Sabtu, 22 Desember 2012
Misi
Misi disini bukan yang terkadang kita dengar "misi pak, misi bu" tapi yang berasal dari kata "mission" dalam bahasa Inggris. Salah satu artinya adalah tugas (duty atau task) yang harus dilakukan seseorang. Kenapa saya ingin menulis soal misi? Karena ingat misi dan menjalankannya adalah hal substansial dan penting buat saya dan manusia lainnya, pekerja ataupun organisasi. Dengan mengetahui misi kita akan punya tujuan, dan karena misi, cara kita melakukan sesuatu bisa sangat berbeda.
Ambil contoh supir angkot. Jika misinya adalah untuk mengejar setoran, dia akan berupaya menghasilkan uang sebanyak mungkin bagaimanapun caranya. Penumpang bukanlah subyek yang penting. Apakah mereka nyaman atau aman, mungkin masuk hitungan, tapi prioritas ke beberapa. Lihatlah di Jakarta penumpang bus tidak satu-dua kali diturunkan di jalan tol. Mungkin yang dipentingkan penyelenggara adalah ongkos mereka, bukan keselamatannya. Lain hal kalau misi supir angkot itu adalah "menyediakan angkutan yang baik untuk masyarakat", hal pertama diupayakan adalah bagaimana penumpang sampai ke tujuan, nyaman, uang nomor dua. Apalagi jika ada seorang supir angkot idealis yang punya misi "mencerdaskan kehidupan bangsa", tentu dia akan mengutamakan mengangkut anak-anak sekolah atau mahasiwa/i dulu jangan sampai ada yang keleleran.
Begitu juga profesi lain. Pegawai pajak, dokter, dosen, orangtua (parents bukan old man/woman), politisi, karyawan perlu tahu misi karena akan menentukan bagaimana mereka bekerja. Apakah ingin membuat masyarakat patuh pada undang-undang, menciptakan masyarakat yang sehat, mencerdaskan orang-orang, atau hanya sekedar ingin meningkatkan status sosial, dapat kerja atau bahkan ingin kaya saja. Ada yang memiiki misi menjadi PNS untuk nantinya dapat pensiun. Misi seorang polisi lalu lintas akan menentukan posisi dia di perempatan, jika ingin menertibkan lalu lintas tentu dia akan berada di depan bahkan di tengah perempatan. Tapi jika dia punya misi yang berbeda, dia bisa "berondok" di balik pohon ataupun bangunan sekitar lalu, "ciluk...ba.." jika ada yang melanggar aturan lalu lintas.
Dalam wawancara pekerjaan atau beasiswa, salah satu yang sering ditanyakan adalah visi dan sekaligus, misi. Visi adalah pandangan seseorang bagaimana dia nantinya, bisa dalam jangka menengah (3-5 tahun) atau panjang (sekitar 10 tahun). Memang terdengar romantik untuk jadi seperti judul lagu Mr. Big "Going Where the Wind Blows" atau "saya menjalani hidup seperti air mengalir saja". Tapi pewawancara biasanya mencari orang bertipe pebasket NBA Grant Hill dalam iklan Sp**te yang bilang "Ku Tau Yang Ku Mau!!". Orang-orang yang punya visi. Mereka tau misi dia dan punya rencana bagaimana mengupayakannya. Soal berhasil atau tidak itu urusan belakang. Banyak hal yang menentukan keberhasilan tapi hal pertama yang harus dilakukan adalah tau dulu kemana arah yang dituju. Baru kemudian ditentukan langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menjalankan misi itu.
Jadi sudah ingatkah misi profesi dan misi pribadimu?
Jakarta, 22 Desember 2012
Bertepatan sehari dipanggilnya ke rahmatullah uwak kami tercinta Latifah Hanum Pardede (kakak Ibu) di Medan. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosa beliau dan menempatkan beliau di tempat yang baik di sisi-Nya. Amin YRA.
Minggu, 16 Desember 2012
Don't Judge a Book by what Shown on TV
Baca-baca berita tentang Pak Bolot (70) baru-baru ini, saya teringat tulisan berdasarkan pengalaman saya beberapa waktu lalu. Yah pelawak juga juga manusia, melawak juga adalah just another profession.
---
Umumnya citra seorang pelawak itu lucu bukan? Bukan karena pencitraan tapi kita kira sifat mereka memang begitu. Saya punya pengalaman bertemu dengan seorang pelawak yang bikin saya ingin tertawa terbahak-bahak, tapi karena satu hal hanya bisa dilakukan dalam hati :).
Suatu malam beberapa tahun lalu, saya dan beberapa teman-teman berniat ngumpul. Saya dan 2 orang teman, Febri dan, sebut saja namanya Jaka sudah bergabung. Seorang lainnya sedang OTW dan satu lagi sedang ada acara. Yang terakhir ini, namanya Febri juga tapi kita sebut saja Febri II minta dijemput karena dia sedang tidak bawa kendaraan. Saat itu dia sedang jadi EO acara kampanye pemilu sebuah partai politik. Acaranya di hotel Best Western Asean International.
Waktu kami sampai, via telpon Febri II bilang dia masih belum bisa keluar. Jadi dia menawarkan kami untuk ikut nonton sesi hiburan acara dia dulu, setelah agak longgar baru keluar bersama-sama. Kami pun setuju. Saya, Febri dan Jaka naik ke tempat acara (karena hotel Best Western cukup tinggi, mungkin di lantai 10-12, pastinya saya sudah lupa).
Saat masuk lift, jrejeeng.... masuk pula seorang pelawak tenar. Dia ini cukup senior, lama berkarir di Srimulat tapi sampai saat ini masih eksis. Postur tubuhnya tinggi, sering berpakaian safari. Beberapa waktu lalu masih saya lihat main sinetron komedi dengan pemain-pemain OVJ.
Saat baru di dalam lift, Jaka dengan sumringah dan senyum lebar senang karena merasa akrab dengan seringnya menonton dia di tivi, menyapa dengan ramah, "APA KABAR PAK T**SAAN... :)"
(Kalau anda ingin membayangkan, kawan saya Jaka ini wajahnya mirip Eki Lamoh waktu muda cuma versi Tapanuli. Tapi miriplah. Nah bayangkanlah dia dengan muka sumringah dan senyum lebar).
Yang lalu dijawab oleh si pelawak dengan singkat, "Baik". Lalu tangannya dimasukkan ke kantong, dagu didongakkan ke atas, melihat ke arah angka di lift.
Saya liat kejadian itu langsung pingin ketawa ngakak. Ketawa antara kasian dengan Jaka, juga merasa tak cocok dengan sikap si pelawak. Haha.. dasar katrookk... pikir saya. Febri juga diam saja, melirik ke si pelawak, tapi saya gak tau apa dia juga pingin ketawa apa pingin memaki. Tapi toh itu hak si pelawak untuk bersikap begitu.
Alhasil di sepanjang lift naik ke atas, semua hanya berdiam diri. Kami dan pengguna lift lainnya berdiri di samping, dan si pelawak berdiri di depan. Tangan di kantong, dagu terangkat ke atas. Jaka mungkin tengsin, tapi cuma bisa ngomel dalam hati k&%$%^$*$@#*!!
---
Umumnya citra seorang pelawak itu lucu bukan? Bukan karena pencitraan tapi kita kira sifat mereka memang begitu. Saya punya pengalaman bertemu dengan seorang pelawak yang bikin saya ingin tertawa terbahak-bahak, tapi karena satu hal hanya bisa dilakukan dalam hati :).
Suatu malam beberapa tahun lalu, saya dan beberapa teman-teman berniat ngumpul. Saya dan 2 orang teman, Febri dan, sebut saja namanya Jaka sudah bergabung. Seorang lainnya sedang OTW dan satu lagi sedang ada acara. Yang terakhir ini, namanya Febri juga tapi kita sebut saja Febri II minta dijemput karena dia sedang tidak bawa kendaraan. Saat itu dia sedang jadi EO acara kampanye pemilu sebuah partai politik. Acaranya di hotel Best Western Asean International.
Waktu kami sampai, via telpon Febri II bilang dia masih belum bisa keluar. Jadi dia menawarkan kami untuk ikut nonton sesi hiburan acara dia dulu, setelah agak longgar baru keluar bersama-sama. Kami pun setuju. Saya, Febri dan Jaka naik ke tempat acara (karena hotel Best Western cukup tinggi, mungkin di lantai 10-12, pastinya saya sudah lupa).
Saat masuk lift, jrejeeng.... masuk pula seorang pelawak tenar. Dia ini cukup senior, lama berkarir di Srimulat tapi sampai saat ini masih eksis. Postur tubuhnya tinggi, sering berpakaian safari. Beberapa waktu lalu masih saya lihat main sinetron komedi dengan pemain-pemain OVJ.
Saat baru di dalam lift, Jaka dengan sumringah dan senyum lebar senang karena merasa akrab dengan seringnya menonton dia di tivi, menyapa dengan ramah, "APA KABAR PAK T**SAAN... :)"
(Kalau anda ingin membayangkan, kawan saya Jaka ini wajahnya mirip Eki Lamoh waktu muda cuma versi Tapanuli. Tapi miriplah. Nah bayangkanlah dia dengan muka sumringah dan senyum lebar).
Yang lalu dijawab oleh si pelawak dengan singkat, "Baik". Lalu tangannya dimasukkan ke kantong, dagu didongakkan ke atas, melihat ke arah angka di lift.
Saya liat kejadian itu langsung pingin ketawa ngakak. Ketawa antara kasian dengan Jaka, juga merasa tak cocok dengan sikap si pelawak. Haha.. dasar katrookk... pikir saya. Febri juga diam saja, melirik ke si pelawak, tapi saya gak tau apa dia juga pingin ketawa apa pingin memaki. Tapi toh itu hak si pelawak untuk bersikap begitu.
Alhasil di sepanjang lift naik ke atas, semua hanya berdiam diri. Kami dan pengguna lift lainnya berdiri di samping, dan si pelawak berdiri di depan. Tangan di kantong, dagu terangkat ke atas. Jaka mungkin tengsin, tapi cuma bisa ngomel dalam hati k&%$%^$*$@#*!!
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Ramai berita tentang Waka DPR yang anaknya diminta dijemput oleh KJRI New York mengingatkan saya sebuah kata "Kopasjiba" yang say...
-
Saya sedang kembali ke apartmen kampus ketika berpapasan dengan seorang pria bule yang menuju Curtin Oval, lapangan sepakbola kampus. Meliha...
-
Kita yang bukan penutur asli bahasa Inggris mudah keliru mengartikan Moral Hazard . Saya dua kali mendengar orang menyebutkan istilah itu t...