Saya beberapa kali membeli buku secara online, antara lain dari gramedia, mizanstore, opentrolley, periplus, sampai beberapa merchant di tokopedia. Semuanya memuaskan. Buku yang saya order sampai dengan cukup cepat dengan packing yang baik.
Hal berbeda terjadi ketika saya memesan di grobmart. Ceritanya saya mencari buku Mun'im Sirry, Kontroversi Islam Awal. Setelah browsing di beberapa toko buku online, stok buku ini sudah habis. Saya cari lewat internet, membiarkan ke situs apa saja yang menawarkan buku ini. Salah satunya ada toko buku Grobmart yang kemudian saya cek.
Di situs tersebut buku berstatus "di gudang penerbit" yang berarti ada stock dan dalam 3-5 hari akan dikirim setelah verifikasi pembayaran. Saya memesan dan membayar tanggal 9 Agustus 2019 via go-pay, yang segera dikonfirmasi oleh Grobmart melalui email. Menurut situs tersebut tidak perlu melakukan verifikasi lagi, alias pihak toko dapat mendeteksi saya sudah membayar.
Setelah seminggu, dua minggu saya belum dapat kiriman buku atau bahkan kabar. Tanggal 30 Agustus 2019 atau 21 hari setelah pemesanan saya mengirim email menanyakan. Baru kemudian direspond bahwa stok tidak ada, pembayaran saya akan dikembalikan (refund). Sayang penjelasan refund-nya juga tidak jelas.
Sampai hari saya menulis post ini (5 September 2019), uang saya belum di-refund.
Kamis, 05 September 2019
Minggu, 01 September 2019
Dunia Alternatif
Sejak kecil kita sudah diajarkan tentang surga/neraka. Beberapa waktu lalu ada seorang ustadz yang mengatakan akan "menggandeng tangan ke surga" seorang calon presiden. Nampaknya ia haqqul yakin bahwa mereka akan ke surga, dengan syarat tertentu tentu saja. Keyakinan soal hari akhir ini begitu melekat di pikiran kita sehingga tidak bisa membayangkan selain itu setelah umur manusia.
Saya baru mendengar pendapat "alternatif" saat sudah dewasa, ketika S2. Saat itu kami di kelas sejarah dan budaya Jepang. Profesor menceritakan orang Jepang secara umum, bahwa mereka tidak percaya surga dan neraka. Saya, heran, lalu bertanya. "Lalu, kalau anda meninggal, anda ke mana?"
Dia menjawab, "Ya tidak ada. Sama seperti waktu saya belum lahir. Saya tidak merasakan apa-apa karena memang sudah tidak ada".
Orang Jepang memang banyak agnostik. Agnosti itu tidak serta merta percaya, atau ragu pada agama, terutama jika yang dimaksud adalah agama Abrahamik.
Keyakinan tentang hari kemudian ini sangat berpengaruh pada hidup manusia. Bisa dilihat pada sikap orang terhadap kerabatnya yang sudah meninggal.
Mereka yang percaya bahwa kerabatnya itu telah terselamatkan, hidup bahagia bersama Tuhan, dll, akan menampakkan wajah gembira ketika berkunjung ke makamnya. Mereka yang berkeyakinan bahwa kerabatnya masih harus menjalani perhitungan, akan cemas, sedih dan rajin memohon/berdoa untuk keselamatannya.
Demikian pula pada hidup sehari-hari, baik buat individu itu sendiri maupun lingkungannya.
Mereka yang percaya akan surga/neraka yang abadi akan berupaya untuk mencapainya. Berbuat baik untuk mendapat balasan kelak, atau setidaknya agar tidak dihukum. Tidak semua juga sih, ada juga yang berbuat keji, seperti teror, pembunuhan massal dll, yang menganggap itu akan memberi jalan dia ke surga. Mereka tidak peduli pada korban atau keluarganya.
Sementara itu, orang Jepang/agnostik seperti profesor saya itu, yang menganggap bahwa hidup hanya di dunia ini, juga berusaha berbuat terbaik di dunia ini. Panduan moralnya? Aturan hukum manusia yang diperbaharui sesuai zamannya untuk ketertiban sesama, selain sensasi kepuasan ketika berbuat baik atau berguna bagi orang lain.
Tentu saja ada juga mereka itu yang mengejar hidup di dunia ini saja, tanpa peduli merugikan orang lain, karena mereka anggap toh you only live once, YOLO. Mumpung bisa.
Allahu a'lam bisshawab.
Saya baru mendengar pendapat "alternatif" saat sudah dewasa, ketika S2. Saat itu kami di kelas sejarah dan budaya Jepang. Profesor menceritakan orang Jepang secara umum, bahwa mereka tidak percaya surga dan neraka. Saya, heran, lalu bertanya. "Lalu, kalau anda meninggal, anda ke mana?"
Dia menjawab, "Ya tidak ada. Sama seperti waktu saya belum lahir. Saya tidak merasakan apa-apa karena memang sudah tidak ada".
Orang Jepang memang banyak agnostik. Agnosti itu tidak serta merta percaya, atau ragu pada agama, terutama jika yang dimaksud adalah agama Abrahamik.
Keyakinan tentang hari kemudian ini sangat berpengaruh pada hidup manusia. Bisa dilihat pada sikap orang terhadap kerabatnya yang sudah meninggal.
Mereka yang percaya bahwa kerabatnya itu telah terselamatkan, hidup bahagia bersama Tuhan, dll, akan menampakkan wajah gembira ketika berkunjung ke makamnya. Mereka yang berkeyakinan bahwa kerabatnya masih harus menjalani perhitungan, akan cemas, sedih dan rajin memohon/berdoa untuk keselamatannya.
Demikian pula pada hidup sehari-hari, baik buat individu itu sendiri maupun lingkungannya.
Mereka yang percaya akan surga/neraka yang abadi akan berupaya untuk mencapainya. Berbuat baik untuk mendapat balasan kelak, atau setidaknya agar tidak dihukum. Tidak semua juga sih, ada juga yang berbuat keji, seperti teror, pembunuhan massal dll, yang menganggap itu akan memberi jalan dia ke surga. Mereka tidak peduli pada korban atau keluarganya.
Sementara itu, orang Jepang/agnostik seperti profesor saya itu, yang menganggap bahwa hidup hanya di dunia ini, juga berusaha berbuat terbaik di dunia ini. Panduan moralnya? Aturan hukum manusia yang diperbaharui sesuai zamannya untuk ketertiban sesama, selain sensasi kepuasan ketika berbuat baik atau berguna bagi orang lain.
Tentu saja ada juga mereka itu yang mengejar hidup di dunia ini saja, tanpa peduli merugikan orang lain, karena mereka anggap toh you only live once, YOLO. Mumpung bisa.
Allahu a'lam bisshawab.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Ramai berita tentang Waka DPR yang anaknya diminta dijemput oleh KJRI New York mengingatkan saya sebuah kata "Kopasjiba" yang say...
-
Saya sedang kembali ke apartmen kampus ketika berpapasan dengan seorang pria bule yang menuju Curtin Oval, lapangan sepakbola kampus. Meliha...
-
Kita yang bukan penutur asli bahasa Inggris mudah keliru mengartikan Moral Hazard . Saya dua kali mendengar orang menyebutkan istilah itu t...