Senin, 24 Agustus 2009

Cerita dari Papua

*tulisan tanggal 24 Agustus 2009.

Alhamdulillah... beberapa hari lalu sampai juga kaki saya melangkah di tanah Papua. Kantor melakukan rapat terbatas dengan Kanwil Papua dan Maluku di Jayapura. Saya sebelumnya tak pernah membayangkan akan pernah kesana. Dan sejujurnya, saya baru tahu letak tepatnya Jayapura beberapa hari sebelum berangkat, hehe... Paling timur hampir berbatasan dengan Papua Nugini. Apabila Merauke yang terkenal itu terletak di selatan, Jayapura tepat berada di utaranya.

Kami berangkat menggunakan pesawat Garuda melalui rute Jakarta-Denpasar-Timika-Jayapura. Berangkat jam setengah 12 malam, sampai di Jayapura jam 9 pagi waktu setempat (jam 7 WIB). Pesawat Garuda sebelumnya ada juga yang berangkat ke Jayapura jam 9 malam dengan transit di Makassar dan Biak. Selain itu ada juga Lion dan Batavia! Banyak juga. Pesawat yang kami tumpangi penuh, mulai dari Jakarta-Denpasar, Denpasar-Timika, sampai Timika-Jayapura. Banyak juga bule kelihatannya ekspatriat, juga turis yang kelihatan dari pakaian dan penampilan mereka.

* * *

Setiba di Jayapura, apa yang saya bayangkan selama ini tentang kota ini sangat berbeda. Di bandara Sentani, masih banyak porter orang asli Papua yang menyambangi atau cuma melihat2 kita berharap untuk dapat mengangkat bagasi dengan imbalan upah. Banyak pula orang2 bertampang melayu, tapi hal ini masih biasa di bandara. Sepanjang jalan memasuki kota, masih juga banyak orang Papua yang kelihatannya nongkrong2 saja atau duduk2 di lepau. Namun semakin mendekati kota (perjalanan dari bandara ke Jayapura +- 1 jam), semakin sedikit penduduk asli. Di Jayapura, begitu banyak orang, mobil-mobil dan sepeda motor hilir mudik tanda kehidupan ekonomi, hampir seluruhnya orang berpostur dan berkulit melayu. Saya komentar kepada teman yang menjemput bahwa ini tidak seperti di Papua. Dia tertawa. Katanya orang yang baru sampai di Jayapura biasanya berkomentar seperti itu, termasuk dia sendiri. Ya betul, saya seperti melihat kota di Jawa, dan pada satu sudut, seperti melihat Sei Rampah di Sumatera Utara.

Dia bilang bahwa rasio pendatang dengan total penduduk Jayapura adalah 80%. Darimana angka 80 itu, wallahu a'lam. Tapi yang saya lihat, penduduk asli disana, kebanyakan pekerja informal yang paling informal. Satpam, pelayan, penjual pinang, petugas parkir dll. Yang dilayani orang pendatang. Survivor pekerja informal lapisan berikutnya adalah pendatang. 3 kali saya naik angkot di Jayapura, 3 3 supirnya orang Jawa (Timur). Begitu pula warung tempat saya ngeteh dan makan pisang goreng. Pengurus masjid dan pengunjung warung, orang Makassar. Pemilik toko souvenir, orang Makassar. Tapi salah satunya bermarga Hasibuan beristri boru Nasution.

* * *

Dulu kalau mendengar kota atau daerah manapun di Papua, yang terlintas hanyalah Papua dan orang Papua yang khas: berkulit gelap dan keriting. Baik itu Sorong, Manokwari, Jayapura, Yahukimo, Asmat, Timika ataupun lain-lain. Lebih parah, asosiasinya orang-orang berkoteka atau rok rumbai-rumbai.

Setelah sedikit survey sebelum berangkat, saya baru sadar kembali bahwa Papua itu besar sekali. Pulau Papua sendiri adalah pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland. Mereka juga terdiri dari banyak suku. Informasi dari teman, bahkan yang berada di Jayapura terbagi dalam suku-suku. Lebih ekstrim daripada di Sumut, disana bahkan setiap kampung beberapa ratus meter sudah berbeda bahasa. Apalagi yang jauh daerahnya. Mereka berbeda suku dan bahasa ibu. Maka menyamakan orang Manokwari dengan orang Timika mirip dengan menyamakan orang Nias dengan orang Lampung. Tapi yang menyatukan mereka adalah lingua franca bahasa Indonesia.

Karena ketidaktahuan itu, biasanya apabila ada kejadian misalnya di Timika, keluarga teman-teman yang berada di Jayapura khawatir tentang mereka. Padahal jarak Jayapura - Timika itu hampir satu jam penerbangan pesawat jet. Tapi bagi yang telah mengenal, bisa membedakan seorang Papua apakah asli Sorong, Merauke, Serui dan lainnya. Serupa dengan kita yang bisa membedakan orang Aceh dari orang Sumatera Selatan secara umum.

Jadi di Jayapura, tidak akan ditemukan orang seperti pedalaman (misalnya suku Dani). Ataupun yang menggunakan koteka dan perempuan bertelanjang dada seperti di pedalaman Wamena. Ali Muchtar Ngabalin, anggota DPR itu, adalah orang Fak-fak.

Di lain pihak, banyak orang Papua yang menganggap bahwa selain orang Papua itu adalah orang Jawa. Semua orang Indonesia diluar orang Papua adalah orang Jawa.

Di Jayapura sudah ada KFC, Pizza Hut, Dunkin Donuts, Excelso, dan Gramedia yang terletak di kawasan yang berbeda-beda. Juga karaoke Happy Puppy. Franchise restaurant seperti itu yang belum ada cuma McDonald.

(Jayapura difoto dari bukit)
* * *

Untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah lain, modus transportasi yang ada di Papua adalah penerbangan pesawat. Tidak ada jalan lintas pulau. Tidak ada bus AKAP. Ini karena kontur tanahnya yang bergunung-gunung dan hutan melulu. Kalaupun dibangun jalan aspal, masih tidak ekonomis karena penduduk dan pengguna sedikit. Jayapura sendiri adalah kota teluk dengan sebahagian besar jalan berkelok-kelok mendaki bukit. Sebagai gambaran, menurut saya mirip kota Parapat dengan ukuran lebih besar daripada kota Siantar dan lebih bersih.

Karena itu, di Papua terminal pesawat lebih ramai daripada terminal angkot.

Begitupun, karena penumpang juga sedikit, yang digunakan adalah pesawat2 kecil dari capung sampai ke Twin Otter dengan 4 penumpang. Pesawat-pesawat kecil ini jugalah yang mengangkut barang-barang dagangan ke daerah pedalaman. Pesawat2 ini biasanya terbang rendah, dan operasinya sangat tergantung cuaca. Saya bertanya terbang di berapa kaki? dijawab tidak tau berapa kaki tapi gunung2 di sebelah lebih tinggi bapak. Apabila cuaca jelek tidak ada penerbangan. Apabila sesudah take off cuaca memburuk maka mereka akan kembali ke pangkalan.

Karena pengangkutannya pesawat, harga barang2 apabila sampai di pedalaman sangat mahal. Seorang pegawai Pemda Wamena yang kebetulan duduk di sebelah saya di pesawat mengatakan kalau satu zak semen di daerahnya bisa seharga Rp 1 juta! Makanya sulit untuk pembangunan kalau tidak ada jalur transportasi murah. Karena itu mereka sedang berjuang untuk bisa membuat jalan darat dari Wamena ke Merauke di daerah Papua selatan berjarak 200 km (Medan - Tebing Tinggi = 80 km), berharap harga bahan kebutuhan akan dapat ditekan lebih rendah.