Terakhir saya mengunjungi Istana Maimun ini adalah sekitar sembilan tahun lalu (2005). Saat itu saya membawa dua tamu Jepang. Mereka bertanya apa saja yang bisa dilihat di Medan? Sayapun membawa mereka kesana, landmark terdekat di tengah kota. Kunjungan itu berakhir pilu - tidak ada yang bisa "dilihat" karena kami hanya ditemani guide sub-amatir yang hanya berbicara bahasa Indonesia ke saya. Saat itu tidak ada biaya retribusi untuk masuk, pengunjung hanya diminta memberi seikhlasnya ke kotak yang disediakan di sebelah dalam pintu.
Tapi pada kedatangan kami kemarin sudah banyak yang berbeda. Di pintu istana sudah ada penjaga yang menjual karcis masuk seharga Rp5,000/orang. Buat saya ini kemajuan. Kalau dulu rasanya tidak ada "marwah" situs ini sebagai tempat wisata, tapi dengan adanya retribusi, setidaknya orang yang datang adalah mereka yang memang memiliki niat mengunjungi situs ini dan mau bayar. Toh saya liat pengunjung lebih ramai. Saya teringat Aqua yang dulu saat penjualan air mineral lesu justru menaikkan harga sehingga mengangkat kepercayaan konsumen. Apalagi kalau uang yang didapat dimanfaatkan secara baik untuk penyediaan/perbaikan fasilitas.
Di dalam, selain melihat-lihat peninggalan istana - arsitektur, peralatan istana dan foto-foto dan gambar anggota kerajaan - ada juga beberapa ruang yang dijadikan toko cindera mata khas Melayu dan Sumatera Utara. Pengunjung diperbolehkan berfoto-foto di mana saja di tempat yang disuka.
Untuk memberi pengalaman berkunjung ke Tanah Deli dan bergaya Melayu, toko-toko itu juga menyewakan pakaian untuk dikenakan dan difoto. Pakaian yang disediakan untuk berbagai usia, mulai anak-anak sampai wanita dan pria dewasa. Bukan sekadar pakaian Teluk Belanga tapi bangsawan Melayu. Warna pun bermacam-macam yang bisa dipilih. Buat yang suka wisata budaya, hal ini cukup menarik. Banyak pengunjung yang menggunakan kesempatan itu termasuk seorang wisatawan asing. Tak ketinggalan pula kami sekeluarga rame-rame. Kata kakak penjaga toko sekaligus yang mendandani, "Tanjak" (mahkota untuk lelaki) yang mereka sediakan adalah Tanjak asli untuk bangsawan.Menyewa satu set pakaian baik anak-anak ataupun dewasa wanita/pria lengkap dikenakan Rp10,000/orang. Penyewa diperbolehkan berfoto dengan kamera sendiri (ada baiknya yang punya kamera DSLR dibawa saja), atau menggunakan jasa mereka (pakai kamera DSLR tanpa tambahan flash-lamp). Biayanya setelah dicetak Rp 10,000/lembar foto ukuran besar (seperti folio 4/R). Kalau ingin menyimpan file softcopy-nya ditambah Rp15,000 untuk biaya burning dan compact disc. Seperti tempat wisata yang lain, foto-foto itu dicetak di toko itu juga tak berapa lama setelah pengambilan gambar.
![]() |
| Tondi dan Riga jadi Putra Melayu Deli |
Wisata ini mengingatkan saya beberapa bulan lalu melihat-lihat isi gedung pemerintah negara bagian Australia Barat jaman dulu di Perth. Saat itu Perth ada acara hari besar dan gedung-gedung pemerintah tua dibuka untuk umum. Banyak pengunjung yang datang melihat-lihat inventaris pemerintah di dalam gedung yang sudah jadi museum itu. Foto-foto besar pejabat bergaya aristrokat, meja kerja, karpet, ruang makan, meja makan lengkap dengan perangkat yang mengkilap serta nama-nama mereka yang dulu duduk di kursi meja makan itu.
Ada juga pengunjung yang berfoto disana, cuma bedanya dengan di Maimun, di gedung pemerintah Perth itu barang-barang dilihat boleh disentuh jangan. Begitu juga pengunjung berjalan ikut jalur yang sudah ditentukan tidak sesuka hati berkeliaran.
Sementara itu, di Tokyo ada NGO namanya "Friendship Chiyoda" (http://fchiyoda.org) yang volunteer menjadi kawan orang asing di Jepang. Mereka rutin menyelenggarakan acara dan mengajak orang asing merasakan Jepang walau hanya sekadar jalan-jalan di kota Tokyo lama (mungkin kalau di Jakarta di daerah Kota), nonton latihan Sumo atau bikin sushi. Salah satu acara favorit orang-orang adalah "Wearing Kimono", bergaya pura-puranya jadi Samurai atau Geisha dan foto-foto. Acara ini selalu full-booked lebih cepat (friendship chiyoda punya banyak registrants tapi untuk masing-masing acaranya harus booking terlebih dahulu karena yang boleh ikut jumlahnya terbatas).
| Suasana Acara Wearing Kimono (2008) |
| Dipakaikan untuk jadi |
Semoga pihak berwenang (mungkin Pemko atau keturunan Sultan Maimun) bisa terus menjaga dan mengembangkan wisata di Istana Maimun. Seperti ditulis seorang turis di laman Tripadvisor (link di bawah), "It's fun". Melayu Deli muasalnya adalah tuan rumah di Medan, sejarahnya tak bisa lekang dari kota ini dan Istana Maimun masuk dalam buku-buku pelajaran. Ini juga akan memperkaya pilihan wisata buat turis ataupun orang luar yang berkunjung.
Link terkait:
http://www.tripadvisor.com/ShowUserReviews-g297725-d3219591-r143462140-Istana_Maimun-Medan_North_Sumatra_Sumatra.html
http://fchiyoda.org/
