Selasa, 23 Oktober 2012

Cerita Tukang Becak

Original post January 2010

Sabtu 9 Januari, sekitar pukul 9 pagi di bandara Polonia. Aku bergegas keluar dari terminal kedatangan. Diluar penuh para penjemput dan supir taksi bergerombol. Aku berjalan tak menghiraukan supir-supir taksi yang mencegat menawarkan jasa. Sampai sekarang taksi di Polonia tak pernah masuk dalam hitunganku. Harganya tak reasonable, tanpa argo, belum tentu bersih pula. Entahlah kalau aku berombongan. Tujuanku melintasi taman, keluar bandara ke dekat loket pembayaran parkir, ke jalan di depan pom bensin Petronas. Disitulah biasanya tukang becak mesin (beca motor) mangkal. Jaraknya hanya beberapa ratus meter dari terminal. Kalau tak ada, bisa jalan terus ke simpang jalan Juanda cari angkot. Bawaanku cuma ransel berisi 3 baju.

Aku disambut seorang abang beca. Kulirik becanya, tidak baru. Jok penumpangnya terkelupas, cat becaknya juga sudah pudar. Penutup depannya kain bekas spanduk. Tapi tak apa. Bagiku tukang beca mesin itu pekerja keras dan friendly (bisa diajak ngobrol). Kusebut tujuanku. "30 ribu," katanya. Kutawar 20 ribu dengan menyebut bahwa itu harga yang biasa. Dia minta 25 ribu, dengan embel-embel "ini harus bayar parkir lagi bang, 3 ribu". Bah, itu bukan urusanku, pikir hatiku. Tapi tak mau tertunda gara-gara 5 ribu, akhirnya aku iyakan.

* * *

Dalam perjalanan, aku buka percakapan. "Memangnya bayar 3 ribunya sekali masuk bang?"
"Ya tiap kali ada disitu," katanya agak ragu. "Tapi memang nggak semua bang. Kalau dikenal orang itu, nggak diminta. Tapi kalau enggak (dikenal), diminta".

"Abang gaul la," kataku bercanda, garing. "Biar nggak diminta sama orang itu"
"Payah bang, gak bisa dekat kali awak1) sama orang itu," jawabnya. "Kalau terlalu dekat, dimakan2) orang itu awak".

"Orang itu siapa bang? Preman?"
"Bukan bang. ** (salah satu unit angkatan yang markasnya dekat disitu).

Aku terdiam. Oknum berseragam tapi penyebab ekonomi biaya tinggi.

"Gak malu orang tu minta-minta 3 ribu gitu?"

"Itulah bang, awakpun heran." jawabnya. "Kunci becak awak ini berapa kali udah diambil" sambil memegang lubang kunci starter kereta yang dikendarainya. "Ini awak rusak aja biar gak ada kuncinya. Tak bisa diambil orang itu".

Lobang kunci itu sudah dol, dan tak ada kunci bergantung disitu. Lubangnya lurus, tanda dalam posisi On.

"Kalau gitu gampang la becaknya dicuri bang".

"Iya memang. Tapi cemana lagi bang".

* * *

Kami berbincang sepanjang perjalanan diantara deru mesin Honda Win becaknya. Kalau la ini becak mesin lama, pasti tidak bisa kami bicara. Suaranya jauh lebih ribut daripada ini. Untung pulak becaknya berpenutup depan. Kalau tidak bisa2 pas cerita masuk capung ke mulutku.

"Gitu bang," lanjutnya. "Pernah, satu orang ngusir awak. " Cabut kauh!" katanya. Bukan apa-apa bang, sok kali dia. Maap-maap, umurnya aja pun masih sebaya anak awak yang paling kecil."

Aku mengangguk-angguk. Aku pernah juga kena begitu. Di simpang Guru Patimpus, disetop oknum polwan muda berpangkat bengkok dua. "Nggak kau liat lampu merah itu," katanya ketus. Kim*knya ini, kupikir. Tamat SMA, sekolah Caba tak genap setahun, membentak warga negara pula. Padahal apakah aku melewati lampu merah atau kuning pun belum jelas. Terakhir, ujung-ujungnya duit juga. Makan kau duitku itu biar jadi api di perutmu, kupikir.

Kembali ke cerita si abang beca. "Awak bilang," lanjut dia, "Bapak jangan gitu la. Cemana kalau orangtua Bapak saya "kau kau" kan. Kan nggak senang Bapak."

"Iyah, melawan kau??!" petugas itu marah.

"Bukan gitu Pak," awak bilang. "Nggak pantas la Bapak bicara gitu ke saya".

"Banyak kali cerita kau," katanya. "Pigi3) kau dari sini!"

"Nggak mau saya pigi. Polisi sama Dishub aja nggak ngusir kami," jawab dia. "Bapak kan tugasnya bukan ini. Kalau Polisi atau Dishub baru bisa ngusir kami".

"Iyah ngajar-ngajarin pulak kau! kata petugas itu marah. Ditendangnya awak."

Aku terdiam. Petugas menganiaya rakyat pulak. Susah-susah gitu abang itu pasti pernah beli pulsa dan bayar PPN. Dan itu salah satu sumber gaji petugas itu. Kutanya, "dimana ditendangnya bang."

Di sini awak bang, katanya sambil memegang kakinya setinggi betis, bagian luar.

"Terus awak bilang," lanjutnya. "Ini saya punya nomor telpon anggota DPRD. Bapak mau bicara?? Saya telpon. Biar kita tau betul apa nggak. Bapak mau nelpon? Atau saya yang telpon nanti Bapak bicara."

"Trus apa katanya?" tanyaku.

"Pigi dia... Gak berani dia bicara."

Hebat, pikirku. "Siapa anggota DPRDnya bang?" tanyaku. "I** S** namanya bang" katanya. Nama yang tak kukenal. "dari Fraksi P** dia." Sempat pula kutanya sekali lagi untuk mengingat namanya.

* * *

"Abang dulu nggak disini ya". Tanyanya retorik. "Dulu sempat rame bang. Kami tukang becak mesin demo".

"Gara-garanya pengusaha-pengusaha taksi itu ngasi duit itu ke orang tu," tuduhnya. "Biar kami nggak boleh disana. Soalnya bekurang penghasilan orang itu" (Ya  mungkin seperti aku yang lebih milih becak mesin). Sempat kosong kami disitu bang. Waktu itulah muncul ojek-ojek itu kalau abang tengok".

Memang ada juga di bandara ojek-ojek yang menawarkan jasa selain taksi dan becak mesin.

"Dilarang kami disana. Makanya kami demo. Itulah diterima di DPRD. Diterima kami disitu bang. Bapak itu (I** S**) langsung bicara nelpon di depan kami semua. Suaranya dikuatkan (speakerphone maksudnya). Jadi kami semua disitu mendengar. "Gini Pak. Mereka ini kan masyarakat kita juga. