Sabtu, 24 November 2012

Moral Hazard, Kenapa Kita Harus Menanggung (Sebagian) Risiko

Kita yang bukan penutur asli bahasa Inggris mudah keliru mengartikan Moral Hazard. Saya dua kali mendengar orang menyebutkan istilah itu tapi maksudnya lain. Ya, karena disana ada kata "moral". Padahal istilah ini tidak berhubungan dengan "moral" atau "nilai" baik buruk yang umum kita kenal itu, paling tidak secara langsung. Juga paling tidak sampai hari ini, karena toh bahasa adalah kombinasi antara rules (aturan) dan convention (kesepakatan). Kalau para penggunanya sepakat bahwa itu artinya "moral" kenapa tidak? Sama dengan kata "mengaji" dan "helat" yang sudah melenceng dari maksud awalnya, tapi toh kita baik-baik saja menggunakannya untuk maksud yang lain.

Kembali ke moral hazard, saya beberapa hari lalu meminta print out tabungan ke bank. Setiap lembar bayar Rp 2.500. Untuk mencegah moral hazard, saya pikir. Tapi setelah beberapa lama saya pikir mungkin bukan.

Apa itu moral hazard? Moral hazard adalah keadaan ketika risiko akibat tindakan seseorang ditanggung oleh pihak lain, bukan oleh pelaku tindakan tersebut. Contoh yang paling sering disebut adalah pembeli premi asuransi mobil. Perilaku pembeli asuransi berubah dari mengemudi secara hati-hati menjadi sembrono karena ia tau ada perusahaan asuransi yang akan menanggung risiko biaya perbaikan jika terjadi tabrakan. Perilakunya berbeda jika dia tidak memiliki asuransi atau ada penanggung yang lain. Ia akan berhati-hati.

Contoh lain adalah apabila jasa kesehatan ditanggung seluruhnya oleh pemerintah, bisa timbul moral hazard oleh anggota masyarakat yang sebenarnya tidak sakit. Mereka datang terus ke RS, minta obat, toh tidak bayar ini mereka pikir. Tidak apa-apa sebenarnya, tapi karena sumber daya rumah sakit dan jumlah dokter terbatas, orang yang betul-betul sakit bisa tertunda ditangani karena mereka.

Krismon kita tahun 1998an yang super dahsyat itu pun disebut akibat perbuatan terkait moral hazard. Oknum pejabat bank yang bermain valuta asing, membeli dolar atau mata uang asing dengan rupiah yang dimiliki perusahaannya. Kalau untung, si oknum akan mengambil untuk dia pribadi. Jika rugi (valas terapresiasi dan nilai rupiah jatuh sehingga hutang bank atas valas membengkak), maka bank atau negaralah yang mengganti. Risiko perbuatan mereka bukan mereka sendiri yang menanggung, tapi pemerintah. Karena itu mereka berbuat cenderung terlalu berani, tidak prudent (hati-hati).

Bagaimana cara mencegah moral hazard? Pihak asuransi mencoba menguranginya dengan mewajibkan pembeli asuransi untuk membayar sebagian kecil kerugian apabila terjadi klaim (di luar negeri disebut excess). Misalnya atas setiap klaim atas kerugian tabrakan atau untuk perbaikan lain pembeli asuransi juga harus mengeluarkan uang Rp200 ribu. Dengan demikian si pembeli asuransi lebih menjaga untuk tidak "seenaknya" mudah tabrakan, karena dia juga harus membayar risikonya walau sedikit. Di asuransi, semakin besar excess ini, semakin kecil harga premi asuransi. Ini karena semakin besar porsi yang harus dibayar oleh pembeli asuransi apabila terjadi kecelakaan, semakin berhati-hati dia, sehingga risiko yang ditanggung perusahaan asuransi pun semakin kecil.

Makanya awalnya hasil print out itu saya pikir untuk mencegah moral hazard. Kalau tidak, mungkin akan banyak nasabah biasa seperti saya rutin bolak-balik minta prin-prinan tabungannya. Lalu kenapa kemudian saya simpulkan bukan? Karena saya kemudian sadar biasanya pencegah moral hazard itu nilainya relatif kecil, yaitu sebagian kecil saja dari akibat yang ditanggung, seperti yang harus dibayar pembeli asuransi mobil dalm contoh diatas. Mestinya nilai selembar kertas HVS berisi cetakan printer dot matrix tidak jauh lebih mahal daripada hasil mesin fotokopi yang sekitar Rp 100. Jadi saya kira itu utamanya bukan mencegah moral hazard.

