Minggu, 16 Desember 2012

Don't Judge a Book by what Shown on TV

Baca-baca berita tentang Pak Bolot (70) baru-baru ini, saya teringat tulisan berdasarkan pengalaman saya beberapa waktu lalu. Yah pelawak juga juga manusia, melawak juga adalah just another profession

---

Umumnya citra seorang pelawak itu lucu bukan? Bukan karena pencitraan tapi kita kira sifat mereka memang begitu. Saya punya pengalaman bertemu dengan seorang pelawak yang bikin saya ingin tertawa terbahak-bahak, tapi karena satu hal hanya bisa dilakukan dalam hati :).

Suatu malam beberapa tahun lalu, saya dan beberapa teman-teman berniat ngumpul. Saya dan 2 orang teman, Febri dan, sebut saja namanya Jaka sudah bergabung. Seorang lainnya sedang OTW dan satu lagi sedang ada acara. Yang terakhir ini, namanya Febri juga tapi kita sebut saja Febri II minta dijemput karena dia sedang tidak bawa kendaraan. Saat itu dia sedang jadi EO acara kampanye pemilu sebuah partai politik. Acaranya di hotel Best Western Asean International.

Waktu kami sampai, via telpon Febri II bilang dia masih belum bisa keluar. Jadi dia menawarkan kami untuk ikut nonton sesi hiburan acara dia dulu, setelah agak longgar baru keluar bersama-sama. Kami pun setuju. Saya, Febri dan Jaka naik ke tempat acara (karena hotel Best Western cukup tinggi, mungkin di lantai 10-12, pastinya saya sudah lupa).

Saat masuk lift, jrejeeng.... masuk pula seorang pelawak tenar. Dia ini cukup senior, lama berkarir di Srimulat tapi sampai saat ini masih eksis. Postur tubuhnya tinggi, sering berpakaian safari. Beberapa waktu lalu masih saya lihat main sinetron komedi dengan pemain-pemain OVJ.

Saat baru di dalam lift, Jaka dengan sumringah dan senyum lebar senang karena merasa akrab dengan seringnya menonton dia di tivi, menyapa dengan ramah, "APA KABAR PAK T**SAAN... :)"

(Kalau anda ingin membayangkan, kawan saya Jaka ini wajahnya mirip Eki Lamoh waktu muda cuma versi Tapanuli. Tapi miriplah. Nah bayangkanlah dia dengan muka sumringah dan senyum lebar).

Yang lalu dijawab oleh si pelawak dengan singkat, "Baik". Lalu tangannya dimasukkan ke kantong, dagu didongakkan ke atas, melihat ke arah angka di lift.

Saya liat kejadian itu langsung pingin ketawa ngakak. Ketawa antara kasian dengan Jaka, juga merasa tak cocok dengan sikap si pelawak. Haha.. dasar katrookk... pikir saya. Febri juga diam saja, melirik ke si pelawak, tapi saya gak tau apa dia juga pingin ketawa apa pingin memaki. Tapi toh itu hak si pelawak untuk bersikap begitu.

Alhasil di sepanjang lift naik ke atas, semua hanya berdiam diri. Kami dan pengguna lift lainnya berdiri di samping, dan si pelawak berdiri di depan. Tangan di kantong, dagu terangkat ke atas. Jaka mungkin tengsin, tapi cuma bisa ngomel dalam hati k&%$%^$*$@#*!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar