Dulu di SD yang belajarnya model hapalan, saya ingat budaya artinya kira-kira adalah "hasil daya upaya manusia". Jadi apapun bentuk kreasi manusia itu adalah bentuk budaya.
Tahun lalu saat kursus persiapan di AusAID, saya mencoba mengenal yang mana ya budaya Australia itu? Saya lihat yang terpampang di dinding gedung mereka adalah lukisan etnik kontemporer, mungkin dari suku Aborigin yang disebut Australia asli. Nama-nama yang tertera sebagai pelukis/pencipta karya seni itupun sepertinya dari bangsa yang katanya mengembara dari daratan Afrika ke Asia ribuan tahun lalu itu. Kenapa mereka hanya menampilkan itu? Entahlah. Padahal jika kata "Australia" disebutkan, hal lain yang sering terasosiasi selain Kangguru adalah budaya populer seperti aktor/aktris, atlit, penyanyi Australia, juga pemimpin mereka yang umumnya bule.
Menurut Dr Chris Hogan, seorang professor bidang multikultur, bentuk budaya yang sering kita tampilkan seperti musik, pakaian dan tarian itu hanyalah puncak gunung es budaya. Jauh lebih besar dari itu adalah nilai-nilai dan kebiasaan yang dianut dan dijalani oleh suatu suku/bangsa. Hubungan dan sikap kita terhadap orangtua, dengan teman atau orang yang lebih tua, serta kebiasaan dalam lingkungan misalnya, itu adalah bentuk dari budaya yang tak berwujud namun nyata. Budaya adalah satu cara manusia untuk mengatasi masalah dan beradaptasi dengan lingkungan.
Di Australia, piramida hirarki itu pendek, artinya jarak sosial antara orang yang di budaya lain memiliki kedudukan tinggi dengan orang biasa tidak jomplang. Di banyak budaya dengan hirrki yang tinggi, kedudukan seorang guru ataupun dokter misalnya, begitu jauh diatas dan dihormati sehingga rakyat jelata terkadang takut bertemu dengan mereka. Namun tidak di Australia. Menurut buku "Everyday Living in WA" yang diterbitkan oleh Pemda Western Australia, di Australia pekerjaan seseorang tidak berpengaruh terhadap status sosialnya. Jadi pegawai toko, sopir taksi, kuli bangungan bukanlah pekerjaan "orang-orang rendahan"; tidak berbeda dengan pekerjaan lain yang kalau ditempat lain dianggap lebih terhormat.
Dengan demikian, misalnya, kalau naik taksi sendirian disarankan untuk duduk di depan di sebelah supir bukan di jok belakang yang bisa dianggap sok-sokan pakai supir (chauffer). Budaya ini juga tercermin dari kebiasaan mereka yang menyebut orang lain, siapapun itu, apakah jauh lebih tua, atau profesi apapun, dengan nama depan. Berbeda dengan kita yang menyebut dengan gelar semisal bapak, ibu, guru, prof, dok, dlsb. Bahkan warga biasa pun pernah berbicara kepada Perdana Menteri mereka dengan nama depannya saja, yaitu "Julia".
Menurut Dr Chris, kebiasaan ini berasal dari asal-usul orang Inggris di tanah Australia. Mereka yang datang pertama kali adalah para "convict", kriminal yang dibuang jauh dari Inggris untuk menjalani hukuman. Setelah selesai menjalani hukuman, mereka tinggal disana dan membangun lingkungannya. Karena asalnya dari convict tadi, umumnya mereka tidak peduli dengan otoritas. Dan itu terbawa sampai sekarang sehingga menjadi budaya.
Ada kejadian menarik saya perhatikan yang pas sekali dengan yang sedang kami pelajari soal ini. Dr Chris sedang menjadi fasilitator di workshop kami "cultural transition", dan saat itu sesi mendengarkan "keluhan-keluhan" mahasiswa-mahasiswa yang baru berada disini atas kebiasaan di Australia yang dianggap "annoying". Saat itu sesudah makan siang sekitar jam 2. Di bagian belakang ruangan, beberapa pekerja katering sedang bekerja membereskan sisa-sisa makan siang peserta. Saya lihat, terkadang petugas katering itu sambil membersihkan meja melirik-lirik juga mendengarkan mahasiswa yang antusias memberi pendapat. Dan satu ketika, salah seorang dari petugas katering, seorang ibu-ibu berperawakan cukup gendut, ikut menimpali dari belakang. Dia memberi pendapat yang ditimpali dengan riuh oleh para mahasiswa karena setuju dan karena pendapat itu berasal dari warga Australia sendiri. Kira-dia bilang, "Iya saya juga senang toko-toko sekarang hari Minggu juga buka, nggak kayak dulu.... " Lalu dia lanjutkan, kira-kira begini, "Sekarang mah enak, karena mall lebih sering buka, kalau sedang kepanasan saya masuk aja ke mall aja. Adeem.... " yang lalu diberi applause oleh para mahasiswa. Dr Chris saya lihat juga tertawa-tertawa saja, tidak kelihatan terganggu bahwa seorang pekerja katering "membajak" kuliahnya dengan cueknya.
Kalau di Indonesia, apakah mungkin dia segan sendiri, atau bisa-bisa dia dibilang orang katering kurang ajar...
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Ramai berita tentang Waka DPR yang anaknya diminta dijemput oleh KJRI New York mengingatkan saya sebuah kata "Kopasjiba" yang say...
-
Saya sedang kembali ke apartmen kampus ketika berpapasan dengan seorang pria bule yang menuju Curtin Oval, lapangan sepakbola kampus. Meliha...
-
Kita yang bukan penutur asli bahasa Inggris mudah keliru mengartikan Moral Hazard . Saya dua kali mendengar orang menyebutkan istilah itu t...