Masalah moral hazard sebenarnya adalah masalah yang umum, isitilahnya saja yang "ngeri-ngeri sedap". Mulai dari anak orang kaya yang tidak mau belajar karena toh risiko jika hidupnya susah nanti ditanggung orangtua, sampai negara-negara ataupun institusi donor yang bisa terjebak over-lending. Mereka jor-joran memberi hutang ke negara-negara miskin dan berkembang karena, kalaupun nantinya default (dikemplang), nantinya akan dibail-out dengan uang rakyat yang dibayar melalui pajak.

Sabtu, 10 November 2012

Pengalaman Aneh di Jepang


Dulu saya percaya orang tidak begitu takut melihat hantu dari negara lain. Misalnya, orang barat yang hantunya drakula mana takut sama pocong. Orang Indonesia yang hilang jiwa premannya melihat gendoruwo, mungkin nggak sebegitu takutnya melihat hantu robot (ada kan hantu robot di film barat) atau hantu Cina yang lompat-lompat tangan lurus ke depan dan bisa kungfu. Selain tidak kenal, mungkin tidak bisa berkomunikasi sehingga tidak ada gunanya toh mereka menakut-nakuti orang asing.

Saat kuliah di Yokohama saya tinggal di dormitori (dormi) kampus khusus mahasiswa. Dormi ini bangunannya cukup tua, di belakang banyak pohon-pohon besar. Kalau angin sedang keras, dahan-dahan pohon akan berbunyi menderu-deru dan bergesek-gesek ke dinding dormi.  Hhhuuuuu..... shreekkk...shrieek... Seorang teman Filipina pernah berkunjung dan merasa kurang nyaman dengan suasana disitu. Mungkin dia punya indera yang lebih tajam. Atau dia bisa berbahasa Jepang.

Dormi kami, walaupun penuh dengan mahasiswa (kapasitas 300-an orang dalam 3 bangunan), selalu sepi kecuali ada mahasiswa yang berpesta di aula serbaguna. Saat-saat saya keluar kamar di dormi adalah saat mandi (kamar mandi umum) atau kalau sedang terpaksa, masak di dapur bersama. Kalau malam, saat lewat ke kamar mandi atau ke dapur itulah saya melewati jendela-jendela dormi yang besar dan pada sisi belakangnya banyak pohon itu. Pepohonan yang rimbun dan gelap dan bergoyang-goyang. Lorong dormi pun cukup gelap dan suram.

Tapi sampai selesai kontrak di dormi saya tidak pernah melihat penampakan-penampakan, Alhamdulillah... Justru setelah pindah dari sana saya punya pengalaman aneh, 2 kali. Ini saya ceritakan.

1. Saat itu musim dingin baru lewat. Tapi cuaca masih dingin, mungkin sekitar 10-12 derajat celcius. Saya punya kelas pagi hari mulai jam 9. Saya berangkat dari apartemen sekitar jam 8.30. Entah kenapa, saya yang biasanya bersepeda hari itu berjalan kaki.

Saya berjalan melewati gedung-gedung tua kampus. Kampus kami memang luas dan banyak pepohonan besar, karena dulu merupakan padang golf yang diubah menjadi seperti sekarang. Saya berjalan diatas jalanan aspal yang berkabut dan pucat. Sejak masuk dari gerbang, belum kelihatan orang-orang maupun mahasiswa. Kebanyakan kelas memang mulai jam 9.40.

Melewati kampus teknik, di depan terlihat beberapa mahasiswa/i. Mereka mungkin masuk dari arah berbeda, tapi menuju arah yang sama dengan saya. Semua berjalan sendiri-sendiri. Saya berjalan di belakang mereka.

Semakin jauh saya berjalan, semakin banyak pula mahasiswa/i yang muncul. Saya pun akhirnya seperti bergabung dengan mereka. Berjalan menuju (saya pikir) ke kampus masing-masing.

Namun anehnya, dari banyak mahasiswa itu, tidak ada yang bersuara. Bahkan tidak terdengar suara sepatu. Senyap. Udara terasa kedap.

Saya sempat berpikir ada yang salah dengan pendengaran saya. Atau jangan-jangan.... Tapi saya tak berani bersuara.. "Hahh!!" begitu misalnya. Takut jika ternyata saya keliru, mahasiswa/i itu menganggap saya aneh. Atau mereka mengira saya membentak mereka. Apakah saya terlalu sering ketiduran sambil dengar lagu di MP3 Player?

Saya terus berjalan tapi berasa tuli. Berjalan di antara banyak mahasiswa/i itu tanpa suara.

Akhirnya setelah tiba di bangunan kampus, saya pun sampai di study room. Kami memang dapat ruangan khusus untuk belajar dengan cubicle dan locker masing-masing. Sudah ada teman sekelas disana, lalu saya sapa, "Morning..".... suara saya terdengar biasa. "Hello," kata dia. Kami lalu bercakap-cakap. Tidak ada yang aneh, semua kembali normal.

Beberapa lama kemudian baru saya sadari ternyata orang Jepang memang pendiam. Mereka tidak suka mengobrol, apalagi dengan orang yang tidak dikenalnya walaupun sesama mahasiswa satu kampus. Apalagi di cuaca yang dingin. Lebih baik mereka berjalan sambil bersedekap badan tanpa bersuara. Dan mahasiswa biasanya kan pake sepatu kets/karet, sehingga langkah-langkah mereka tidak berbunyi.

Bikin takut orang saja!

2. Waktu sekitar jam 8 malam. Suara pengumuman berdenting, dilatar belakangi musik dengan nada Auld Lang Syne. Sudah mau tutup, saya pikir. Tapi saya masih belum selesai mencari barang yang akan dibeli. Waktu itu saya di Takashimaya Department Store, salah satu Department Store terbesar di Jepang.

Saya pun melihat-lihat dan mencari lagi. Saat itu saya mencari pengganti sepatu yang sudah aus kebanyakan jalan. Beberapa menit lagi saya mencari-cari tapi tidak ada yang sreg di hati. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti dan berjanji akan mencari besok-besok di tempat lain.

Saya mencari jalan keluar. Sial, seperti dimana-mana department store apakah itu Sogo atau Matahari, bagian pria selalu di bagian terdalam toko. Bagian luar make-up atau asesoris wanita (bukan saya tukang belanja tapi saya tau ini dari mata kuliah bisnis). Pintu keluar jauh. Saat saya memutuskan keluar ternyata department store itu sudah siap untuk tutup. Pengunjung tinggal sedikit.

Di jalan menuju pintu keluar yang jauh itu, di sisi depan masing-masing outlet, seluruh SPG sudah berdiri tegak menghadap lorong/koridor. SPG pakaian, SPG tas, SPG make-up, SPG lain-lainsemuanya. Ternyata SOP mereka begitu. Pada saat toko bersiap tutup, mereka mengemas outlet masing-masing. Setelah itu berdiri menghadap jalan lewat/koridor tempat pengunjung keluar. Siap mengantarkan pengunjung pulang.

Kepada setiap pengunjung yang lewat di depan mereka, mereka akan membungkuk (ojigi). Di Jepang status konsumen itu diatas pedagang, apalagi di perusahaan besar, kita mirip betul seperti raja. Bagaimanapun bentuk konsumen itu. Mereka membungkuk dengan khidmat. Biasanya sambil berkata "arigatou gozaimashita... " (terima kasih banyak)...

Disanalah saya, berjalan menuju pintu keluar yang jauh, dengan setiap mbak-mbak SPG Jepang yang ayu itu membungkuk di kiri dan kanan. Suasana yang aneh. Tidak mungkin saya menjawab setiap terimakasih dan membungkuk juga ke mereka. Banyak sekali. Atau menerima dengan lagak angkuh kuduk ketemu punggung (ngadap keatas dong). Saya pura-pura cool saja, tapi sebenarnya kaki ini jalannya mau kesandung karena canggung. Di kanan kiri membungkuk, "arigato gozaimashita... arigato gozaimashita..." Begitu terus sepanjang saya berjalan keluar.

Akhirnya, setelah dengan konsentrasi penuh berjalan (lari nggak mungkin, bisa dikira klepto nanti) sampai juga saya di pintu keluar. Tanpa insiden kesandung atau nabrak-nabrak stelling atau etalase.

Itulah 2 pengalaman aneh saya selama di Jepang. Yang lain alhamdulillah aman-aman saja kok.

Mohon maaf ya buat yang berharap ini maunya cerita hantu.