Senin, 30 April 2018
Insinyur Yu
Kakek moyang manusia mulai meninggalkan hidup nomaden ketika mengenal cocok tanam. Mereka menjinakkan hewan dan tumbuhan—seperti gandum yang awalnya tumbuh liar—untuk hidup sehari-hari. Hal ini lebih mudah dilakukan dengan membuka lahan di sekitar aliran sungai. Karena itu sejarah manusia biasanya mulai berkembang dari sekitar lembah/sungai (lembah sungai Indus, sungai Nil, Eufrat, sungai Kuning dll).
Namun ada masalah yang belum bisa direka oleh manusia saat itu. Kehidupan mereka secara individu maupun kelompok sangat tergantung pada kondisi sungai, salah satunya adalah banjir. Kehidupan yang nyaman, gemah ripah loh jinawi bisa hancur seketika ketika banjir datang. Hal ini kemudian menjelaskan banyaknya hikayat-hikayat banjir di perababan awal manusia.
Kisah-kisah tentang banjir tersebut biasanya mirip dengan sedikit perbedaan di sana-sini. Ini bisa dilihat dari beberapa hikayat banjir di Asia Barat/Mediterrania. Beberapa di antaranya:
1) Mitos di Babylonia (sekitar 3,000 SM) dengan tokohnya Utnapishtim dengan banjir yang dikirim oleh Dewa Enlil. Dewa Enlil murka karena manusia membuat keributan di bumi. Namun kemudian dewa lain secara sembunyi memerintahkan Utnapishtim untuk membuat bahtera dan mengumpulkan hewan masing-masing sepasang untuk mencegah punahnya manusia dan hewan.
2) Umat Zoroastrian di Persia dengan penguasa semesta Ahura Mazda, dengan Jamshid (Yima) manusia penerus umat yang mengumpulkan hewan-hewan saat banjir.
3) Di awal abad Masehi di Roma, Ovid menulis cerita "Metamorphosis" tentang Deucalion dan Pyrrha yang selamat dari banjir yang dikirim oleh Dewa Jupiter dibantu oleh Dewa Neptunus.
Walaupun berbeda-beda, ada pesan yang menjadi benang merah dari cerita-cerita itu: manusia harus patuh pada dewa, tidak boleh bandel, karena akan membuat (salah satu) dewa marah sehingga mengirimkan azab bencana. Salah satunya dalam bentuk banjir. Itulah yang diyakini manusia kala itu.
* * *
Dari berbagai kisah banjir tersebut, ada yang secara substansial sangat berbeda, yaitu cerita tentang banjir di Tiongkok dengan tokohnya Yu. Tokoh ini dikenal juga sebagai Yu the Great atau Yu the Engineer, kalau sekarang bolehlah kita sebut Insinyur Yu.
Kisah tentang Yu ini berkisar pada sekitar 2.200 SM. Pada saat itu, banjir yang datang secara berkala di sungai Kuning sangat mengganggu ekonomi rakyat. Ayah Yu, Gun, bertugas untuk mengendalikan banjir tersebut. Tapi selama 9 tahun bertugas, Gun gagal. Ketika dewasa, Yu menggantikan ayahnya bertugas untuk mengatasi banjir.
Yu sangat berdedikasi dengan pekerjaannya. Selama bertugas, ia tidak pernah pulang ke rumah. Tiga kali ia melewati rumahnya tapi tidak pernah masuk karena merasa bertanggungjawab masih ada rakyat yang menderita akibat banjir di luar sana. Pertama kalinya lewat ia mendengar istrinya sedang melahirkan anaknya, kedua kali anaknya sudah bisa memanggil ayahnya, dan yang ke-3 ketika anaknya sudah lebih dari 10 tahun.
Yu juga disebut tidur bersama para pekerja saat proyek penanggulangan banjir. Dalam satu artikel disebut bahwa Yu adalah contoh manusia workaholic pertama dan menjadi role model pemimpin Tiongkok berikutnya.
Akhirnya setelah bekerja terus menerus selama 13 tahun, Yu berhasil menanggulangi banjir yang melanda wilayah tersebut. Yu mengalirkan air sungai ke tanah rakyat melalui kombinasi irigasi dan tanggul. Penguasa saat itu, Shun, sangat terkesan dengan Yu sehingga memberikan tampuk kekuasaan kepadanya, bukan kepada anak keturunannya. Yu selanjutnya menjadi Kaisar yang membangun Dinasty pertama Tiongkok, Xia Dinasty.
Sebagaimana cerita-cerita zaman dulu, kisah Yu juga dihiasi mitos-mitos khas zaman dulu. Dalam proses penanggulangan banjir sungai, Yu dibantu oleh berbagai siluman seperti naga yang mengibas air sehingga mengalir ke laut, penyu hitam raksasa dan Hebo, dewa sungai. Siluman air dipercayai menciptakan badai sehingga menyebabkan banjir. Yu diceritakan berhasil membunuh monster sungai naga berkepala 9 dan mendelegasi tugas kepada anakbuahnya, Gengchen, untuk menangkap siluman air Wuzhiqi sehingga sungai menjadi tenang.
Namun demikian, inti dari cerita Yu sangat berbeda dari cerita banjir di Asia Barat/Mediterrania. Kalau kisah di Asia Barat lama penanggulangin dan pencegahan banjir dilakukan dengan bersikap patuh kepada Dewa, kisah Yu di Tiongkok menceritakan masalah ditanggulangi dengan cara bekerja keras dan kesungguhan, walaupun hasil tidak pasti (ayah Yu gagal) dan mengambil waktu lama.
Sekilas kisah tentang Yu the Engineer bisa juga dilihat di: https://en.wikipedia.org/wiki/Yu_the_Great
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Ramai berita tentang Waka DPR yang anaknya diminta dijemput oleh KJRI New York mengingatkan saya sebuah kata "Kopasjiba" yang say...
-
Saya sedang kembali ke apartmen kampus ketika berpapasan dengan seorang pria bule yang menuju Curtin Oval, lapangan sepakbola kampus. Meliha...
-
Kita yang bukan penutur asli bahasa Inggris mudah keliru mengartikan Moral Hazard . Saya dua kali mendengar orang menyebutkan istilah itu t...