Sejak kecil kita sudah diajarkan tentang surga/neraka. Beberapa waktu lalu ada seorang ustadz yang mengatakan akan "menggandeng tangan ke surga" seorang calon presiden. Nampaknya ia haqqul yakin bahwa mereka akan ke surga, dengan syarat tertentu tentu saja. Keyakinan soal hari akhir ini begitu melekat di pikiran kita sehingga tidak bisa membayangkan selain itu setelah umur manusia.
Saya baru mendengar pendapat "alternatif" saat sudah dewasa, ketika S2. Saat itu kami di kelas sejarah dan budaya Jepang. Profesor menceritakan orang Jepang secara umum, bahwa mereka tidak percaya surga dan neraka. Saya, heran, lalu bertanya. "Lalu, kalau anda meninggal, anda ke mana?"
Dia menjawab, "Ya tidak ada. Sama seperti waktu saya belum lahir. Saya tidak merasakan apa-apa karena memang sudah tidak ada".
Orang Jepang memang banyak agnostik. Agnosti itu tidak serta merta percaya, atau ragu pada agama, terutama jika yang dimaksud adalah agama Abrahamik.
Keyakinan tentang hari kemudian ini sangat berpengaruh pada hidup manusia. Bisa dilihat pada sikap orang terhadap kerabatnya yang sudah meninggal.
Mereka yang percaya bahwa kerabatnya itu telah terselamatkan, hidup bahagia bersama Tuhan, dll, akan menampakkan wajah gembira ketika berkunjung ke makamnya. Mereka yang berkeyakinan bahwa kerabatnya masih harus menjalani perhitungan, akan cemas, sedih dan rajin memohon/berdoa untuk keselamatannya.
Demikian pula pada hidup sehari-hari, baik buat individu itu sendiri maupun lingkungannya.
Mereka yang percaya akan surga/neraka yang abadi akan berupaya untuk mencapainya. Berbuat baik untuk mendapat balasan kelak, atau setidaknya agar tidak dihukum. Tidak semua juga sih, ada juga yang berbuat keji, seperti teror, pembunuhan massal dll, yang menganggap itu akan memberi jalan dia ke surga. Mereka tidak peduli pada korban atau keluarganya.
Sementara itu, orang Jepang/agnostik seperti profesor saya itu, yang menganggap bahwa hidup hanya di dunia ini, juga berusaha berbuat terbaik di dunia ini. Panduan moralnya? Aturan hukum manusia yang diperbaharui sesuai zamannya untuk ketertiban sesama, selain sensasi kepuasan ketika berbuat baik atau berguna bagi orang lain.
Tentu saja ada juga mereka itu yang mengejar hidup di dunia ini saja, tanpa peduli merugikan orang lain, karena mereka anggap toh you only live once, YOLO. Mumpung bisa.
Allahu a'lam bisshawab.
Minggu, 01 September 2019
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
-
Ramai berita tentang Waka DPR yang anaknya diminta dijemput oleh KJRI New York mengingatkan saya sebuah kata "Kopasjiba" yang say...
-
Saya sedang kembali ke apartmen kampus ketika berpapasan dengan seorang pria bule yang menuju Curtin Oval, lapangan sepakbola kampus. Meliha...
-
Kita yang bukan penutur asli bahasa Inggris mudah keliru mengartikan Moral Hazard . Saya dua kali mendengar orang menyebutkan istilah itu t...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar