjadi tidak relevan dan tidak perlu lagi.
"Dasar oposisi, selalu mencari-cari kesalahan petahana"
"Ah itu kan media penjilat petahana"
"Elu kan pendukung X, pastilah nggak terima prestasi Y"
"Dasar komunis!" "Dasar Wahabi!"
Jadi bukannya menelaah argumen apakah mengandung informasi yang sahih atau tidak, si pendebat menjatuhkan posisi pribadi lawannya. Isi informasi dan argumen sudah tidak penting lagi.
3. Burden of proof (beban pembuktian)
Burden of proof artinya adalah beban pembuktian. Dalam konteks fallacy, burden of proof fallacy adalah sesat pikir bahwa beban pembuktian ditanggung oleh pihak yang dituduh, bukan oleh penuduh atau pembuat klaim. Jadi alih-alih penuduh (atau yang melakukan klaim) yang membuktikan tuduhannya, justru yang dituduhlah yang diminta untuk membuktikan sebaliknya.
"B tidak bisa sholat! Coba tunjukkan bahwa B bisa sholat!"
Alih-alih si penuduh membuktikan tuduhannya bahwa B tidak bisa sholat, justru B yang dituduh yang diminta membuktikan bahwa dia bisa sholat, tidak seperti yang dituduhkan.
"A anak PKI. Kalau tidak, coba tes DNA!"
Alih-alih penuduh membuktikan bahwa A adalah anak PKI, justru si A yang diminta membuktikan (dengan tes DNA) bahwa dia bukan seperti yang dituduhkan.
Sesat pikir ini menjamur pada perdebatan politik di Indonesia, karena menuduh itu gampang, tanpa perlu susah-susah membuktikan.
Burden of proof fallacy ini sudah lama dijadikan olok-olok oleh Bertrand Russel, filsuf asal Perancis dengan "teko luar angkasa"nya (lihat gambar). Russel mengklaim bahwa terdapat sebuah teko yang melayang-layang di luar angkasa yang mengitari bumi. Berdasarkan sesat pikir ini, orang lain yang harus membuktikan bahwa teko itu tidak ada di luar angkasa sana, bukan dia.
* * *
Belajar dari ketiga sesat pikir di atas, seseorang harus cermat jika ingin berdebat. Perhatikan argumen lawan, klarifikasi jika tidak yakin. Jangan berasumsi sendiri. Jika tetap dilakukan, orang akan melihat anda memiliki sesat pikir dan jika berlangsung secara konsisten berarti memang ada cacat logika di sana.
Gambar diambil dari sini.
Contoh yang sering beredar adalah seperti ini:
A : Saya suka bingits ayam goreng KFC.
B : A suka ayam goreng luar negeri. A tidak cinta makanan negeri sendiri. A tidak nasionalis!
Lihat betapa jauhnya pendapat suka ayam goreng KFC dengan nasionalisme, yang bahkan tidak disebutkan oleh A sama sekali. B mengambil kesimpulan sendiri lalu akan menggebuki "posisi" A yang dia sebut anasionalis.
Sesat pikir strawman fallacy ini bisa terjadi karena berbagai hal. Bisa karena seseorang tidak cermat mengartikan pendapat lawannya, karena terlalu bernafsu berasumsi, atau juga karena memang disengaja untuk pembunuhan karakter.
2. Ad hominem
Sesat pikir ad hominem (atau disingkat ad-hom) terjadi ketika alih-alih mendebat argumen, seseorang justru menyerang status atau posisi lawannya. Dengan menyerang status, maka dia meperlakukan argumen lawan, sebaik apapun, menjadi tidak relevan dan tidak perlu lagi.
"Dasar oposisi, selalu mencari-cari kesalahan petahana"
"Ah itu kan media penjilat petahana"
"Elu kan pendukung X, pastilah nggak terima prestasi Y"
"Dasar komunis!" "Dasar Wahabi!"
Jadi bukannya menelaah argumen apakah mengandung informasi yang sahih atau tidak, si pendebat menjatuhkan posisi pribadi lawannya. Isi informasi dan argumen sudah tidak penting lagi.
3. Burden of proof (beban pembuktian)
Burden of proof artinya adalah beban pembuktian. Dalam konteks fallacy, burden of proof fallacy adalah sesat pikir bahwa beban pembuktian ditanggung oleh pihak yang dituduh, bukan oleh penuduh atau pembuat klaim. Jadi alih-alih penuduh (atau yang melakukan klaim) yang membuktikan tuduhannya, justru yang dituduhlah yang diminta untuk membuktikan sebaliknya."B tidak bisa sholat! Coba tunjukkan bahwa B bisa sholat!"
Alih-alih si penuduh membuktikan tuduhannya bahwa B tidak bisa sholat, justru B yang dituduh yang diminta membuktikan bahwa dia bisa sholat, tidak seperti yang dituduhkan.
"A anak PKI. Kalau tidak, coba tes DNA!"
Alih-alih penuduh membuktikan bahwa A adalah anak PKI, justru si A yang diminta membuktikan (dengan tes DNA) bahwa dia bukan seperti yang dituduhkan.
Sesat pikir ini menjamur pada perdebatan politik di Indonesia, karena menuduh itu gampang, tanpa perlu susah-susah membuktikan.
Burden of proof fallacy ini sudah lama dijadikan olok-olok oleh Bertrand Russel, filsuf asal Perancis dengan "teko luar angkasa"nya (lihat gambar). Russel mengklaim bahwa terdapat sebuah teko yang melayang-layang di luar angkasa yang mengitari bumi. Berdasarkan sesat pikir ini, orang lain yang harus membuktikan bahwa teko itu tidak ada di luar angkasa sana, bukan dia.
* * *
Belajar dari ketiga sesat pikir di atas, seseorang harus cermat jika ingin berdebat. Perhatikan argumen lawan, klarifikasi jika tidak yakin. Jangan berasumsi sendiri. Jika tetap dilakukan, orang akan melihat anda memiliki sesat pikir dan jika berlangsung secara konsisten berarti memang ada cacat logika di sana.
Gambar diambil dari sini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar