Beberapa waktu lalu, Tamara (bukan nama sebenarnya) mengundurkan diri dari kantor karena akan ikut suami yang bekerja di kota lain. Tamara adalah salah satu PPNPN (lebih populernya disebut Pegawai Honorer) yang bertugas mengatur lalu lintas pengunjung yang akan dilayani di kantor. Tamara sudah bekerja selama sekitar 12 tahun sebelum akhirnya mengundurkan diri.
Yang menarik, beberapa minggu sebelum Tamara secara resmi tidak lagi bertugas, sudah masuk beberapa lamaran untuk mengisi posisinya. Rupanya sudah beredar di antara sebagian pegawai/PPNPN dan lainnya bahwa Tamara akan berhenti, dan mereka memberitahu kerabat/teman mereka jika berminat untuk melamar menggantikan posisinya.
Karena tugasnya adalah front office, maka yang melamar kebanyakan wanita. Hanya ada satu pria. Bagian kepegawaian pun melakukan seleksi administrasi dan melihat riwayat hidup/kegiatan pelamar sebelum diadakan tes wawancara. Dari para pelamar itu, yang menjadi kandidat kuat adalah mereka yang punya kegiatan cukup aktif dan positif, baik saat sekolah/kuliah maupun setelahnya. Apalagi ini adalah tugas front office, diperlukan petugas yang supel dan cekatan untuk melayani pengunjung. Walaupun sebagai PPNPN front officer, hanya satu pelamar yang berpendidikan SMA. Selainnya berpendidikan S1. Begitu ketatnya persaingan bekerja saat ini.
Nah selain karakter tadi, bagian rekrutmen pun tidak lupa mengecek media sosial para pelamar. Karena mereka melamar mandiri (tidak ada pengumuman lowongan), maka tidak ada kewajiban untuk para pelamar mencantumkan halaman media sosialnya (facebook, twitter, instagram dll), hanya format standar riwayat hidup seperti identitas, foto, pendidikan, pengalaman dan sebagainya. Tapi hal itu tidak menjadi halangan. Saat ini google sudah sangat bisa diandalkan untuk melacak jejak seseorang di media sosial, yang sedikit banyak mencerminkan karakter dan aktifitas yang bersangkutan.
Untunglah berdasarkan pencarian dan media sosial milik para pelamar, tidak ditemukan hal-hal aneh. Kantor tentu tidak boleh menerima pekerja yang toxic dan suka menebarkan hal-hal negatif. Bukannya terbantu, kantor bisa-bisa malah disharmoni atau bahkan terkena masalah.
Saat ini dan yang akan datang, sangat mudah untuk melihat jejak seseorang di internet. Jadi, jika anda masih ingin mencari nafkah baik itu sebagai karyawan, usaha sendiri, partner dan lain sebagainya, saran saya tidak perlulah meluapkan tendensi apalagi kebencian termasuk di internet dan media sosial. Jejaknya akan sangat mudah didapatkan.
Lagipula, setahu saya, tidak pernah ada pendirian seseorang berubah karena posting orang lain di sosial media. Biasanya hanya mengkonfirmasi yang sudah setuju, meluapkan nafsu si pemosting, dan menumpuk-numpuk perasaannya (kebencian atau kecintaan). Hal yang sebenar-benarnya dihasilkan oleh postingan seperti itu adalah ekspose/menunjukkan karakter si pemosting itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar