Teringat sewaktu saya ujian defense thesis waktu S2 dulu. Di kampus saya thesis master harus dipertahankan di depan dua orang dosen penguji dengan mahasiswa didampingi oleh pembimbing. Jadi di ruangan ada 4 orang: mahasiswa, professor pembimbing, dan dua professor penguji.
Salah satu professor penguji saya waktu itu adalah Ketua Jurusan. Saya dan professor ini cukup akrab. Minat kami nyambung dan saya juga berusaha untuk aktif di kelas beliau. Pada saat field trip dan sebagainya kami suka mengobrol. Sebagai Ketua Jurusan beliau beberapa kali punya urusan dan datang ke Indonesia, jadi sedikit banyak saling paham tentang budaya masing-masing.
Dengan posisi demikian, sebelum defense saya sangat tenang. Penguji pertama professor yang saya kenal baik, professor kedua - tidak saya kenal - lebih junior daripada beliau. Konon kabarnya di budaya Jepang professor junior suka sungkan dengan professor senior sehingga ikut saja apa kata si senior. Professor pembimbing saya pun tidak kalah baiknya dan sangat suportif.
Benar saja, pada saat defense, professor muda tidak banyak mencecar. Beliau bertanya-tanya tapi ketika saya jelaskan manggut-manggut saja. Sepertinya defense berjalan lancar, sampai suatu ketika professor penguji pertama mengecek referensi thesis saya. Rupanya dia ingin melihat dari mana argumen saya dibuat.
Ternyata ada satu statement yang saya kutip dan saya tulis referensi-nya, tapi di daftar pustaka ada dua referensi yang ditulis penulis yang sama pada tahun yang sama. Jadi yang seharusnya saya quote "Anu, 2005a" atau "Anu, 2005b" tapi hanya saya buat "Anu 2005". Tentu ini membingungkan. Paper yang mana yang tepatnya saya quote? Saat itu saya menuliskan referensi secara manual, tidak menggunakan end-note, sehingga referensi a dan b tidak tertulis secara otomatis.
Menurut beliau kesalahan itu sangat mendasar. Saya terdiam, apalagi saat itu sepertinya tidak bisa secara tegas menjelaskan quotation itu dari referensi yang mana, apakah dari tulisan si "Anu" yang pertama atau kedua. Lupa. Beliau kelihatan sangat gusar kalau tidak bisa dikatakan marah. Baru saya tau status "kedan" atau "kawan baik" tidak berlaku di saat seperti ini.
Tiba saat penilaian, beliau tidak berkenan untuk meluluskan saya dengan nilai tinggi. Ini dijelaskan oleh professor pembimbing pada saya setelah berdisksui dengan mereka para penguji. Mungkin beliau merasa bahwa kesalahan semendasar itu tidak pantas dilakukan oleh seorang mahasiswa master yang hampir lulus. Tapi, professor pembimbing kemudian bilang, "Coba ya nanti saya lobby dia supaya bisa diperbaiki. Kamu pergi saja ke ruangan dan tunggu disana". Kelihatan beliaupun (dosen pembimbing) merasa bersalah karena miss dengan kesalahan teknis yang saya buat sehingga ingin membantu.
Professor pembimbing pun mengajak penguji berdiskusi kembali. Pembimbing mungkin mencoba meyakinkan bahwa thesis saya bagus, dibuat dengan kerja keras dll, jangan hanya karena kealpaan kecil menjadi jatuh. Seingat saya, cukup lama juga mereka berdiskusi/berargumen. Lebih dari setengah jam kemudian professor pembimbing datang ke ruangan dengan wajah gembira. "Sudah setuju dia", katanya. "Kamu bisa dapat nilai ...(rahasia), tapi kesalahan tadi harus kamu perbaiki paling lambat jam 3 sore ini". Yang tentu saja saya jawab dengan cepat "Siap prof!".
Demikianlah, (ekspektasi) kemudahan bisa membuat terlena. Namun pelajaran yang saya ambil, usahakan selalu berhati-hati mengambil referensi, suatu syarat mutlak dan mendasar untuk sebuah tulisan ilmiah atau buat mereka yang belajar dengan kaidah ilmiah.
Makanya saya heran ada sarjana tapi masih doyan mengambil dan menyebar berita-berita dari sumber abal-abal yang tidak jelas siapa penulisnya. Ini apa tidak pernah diajari dosennya....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar