Rabu, 30 Maret 2016

Mengejar Beasiswa

Original post 6 Juni 2013.

Sebentar lagi musim seleksi beasiswa terutama Australia Awards. Selamat buat teman-teman yang lolos seleksi awal (TPA dan psikotes) di DJP. Semoga lulus sampai akhirnya berangkat ke universitas yang dipilih. 

Saya ingin berbagi pengalaman tentang cara memperoleh beasiswa versi saya. Ditulis sebagai tambahan untuk tips beasiswa yang banyak tersedia di internet. Saya penerima beasiswa Joint Japan-the World Bank Graduate Scholarship Program (JJ-WBGSP) tahun 2006 dan Australia Development Scholarship (ADS) tahun 2011 (sejak 2014 menjadi Australia Awards), jadi yang saya tulis relevansinya sesuai seleksi beasiswa tersebut. Keduanya beasiswa dengan proses seleksi aplikasi dan wawancara.  

1. Keuntungan Kumulatif

Saya mengambil istilah ini dari buku "Superfreakonomics" Levitt dan Dubner. Artinya adalah suatu keuntungan/kelebihan yang membawa keuntungan/kelebihan yang lain. Jadi sangat penting untuk memperjuangkan pencapaian/prestasi (achievement) apapun, sekecil apapun. Bisa jadi pencapaian itu akan membuka jalan untuk keuntungan lain, lalu keuntungan-keuntungan lainnya. Begitu juga prestasi sebelumnya akan memperbesar kemungkinan memenangkan beasiswa.

Misalnya sebelumnya lulus masuk sekolah tinggi dengan kompetisi ketat atau universitas ternama. Punya IPK yang masuk percentile 80-90% bahkan yang teratas. Pengalaman bekerja, mengajar atau jadi pembicara. Memiliki nilai TOEFL atau IELTS tinggi. Atau juga dipercaya atasan untuk tugas atau proyek tertentu. Semua itu akan menjadi catatan pencapaian yang bisa menonjolkan kita dari kompetitor lainnya. Komite seleksi memiliki waktu yang terbatas untuk memilih aplikasi yang jumlahnya ribuan , sehingga mereka akan melakukan seleksi melalui jalan yang dianggap proven, yaitu melalui pihak lain berupa bukti valid atau referensi tentang prestasi itu.

2. Perhatian dengan lingkungan pekerjaan

Menjadi mahir atau ahli tentu paling baik. Tapi namanya ingin sekolah mungkin kita belum masuk kategori itu. Tapi setidaknya kita harus mengerti dan paham dengan pekerjaan kita, tidak cuek. Juri biasanya menginginkan penerima beasiswa yang punya wawasan luas, paham topik yang dipilihnya, dan jika bisa, punya rencana-rencana yang jelas. Jangan sampai juri bilang "lah hari gini masih mau meneliti ini?" karena yang diajukan sudah obsolete alias apkir. 

Kemudian, juri kemungkinan besar tidak akan memilih pelamar yang menjawab "Saya belum tau. Lihat nanti deh Pak, Bu". Mereka menyukai pelamar yang tau apa yang diinginkannya. Dan untuk tau itu, harus punya perhatian terhadap pekerjaan dan situasi sekitar. Hal ini bisa diperoleh dengan aktif berperan di lingkungan pekerjaan, banyak membaca, atau sekedar mencermati hal yang dibahas di rapat-rapat. Meminjam tips dari the Learning Centre Curtin University (yang ini untuk menjadi successful researcher), kita harus mengetahui apa yang dilakukan sejawat di negeri sendiri dan secara global, dan memiliki bayangan dan perkiraan akan berkontribusi dimana.

Jika sudah melakukan dua hal diatas, tinggal menuangkannya dalam bentuk tertulis (aplikasi).

3. Curriculum Vitae, Referensi, dan Aplikasi

Salah satu syarat beasiswa adalah daftar riwayat hidup atau Curriculum Vitae (CV). Jika kita melakukan hal nomor 1 diatas dengan baik, menulis CV jadi lebih mudah. Tinggal list lalu tulis prestasi yang kita capai sebelumnya. Itu termasuk pendidikan sebelumnya: semakin kompetitif tentu semakin baik. Buat yang punya catatan pendidikan termasuk IPK yang mentereng, menulis CV tentu menjadi hal yang membanggakan. Begitu juga buat mereka yang memenangkan penghargaan (honours), publikasi, atau prestasi-prestasi lain.

