Rabu, 22 Agustus 2012

Pegawai Jadi Enterpreneur

Waktu kos dulu saya memiliki beberapa teman yang berdagang di Pasar Tanah Abang. Mereka rata-rata masih muda, seorang yang tertua seumuran saya, tapi usaha dagang mereka sudah cukup mapan. Salah satunya sudah ekspor pakaian ke negara-negara Afrika dengan nilai lebih dari 1 milyar. Ada juga yang mulanya dulu berdagang kecil-kecilan tapi kemudian jadi juragan, sudah naik pangkat menjadi pemilik konveksi pakaian.

Ada kesamaan yang saya perhatikan dari mereka. Selain sigap mencari uang, mereka biasanya ramah dan mudah bergaul. Mungkin itu dampak profesi mereka sebagai pedagang, bagaimana membangun network/silaturahim sehingga usahanya berkembang. Mulanya tuntutan hidup, kemudian tuntutan pekerjaan, lama kelamaan menjadi kebiasaan (ter-internalisasi istilah organisasinya). Apalagi mencari nafkah di pasar yang persaingannya sangat ketat: kalau tidak pintar mengambil hati calon pembeli dan memberi layanan dengan baik, jangan harap usahanya akan berkelanjutan.

Saya pernah membaca bahwa berbisnis itu sifat dasarnya adalah membantu orang lain. Orang perlu makan, pedagang membuat rumah makan. Masyarakat tidak punya kendaraan untuk bepergian, pebisnis menyediakan angkot. Orang berhalangan atau malas keluar rumah, dibuat layanan antar. Ibu-ibu pekerja kantor perlu mengantarkan ASI untuk bayinya di rumah, yang jeli membuat jasa layanan antar jemput ASI.

Beruntunglah orang yang punya sifat suka membantu orang lain, karena pada dasarnya semua orang membutuhkan bantuan. Tinggal tambahkan unsur komersil yang layak, diyakini dia sudah bisa survive. Apalagi ditambah dengan kemampuan manajemen yang tepat, kemungkinan besar dapat hidup berkecukupan. Mungkin karena itu disebut 9 dari 10 pintu rezeki adalah dari berbisnis/dagang.

Sedikit intermezzo, lain halnya dengan oknum pegawai negeri yang saat ini masih ada. Kebanyakan layanan pemerintah dibuat adalah untuk melayani urusan orang. Tapi apa lacur, di tangan oknum-oknum malah pelayanan yang mestinya mudah itu malah menjadi sulit dan harus mengeluarkan uang. Alih-alih melihat kesempatan untuk membantu, yang mereka lihat saat masyarakat datang adalah kesempatan untuk mendapat duit. Istilahnya “apalah yang bisa diduitin”. Itulah yang mungkin dilihat oknum-oknum tersebut saat masyarakat mencari pekerjaan, mengurus surat-surat, KTP, KK, NPWP, SKBB dan lain sebagainya. Oknum pejabat/pegawai seperti ini saya kira layak kita sebut pegawai celeng.

Lalu bagaimana pegawai berkembang layaknya pedagang? Tentu banyak caranya. Tapi dalam konteks ini, ada satu tulisan menarik yang saya baca yang menyebut bahwa segala sesuatu itu tergantung pada cara pandang. Jadi profesi apapun bisa dipandang sebagai bisnis. Jika dalam bisnis usaha ada pedagang dan konsumen/klien, dalam pekerjaan sebagai karyawan pun bisa begitu. Produk atau jasanya adalah keahlian dan hasil pekerjaan yang diberikan, sementara klien atau konsumen adalah atasan atau pimpinan.

Dengan menganggap hubungan pekerjaan sebagai bisnis/perdagangan - yaitu hubungan antara pebisnis dan klien, bukan antar anak buah dan bos - baik pegawai maupun institusi mendapat keuntungan. Pegawai sadar untuk selalu berusaha memberikan jasa atau produk yang baik kepada “kliennya” sehingga perlu meningkatkan kemampuan dan berusaha sebaik mungkin. Selain itu dia juga akan mendapat reward, baik berupa perkembangan keahlian, kepercayaan maupun reward berbentuk riil lainnya. Hal ini sama halnya dengan pedagang yang usahanya berkembang secara berkelanjutan. Begitupun sebaliknya, insitusi juga memperoleh produk atau jasa yang terbaik dan terus menerus diperbaiki. Dengan demikian karyawanpun sebenarnya dapat disebut lebih sebagai entrepreneur bukan orang gajian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar