Saya menonton salah satu pertandingan J-League, antara Yokohama Marinos (tuan rumah) vs Kashima Antlers di Nissan Stadium, tempat dimainkannya final Piala Dunia 2002 antara Brazil-Jerman. Penonton tuan rumah paling semarak di tribun belakang gawang sebelah kanan saya. Sepanjang pertandingan mereka bernyanyi menyemangati tim-nya sambil mengibar-ngibarkan bendera klub berukuran besar. Sementara di sisi barat (kiri) belakang gawang didominasi fans tim tamu yang juga menyemangati tim-nya.
Untuk pertandingannya saya tidak begitu terkesan. Biapun jika dibandingkan permainannya cemen, pertandingan PSMS dan atmosfer di stadion Teladan saya rasa jauh lebih seru (selain karena jagoan saya, juga ada-ada saja tingkah atau penonton yang lepas). Bisa pula sambil makan sate kerang (yang harganya diobral setelah separoh babak kedua, nyam-nyam..). Perbedaan pertama yang mengesankan saya adalah dengan stadion yang besar seperti itu, penonton masih dapat melihat dengan jelas pemain di lapangan dan permainan mereka karena angle dan warnanya. Hebat memang arsitek yang mendesain stadion itu.
Saya menyaksikan langsung hal sederhana tapi mengagumkan, bagaimana sepakbola dibuat agar diminati oleh sebanyak mungkin orang.
Saat di Medan, saya pernah mengajak seorang teman untuk menonton pertandigan PSMS. Jawab dia, "nggak ah, takut rusuh." Betul juga, saat itu PSMS kalah, dan penonton anehnya tidak bisa terima. Mereka menunggui bus pemain tim lawan dan melemparinya dengan batu. Satu unit mobil sebuah stasiun TV turut jadi korban. Saya harus berputar dari jalan yang biasa untuk menghindari para penonton yang lepas kendali. Di Jakarta, Senayan adalah daerah yang wajib dihindari kendaraan pribadi seperti mobil saat ada pertandingan sepakbola kalau tidak mau rugi.
Sayang, padahal selain olahraga, sebenarnya sepakbola dapat menjadi ajang hiburan buat keluarga. Industri sepakbola juga memiliki potensi penggerak ekonomi mirip industri pariwisata. Tiket masuk, jajanan, transportasi, bahkan akomodasi adalah contoh beberapa bsinis yang akan berputar. Ratusan ribu bahkan jutaan rupiah bisa dibelanjakan satu orang Indonesia untuk jersey dan asesoris klub luar negeri, apalagi klub lokal kebanggaan, kalau manajemen baik dan punya prestasi. Bisa juga membuat harum nama negara (walau bisa pula membuat buruk seperti kekalahan fenomenal 0-10 vs Bahrain). Puluhan juta rakyat Indonesia akhirnya menjadi supporter "fanatik" klub sepakbola Eropa, barangkali karena haus akan prestasi tim atau klub nasional yang selalu kering.
Tulisan ini tidak bermaksud menggugah agar sepakbola Indonesia seperti Jepang, masih sangat jauh. Memulainya pun entah dari mana. Mungkin hanya sekedar catatan dan memori pernah menyaksikan kegiatan sepakbola yang "berbudaya". Juga keinginan agar suatu saat sepakbola Indonesia dapat mencapai level seperti di Jepang itu, baik prestasi juga industrinya. Haha... miris sekali tapi itulah kenyataannya.