Untuk aplikasi, jika selama ini kita melakukan hal nomor 2, kemungkinan besar tentu aplikasi kita akan jelas dan "berisi". Kita tau keadaan ataupun persoalan yang dihadapi oleh pekerjaan sehingga lebih mudah menuangkannya. Dengan sedikit kreatifitas, kita bisa mengira-ngira dimana kita akan berkontribusi. Tidak harus hal besar seperti mengubah Indonesia, tapi hal-hal yang kira-kira memang bisa dilakukan. Pastikan bahwa tujuan beasiswa yang kita lamar sesuai dengan keinginan kita. Beasiswa AMINEF misalnya berbeda tujuannya dengan ADS atau Monbusho. Karena itu informasi tentang beasiswa wajib dipahami dengan baik.  

Selain itu, jika kita selama ini terbiasa melakukan hal nomor 2, kita tidak membuat orang lain - atasan dan pembimbing kuliah sebelumnya - yang diminta memberi referensi menjadi kagok. Dimana-mana referensi itu adalah satu hal yang sangat penting, bahkan yang negatif sifatnya bisa "memaksa" (seperti kate-belece atau "kelentingan kucing" yang membuat tikus takut). Saya pernah membaca bahwa pertimbangan nomor satu perusahaan mempekerjakan karyawan baru itu adalah referensi, baik dari bos perusahaan lain atau dari karyawannya sendiri. Demikian juga saya kira beasiswa.

Komite seleksi juga semakin hari pasti semakin baik dalam menilai referensi. Jika dulu referensi lebih bersifat normatif (sekarang sebagian besar mungkin masih begitu), referensi yang baik itu adalah yang sifatnya menjelaskan hal yang riil dan obyektif. Maksudnya referensi yang menyebut "Si A seorang yang cerdas, rajin dan pekerja keras" itu normatif. Semua orang bisa dianggap seperti itu. Referensi yang lebih riil adalah "Si A ikut dalam proyek B sebagai C dalam waktu D bulan, dan berhasil dengan baik menghasilkan sejumlah Y lulusan terlatih". Atau pembimbing mengatakan "A berhasil meraih nilai sempurna untuk mata kuliah Z". Jika berdasarkan kenyataan, atasan atau dosen pembimbing bisa menuliskan hal-hal tersebut dengan jujur dan apa adanya, tidak sekadar berbasa-basi.

4. Lain-lain atau marginal error.

Tunggu dulu. Tapi bagaimana kalau saat ini sudah masuk tahap aplikasi, sementara selama ini saya tidak melakukan hal nomor 1 dan 2?

Menurut saya pribadi, untuk menyusun CV dan credentials itu ya memang harus begitu. Tidak cuma selembar dua lembar kertas, CV adalah catatan yang dibangun bertahun-tahun. Dibangun berdasarkan kerja yang nyata dan mungkin, berdasarkan "keuntungan akumulatif" tadi. Orang yang berprestasi dan aktif di pekerjaannya tentu lebih layak diberi reward daripada yang tidak. 

Tapi kalaupun tidak, jangan khawatir, kesempatan mendapat beasiswa masih terbuka. Paling tidak ada dua kemungkinan yang bisa saya catatkan. Pertama, mungkin kita terlalu mengecilkan prestasi kita selama ini. Coba lihat kembali ke belakang. Mungkin ada prestasi, atau pelatihan, kegiatan, training yang bisa dimasukkan ke dalam CV. Bisa saja semua itu sesuai dengan keinginan sponsor. Mungkin saja kita terkena Impostor Syndrome*). Bahwa anda sudah sampai di posisi yang memenuhi syarat (eligible) mengajukan aplikasi beasiswa itu juga pencapaian kok.

Kedua, ada hal-hal lain yang tidak kita duga di luar 2 hal diatas. Misalnya perilaku si pelamar beasiswa. Atau juga kharisma atau kepribadian yang menarik. Juga termasuk didalamnya bahwa "memang sudah rezeki". Bisa juga misalnya grup pekerjaannya atau topiknya adalah top priority dari beasiswa (sudah priority, top pula itu). Tapi untuk mendapatkannya ya tentu harus berusaha, setidaknya mengisi aplikasi dengan baik dan menyampaikannya beserta dokumen lain sesuai persyaratan.

Begitu juga sebaliknya. Jika selama ini anda melakukan nomor 1 dan 2 dengan baik, namun tidak terpilih, itu mungkin karena hal-hal lain seperti "bukan rezeki" atau error yang marginal tadi. Coba lagi di kesempatan berikutnya. Buat saya, jika melakukan hal nomor 1 dan 2 dengan baik, orang tersebut sudah seharusnya layak diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya lebih lanjut. Sepanjang beasiswa yang dituju memang sudah tepat dalam hal tujuan dan cara seleksinya, jika belum dapat itu mungkin ada sedikit kesalahan atau memang belum saatnya.

5. Bahasa Inggris

Mungkin satu hal yang menjadi keraguan pelamar beasiswa adalah bahasa Inggris. Kalau saran saya, walaupun penting, jangan terlalu dikhawatirkan. Pertama, umumnya saingan kita juga asalnya sama dengan kita. Jadi secara umum pastilah tidak jauh berbeda secara kemampuan atau kualitasnya (termasuk dalam menulis bahasa Inggris). Hanya segelintir orang yang punya kemampuan outstanding, jangan-jangan kita juga masuk 20-30% teratas, dan bisa jadi itu sudah masuk calon kuat penerima beasiswa (misalnya top 30%).

Kedua, bahasa Inggris bukan bahasa pertama atau kedua kita. Jadi jangan takut kalau tidak terampil. Untuk memperkaya kosa kata dan kemampuan bahasa Inggris memang perlu kursus dan banyak membaca supaya kita semakin kompetitif. Kita juga jangan mencoba untuk menulis kata-kata luar biasa atau kata-kata yang tidak kita pahami benar. Boleh jadi penggunaannya tidak cocok dan jika dibaca penutur asli jadinya aneh. Gunakan saja bahasa sederhana, jelas, dan dengan kalimat yang pendek-pendek. Waktu menyusun thesis S2 dulu saya sebagai non-native speaker diajarkan menulis dalam bahasa Inggris akademis itu jangan terlalu panjang, per kalimat maksimal 18 kata. Satu kalimat satu pesan. Kita mungkin tidak seperti Seno Gumira bule yang ahli bermain kata-kata. Kalimat terlalu panjang dan punya beberapa anak kalimat selain lemah juga bisa ambigu dan membingungkan. Jangan sampai kita penulis sendiri bingung, apalagi orang yang membaca tulisan kita! 

6. Wawancara

Menurut saya, apa yang dilakukan oleh ribuan orang yang berhasil menerima beasiswa (seleksi lewat aplikasi dan wawancara ini) hanyalah nomor 1 dan 2 diatas. Kemudian dituangkan dengan baik dan benar di aplikasi, referensi dan CV sehingga bisa "menjual". Bisa disebut sesederhana tapi bisa juga tidak karena keduanya dibangun sejak lama. 

Untuk wawancara, beberapa anggota komite seleksi bilang bahwa wawancara hanyalah langkah untuk mengkonfirmasi apa yang ada di aplikasi. Saya percaya bahwa wawancara bukanlah hal yang paling menentukan dalam penerimaan beasiswa. Ini karena pewawancara itu bisa saja banyak, bagaimana menilai bahwa pewawancara satu dan lainnya sama-sama obyektif atas pelamar yang mereka wawancara masing-masing? Ada pewawancara yang pelit, ada pewawancara yang murah hati. Karena sifatnya subyektif, maka hal-hal lain lah, seperti aplikasi dan CV yang bisa dinilai secara bersama oleh anggota komite seleksi yang lebih berperan. Yang penting dalam wawancara bersikaplah apa adanya dan selalu respect terhadap pewawancara.

Beberapa kali saya mendengar cerita jika pewawancara hanya ngobrol dan bercanda dengan pelamar saat wawancara - tidak terlalu mengejar - berarti dia kandidat kuat untuk menerima beasiswa yang ditawarkan. Kenapa? Kemungkinan besar adalah karena mereka sudah yakin akan kelayakan si pelamar untuk menerima beasiswa dengan melihat apilkasi dan CVnya. Allahu a'lam bisshawab.

Semoga bermanfaat dan semoga sukses. 

Sabtu, 19 Maret 2016

Ketika Salah Referensi


Teringat sewaktu saya ujian defense thesis waktu S2 dulu. Di kampus saya thesis master harus dipertahankan di depan dua orang dosen penguji dengan mahasiswa didampingi oleh pembimbing. Jadi di ruangan ada 4 orang: mahasiswa, professor pembimbing, dan dua professor penguji.

Salah satu professor penguji saya waktu itu adalah Ketua Jurusan. Saya dan professor ini cukup akrab. Minat kami nyambung dan saya juga berusaha untuk aktif di kelas beliau. Pada saat field trip dan sebagainya kami suka mengobrol. Sebagai Ketua Jurusan beliau beberapa kali punya urusan dan datang ke Indonesia, jadi sedikit banyak saling paham tentang budaya masing-masing.

Dengan posisi demikian, sebelum defense saya sangat tenang. Penguji pertama professor yang saya kenal baik, professor kedua - tidak saya kenal - lebih junior daripada beliau. Konon kabarnya di budaya Jepang professor junior suka sungkan dengan professor senior sehingga ikut saja apa kata si senior. Professor pembimbing saya pun tidak kalah baiknya dan sangat suportif.

Benar saja, pada saat defense, professor muda tidak banyak mencecar. Beliau bertanya-tanya tapi ketika saya jelaskan manggut-manggut saja. Sepertinya defense berjalan lancar, sampai suatu ketika professor penguji pertama mengecek referensi thesis saya. Rupanya dia ingin melihat dari mana argumen saya dibuat.

Ternyata ada satu statement yang saya kutip dan saya tulis referensi-nya, tapi di daftar pustaka ada dua referensi yang ditulis penulis yang sama pada tahun yang sama. Jadi yang seharusnya saya quote "Anu, 2005a" atau "Anu, 2005b" tapi hanya saya buat "Anu 2005". Tentu ini membingungkan. Paper yang mana yang tepatnya saya quote? Saat itu saya menuliskan referensi secara manual, tidak menggunakan end-note, sehingga referensi a dan b tidak tertulis secara otomatis.

Menurut beliau kesalahan itu sangat mendasar. Saya terdiam, apalagi saat itu sepertinya tidak bisa secara tegas menjelaskan quotation itu dari referensi yang mana, apakah dari tulisan si "Anu" yang pertama atau kedua. Lupa. Beliau kelihatan sangat gusar kalau tidak bisa dikatakan marah. Baru saya tau status "kedan" atau "kawan baik" tidak berlaku di saat seperti ini.

Tiba saat penilaian, beliau tidak berkenan untuk meluluskan saya dengan nilai tinggi. Ini dijelaskan oleh professor pembimbing pada saya setelah berdisksui dengan mereka para penguji. Mungkin beliau merasa bahwa kesalahan semendasar itu tidak pantas dilakukan oleh seorang mahasiswa master yang hampir lulus. Tapi, professor pembimbing kemudian bilang, "Coba ya nanti saya lobby dia supaya bisa diperbaiki. Kamu pergi saja ke ruangan dan tunggu disana". Kelihatan beliaupun (dosen pembimbing) merasa bersalah karena miss dengan kesalahan teknis yang saya buat sehingga ingin membantu.

Professor pembimbing pun mengajak penguji berdiskusi kembali. Pembimbing mungkin mencoba meyakinkan bahwa thesis saya bagus, dibuat dengan kerja keras dll, jangan hanya karena kealpaan kecil menjadi jatuh. Seingat saya, cukup lama juga mereka berdiskusi/berargumen. Lebih dari setengah jam kemudian professor pembimbing datang ke ruangan dengan wajah gembira. "Sudah setuju dia", katanya. "Kamu bisa dapat nilai ...(rahasia), tapi kesalahan tadi harus kamu perbaiki paling lambat jam 3 sore ini". Yang tentu saja saya jawab dengan cepat "Siap prof!".

Demikianlah, (ekspektasi) kemudahan bisa membuat terlena. Namun pelajaran yang saya ambil, usahakan selalu berhati-hati mengambil referensi, suatu syarat mutlak dan mendasar untuk sebuah tulisan ilmiah atau buat mereka yang belajar dengan kaidah ilmiah.

Makanya saya heran ada sarjana tapi masih doyan mengambil dan menyebar berita-berita dari sumber abal-abal yang tidak jelas siapa penulisnya. Ini apa tidak pernah diajari dosennya....