Sabtu, 25 Agustus 2012

Hiburan Sepakbola

Saya beruntung pernah menyaksikan langsung liga sepakbola salah satu negara juara Piala Dunia. Ya, Jepang adalah juara bertahan Piala Dunia (Wanita) setelah di tahun 2011 mengalahkan Amerika Serikat di final. Tapi bukan pertandingan yang membuat saya kagum, melainkan hal lain yang mungkin menjadi faktor pendukung industri sepakbola disana.

Saya menonton salah satu pertandingan J-League, antara Yokohama Marinos (tuan rumah) vs Kashima Antlers di Nissan Stadium, tempat dimainkannya final Piala Dunia 2002 antara Brazil-Jerman. Penonton tuan rumah paling semarak di tribun belakang gawang sebelah kanan saya. Sepanjang pertandingan mereka bernyanyi menyemangati tim-nya sambil mengibar-ngibarkan bendera klub berukuran besar. Sementara di sisi barat (kiri) belakang gawang didominasi fans tim tamu yang juga menyemangati tim-nya.

Untuk pertandingannya saya tidak begitu terkesan. Biapun jika dibandingkan permainannya cemen, pertandingan PSMS dan atmosfer di stadion Teladan saya rasa jauh lebih seru (selain karena jagoan saya, juga ada-ada saja tingkah atau penonton yang lepas). Bisa pula sambil makan sate kerang (yang harganya diobral setelah separoh babak kedua, nyam-nyam..). Perbedaan pertama yang mengesankan saya adalah dengan stadion yang besar seperti itu, penonton masih dapat melihat dengan jelas pemain di lapangan dan permainan mereka karena angle dan warnanya. Hebat memang arsitek yang mendesain stadion itu.

Hal lain yang membuat saya kagum terjadi setelah pertandingan. Penonton keluar dengan tertib, seperti baru nonton film di bioskop saja bukan sepakbola. Padahal barangkali perlu diingat bahwa prestasi mereka sama sekali tidak main-main: juara Piala Asia beberapa kali dan langganan tetap Piala Dunia. Tidak ada yang heboh, ribut atau sok jago, sehingga tidak ada yang merasa tidak nyaman. Paling anak-anak yang berlarian bermain-main. Lalu kemana bendera-bendera besar yang dikibarkan itu? Saya lihat anak-anak muda itu telah menggulungnya dengan rapi. Bendera-bendera itu memang dirancang sedemikian rupa dan dipasang pada tongkat yang menjadi tiangnya saat dikibarkan. 

Saya juga melihat sebuah antrian panjang. Ketika saya maju mengecek, ternyata di sebuah ruangan kecil, duduk seorang pemain bola yang telah berjas rapi, memberikan tanda tangan pada penonton. Ada yang memintanya dibubuhkan pada buku, ada juga juga pada kaus. Kesanalah para penonton itu mengantri dengan sabar. Ternyata setelah pertandingan, pemain top klub tuan rumah segera berganti pakaian dan bersiap melayani fans yang ingin meminta tanda tangan.

Saya menyaksikan langsung hal sederhana tapi mengagumkan, bagaimana sepakbola dibuat agar diminati oleh sebanyak mungkin orang.

Saat di Medan, saya pernah mengajak seorang teman untuk menonton pertandigan PSMS. Jawab dia, "nggak ah, takut rusuh." Betul juga, saat itu PSMS kalah, dan penonton anehnya tidak bisa terima. Mereka menunggui bus pemain tim lawan dan melemparinya dengan batu. Satu unit mobil sebuah stasiun TV turut jadi korban. Saya harus berputar dari jalan yang biasa untuk menghindari para penonton yang lepas kendali. Di Jakarta, Senayan adalah daerah yang wajib dihindari kendaraan pribadi seperti mobil saat ada pertandingan sepakbola kalau tidak mau rugi.

Sayang, padahal selain olahraga, sebenarnya sepakbola dapat menjadi ajang hiburan buat keluarga. Industri sepakbola juga memiliki potensi penggerak ekonomi mirip industri pariwisata. Tiket masuk, jajanan, transportasi, bahkan akomodasi adalah contoh beberapa bsinis yang akan berputar. Ratusan ribu bahkan jutaan rupiah bisa dibelanjakan satu orang Indonesia untuk jersey dan asesoris klub luar negeri, apalagi klub lokal kebanggaan, kalau manajemen baik dan punya prestasi. Bisa juga membuat harum nama negara (walau bisa pula membuat buruk seperti kekalahan fenomenal 0-10 vs Bahrain). Puluhan juta rakyat Indonesia akhirnya menjadi supporter "fanatik" klub sepakbola Eropa, barangkali karena haus akan prestasi tim atau klub nasional yang selalu kering.

