Waktu kos dulu saya memiliki beberapa teman yang berdagang di Pasar
Tanah Abang. Mereka rata-rata masih muda, seorang yang tertua seumuran
saya, tapi usaha dagang mereka sudah cukup mapan. Salah satunya sudah
ekspor pakaian ke negara-negara Afrika dengan nilai lebih dari 1 milyar.
Ada juga yang mulanya dulu berdagang kecil-kecilan tapi kemudian jadi
juragan, sudah naik pangkat menjadi pemilik konveksi pakaian.
Ada
kesamaan yang saya perhatikan dari mereka. Selain sigap mencari uang,
mereka biasanya ramah dan mudah bergaul. Mungkin itu dampak profesi
mereka sebagai pedagang, bagaimana membangun network/silaturahim
sehingga usahanya berkembang. Mulanya tuntutan hidup, kemudian tuntutan
pekerjaan, lama kelamaan menjadi kebiasaan (ter-internalisasi
istilah organisasinya). Apalagi mencari nafkah di pasar yang
persaingannya sangat ketat: kalau tidak pintar mengambil hati calon
pembeli dan memberi layanan dengan baik, jangan harap usahanya akan
berkelanjutan.
Saya pernah membaca bahwa berbisnis itu
sifat dasarnya adalah membantu orang lain. Orang perlu makan, pedagang
membuat rumah makan. Masyarakat tidak punya kendaraan untuk bepergian,
pebisnis menyediakan angkot. Orang berhalangan atau malas keluar rumah,
dibuat layanan antar. Ibu-ibu pekerja kantor perlu mengantarkan ASI
untuk bayinya di rumah, yang jeli membuat jasa layanan antar jemput ASI.
Beruntunglah
orang yang punya sifat suka membantu orang lain, karena pada dasarnya
semua orang membutuhkan bantuan. Tinggal tambahkan unsur komersil yang
layak, diyakini dia sudah bisa survive. Apalagi ditambah dengan
kemampuan manajemen yang tepat, kemungkinan besar dapat hidup
berkecukupan. Mungkin karena itu disebut 9 dari 10 pintu rezeki adalah
dari berbisnis/dagang.
Sedikit intermezzo, lain halnya
dengan oknum pegawai negeri yang saat ini masih ada. Kebanyakan layanan
pemerintah dibuat adalah untuk melayani urusan orang. Tapi apa lacur, di
tangan oknum-oknum malah pelayanan yang mestinya mudah itu malah
menjadi sulit dan harus mengeluarkan uang. Alih-alih melihat kesempatan
untuk membantu, yang mereka lihat saat masyarakat datang adalah
kesempatan untuk mendapat duit. Istilahnya “apalah yang bisa diduitin”.
Itulah yang mungkin dilihat oknum-oknum tersebut saat masyarakat mencari
pekerjaan, mengurus surat-surat, KTP, KK, NPWP, SKBB dan lain
sebagainya. Oknum pejabat/pegawai seperti ini saya kira layak kita sebut
pegawai celeng.
Lalu bagaimana pegawai berkembang
layaknya pedagang? Tentu banyak caranya. Tapi dalam konteks ini, ada
satu tulisan menarik yang saya baca yang menyebut bahwa segala sesuatu
itu tergantung pada cara pandang. Jadi profesi apapun bisa dipandang
sebagai bisnis. Jika dalam bisnis usaha ada pedagang dan konsumen/klien,
dalam pekerjaan sebagai karyawan pun bisa begitu. Produk atau jasanya
adalah keahlian dan hasil pekerjaan yang diberikan, sementara klien atau
konsumen adalah atasan atau pimpinan.
Dengan
menganggap hubungan pekerjaan sebagai bisnis/perdagangan - yaitu
hubungan antara pebisnis dan klien, bukan antar anak buah dan bos - baik
pegawai maupun institusi mendapat keuntungan. Pegawai sadar untuk
selalu berusaha memberikan jasa atau produk yang baik kepada “kliennya”
sehingga perlu meningkatkan kemampuan dan berusaha sebaik mungkin.
Selain itu dia juga akan mendapat reward, baik berupa perkembangan keahlian, kepercayaan maupun reward berbentuk
riil lainnya. Hal ini sama halnya dengan pedagang yang usahanya
berkembang secara berkelanjutan. Begitupun sebaliknya, insitusi juga
memperoleh produk atau jasa yang terbaik dan terus menerus diperbaiki.
Dengan demikian karyawanpun sebenarnya dapat disebut lebih sebagai entrepreneur bukan orang gajian.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
-
Ramai berita tentang Waka DPR yang anaknya diminta dijemput oleh KJRI New York mengingatkan saya sebuah kata "Kopasjiba" yang say...
-
Saya sedang kembali ke apartmen kampus ketika berpapasan dengan seorang pria bule yang menuju Curtin Oval, lapangan sepakbola kampus. Meliha...
-
Kita yang bukan penutur asli bahasa Inggris mudah keliru mengartikan Moral Hazard . Saya dua kali mendengar orang menyebutkan istilah itu t...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar