Kalau ada orang yang nanya, "Do you speak English?", saya maunya jawab, "I don't, but I do communicate in English". Ya karena saya merasa tidak sepenuhnya "berbicara" dalam bahasa Inggris seperti penutur yang menggunakannya sehari-hari. Banyak hal didalam bahasa itu yang belum saya kuasai sepenuhnya (biasanya kulturnya), seperti ekspresi dan sikap berbahasa misalnya dimana mengatakan "sorry" atau "too bad" tanpa terasa terlalu apologetic. Saya masih belajar, tapi cukuplah percaya diri berkomunikasi dalam bahasa Inggris di pergaulan sehari-hari ataupun lingkungan kerja dan akademik (karena bahasanya biasanya standar).
Karena itu saya tidak pernah terlalu terobsesi untuk memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang sempurna, termasuk aksennya. Saya orang Indonesia yang memiliki keterbatasan dalam berbahasa ini karena memang biasanya tidak menggunakannya dalam hidup dan bergaul sehari-hari. Saya menggunakannya hanya sebagai lingua franca, bahasa kendaraan untuk berkomunikasi dengan orang lain yang tidak berbahasa sama. Tapi saya tentu akui dan sarankan bahwa mampu berbahasa Inggris yang fasih itu lebih baik dan membuka banyak kesempatan buat penggunanya.
Mungkin ini karena bawah sadar saya bisik-bisik bahasa Inggris itu tidak penting-penting amat, berdasarkan pengalaman menyaksikan sendiri bagaimana di Jepang, dengan orang-orang yang jarang bisa berbahasa Inggris dengan baik, namun memiliki teknologi dan kehidupan yang sangat maju. Begitu juga dengan Korea Selatan. Faktor kemajuan ekonomi China yang pesat itu saya kira juga bukan karena faktor bahasa Inggris. Sebagian orang Afrika lebih mahir berbahasa Inggris tapi kehidupannya belum tentu lebih baik daripada orang Asia. Ada hal-hal lain yang menjadi penyebab kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.
Saya punya teman dari negara tetangga, sebelah timur Indonesia yang berbatasan dengan kita secara geografis. Sewaktu kami ngobrol, dia cerita soal keadaan di negaranya masih kurang baik. Orang-orang masih suka berperang antar suku. Sedikit perselisihan sepele saja sudah berperang. Sulit sekali mengaturnya, kata dia. Mereka terdiri dari suku-suku dan bahasa yang sangat banyak.
Dari obrolan itu saya bersyukur bahwa kita dulu punya pemimpin yang kuat. Pak Sukarno - terlepas dari sisi lain cerita beliau yang belum terbukti dan bagi sebagian orang sekarang dianggap bualan (seperti Majapahit), berhasil menyatukan rakyat Indonesia ini yang ratusan juta jiwa jumlahnya dan berbeda-beda suku bangsanya. Suatu pekerjaan yang sangat sulit. Tapi begitulah, mungkin memang itu yang dibutuhkan pada zaman itu, cerita-cerita yang membangkitkan rasa kebanggaan orang-orang yang telah lama ditindas dan membangkitkan persatuan orang yang berbeda-beda.
Sedikit lagi ke belakang, kita juga patut bersyukur bahwa pendiri negara kita dulu memilih satu bahasa persatuan. Akan sangat sulit untuk menyatukan negara yang sangat besar ini jika tidak memiliki satu kesamaan. Secara teori dalam ekonomi juga diakui bahwa keseragaman (homogenitas) lebih mendukung perputaran ekonomi daripada keberagaman (heterogenitas). Orang cenderung punya rasa percaya (trust) yang lebih baik pada orang lain dalam komunitas yang sama. Dengan modal rasa percaya itu ekonomi bisa berputar lebih baik dan cepat.
Saya sulit membayangkan bagaimana kita yang terdiri dari sekitar 300 suku-suku besar ini tidak punya bahasa persatuan. Belgia, negara makmur di Eropa yang sekarang menyumbang banyak jagoan sepakbola itu, seringkali disebut di ambang perpecahan selain karena faktor kultur, ekonomi, dan terutama bahasa, dimana sebagian berbahasa Belanda dan sebagian berbahasa Perancis (lihat ini). Di zaman sekarang dimana banyak pemimpin tidak memperdulikan masyarakatnya ini orang-orang sangat rentan terpecah, apalagi jika merasa berbeda dengan komunitas lain. Untunglah, bukan hanya karena negara, tapi di dalam hati kita itu ditanamkan bahasa yang sama.
Seorang turis asing yang sering datang ke Indonesia memberi tips pada calon turis-turis asing, dia bilang bahwa turis hanya perlu belajar satu bahasa, bahasa Indonesia, untuk pergi kemanapun di wilayah Indonesia yang sangat beragam ini karena di semua tempat bahasa ini digunakan.
Karena itu, saya kira bukanlah bualan bahwa bahasa Indonesia itu bahasa persatuan. Bahasa inilah yang menyatukan kita yang berbeda suku dan (bisa jadi) berbeda bangsa. berbanggalah berbahasa Indonesia. Dan, bahasa kita ini adalah salah satu bahasa besar di dunia yang digunakan oleh ratusan juta manusia.
Ya saya cinta bahasa Indonesia, dan I also communicate in English.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
-
Ramai berita tentang Waka DPR yang anaknya diminta dijemput oleh KJRI New York mengingatkan saya sebuah kata "Kopasjiba" yang say...
-
Saya sedang kembali ke apartmen kampus ketika berpapasan dengan seorang pria bule yang menuju Curtin Oval, lapangan sepakbola kampus. Meliha...
-
Kita yang bukan penutur asli bahasa Inggris mudah keliru mengartikan Moral Hazard . Saya dua kali mendengar orang menyebutkan istilah itu t...
Soekarno bekerja keras mempersatukan bangsa lewat bahasa, remaja zaman sekarang malah 'memproklamirkan' bahasa alay. Ada lagi bahasa gaul yang baru, tapi aku lupa namanya. Ckckck.
BalasHapus