Tulisan ini tidak bermaksud menggugah agar sepakbola Indonesia seperti Jepang, masih sangat jauh. Memulainya pun entah dari mana. Mungkin hanya sekedar catatan dan memori pernah menyaksikan kegiatan sepakbola yang "berbudaya". Juga keinginan agar suatu saat sepakbola Indonesia dapat mencapai level seperti di Jepang itu, baik prestasi juga industrinya. Haha... miris sekali tapi itulah kenyataannya.

Rabu, 22 Agustus 2012

Pegawai Jadi Enterpreneur

Waktu kos dulu saya memiliki beberapa teman yang berdagang di Pasar Tanah Abang. Mereka rata-rata masih muda, seorang yang tertua seumuran saya, tapi usaha dagang mereka sudah cukup mapan. Salah satunya sudah ekspor pakaian ke negara-negara Afrika dengan nilai lebih dari 1 milyar. Ada juga yang mulanya dulu berdagang kecil-kecilan tapi kemudian jadi juragan, sudah naik pangkat menjadi pemilik konveksi pakaian.

Ada kesamaan yang saya perhatikan dari mereka. Selain sigap mencari uang, mereka biasanya ramah dan mudah bergaul. Mungkin itu dampak profesi mereka sebagai pedagang, bagaimana membangun network/silaturahim sehingga usahanya berkembang. Mulanya tuntutan hidup, kemudian tuntutan pekerjaan, lama kelamaan menjadi kebiasaan (ter-internalisasi istilah organisasinya). Apalagi mencari nafkah di pasar yang persaingannya sangat ketat: kalau tidak pintar mengambil hati calon pembeli dan memberi layanan dengan baik, jangan harap usahanya akan berkelanjutan.

Saya pernah membaca bahwa berbisnis itu sifat dasarnya adalah membantu orang lain. Orang perlu makan, pedagang membuat rumah makan. Masyarakat tidak punya kendaraan untuk bepergian, pebisnis menyediakan angkot. Orang berhalangan atau malas keluar rumah, dibuat layanan antar. Ibu-ibu pekerja kantor perlu mengantarkan ASI untuk bayinya di rumah, yang jeli membuat jasa layanan antar jemput ASI.

Beruntunglah orang yang punya sifat suka membantu orang lain, karena pada dasarnya semua orang membutuhkan bantuan. Tinggal tambahkan unsur komersil yang layak, diyakini dia sudah bisa survive. Apalagi ditambah dengan kemampuan manajemen yang tepat, kemungkinan besar dapat hidup berkecukupan. Mungkin karena itu disebut 9 dari 10 pintu rezeki adalah dari berbisnis/dagang.

Sedikit intermezzo, lain halnya dengan oknum pegawai negeri yang saat ini masih ada. Kebanyakan layanan pemerintah dibuat adalah untuk melayani urusan orang. Tapi apa lacur, di tangan oknum-oknum malah pelayanan yang mestinya mudah itu malah menjadi sulit dan harus mengeluarkan uang. Alih-alih melihat kesempatan untuk membantu, yang mereka lihat saat masyarakat datang adalah kesempatan untuk mendapat duit. Istilahnya “apalah yang bisa diduitin”. Itulah yang mungkin dilihat oknum-oknum tersebut saat masyarakat mencari pekerjaan, mengurus surat-surat, KTP, KK, NPWP, SKBB dan lain sebagainya. Oknum pejabat/pegawai seperti ini saya kira layak kita sebut pegawai celeng.

Lalu bagaimana pegawai berkembang layaknya pedagang? Tentu banyak caranya. Tapi dalam konteks ini, ada satu tulisan menarik yang saya baca yang menyebut bahwa segala sesuatu itu tergantung pada cara pandang. Jadi profesi apapun bisa dipandang sebagai bisnis. Jika dalam bisnis usaha ada pedagang dan konsumen/klien, dalam pekerjaan sebagai karyawan pun bisa begitu. Produk atau jasanya adalah keahlian dan hasil pekerjaan yang diberikan, sementara klien atau konsumen adalah atasan atau pimpinan.

Dengan menganggap hubungan pekerjaan sebagai bisnis/perdagangan - yaitu hubungan antara pebisnis dan klien, bukan antar anak buah dan bos - baik pegawai maupun institusi mendapat keuntungan. Pegawai sadar untuk selalu berusaha memberikan jasa atau produk yang baik kepada “kliennya” sehingga perlu meningkatkan kemampuan dan berusaha sebaik mungkin. Selain itu dia juga akan mendapat reward, baik berupa perkembangan keahlian, kepercayaan maupun reward berbentuk riil lainnya. Hal ini sama halnya dengan pedagang yang usahanya berkembang secara berkelanjutan. Begitupun sebaliknya, insitusi juga memperoleh produk atau jasa yang terbaik dan terus menerus diperbaiki. Dengan demikian karyawanpun sebenarnya dapat disebut lebih sebagai entrepreneur bukan orang gajian.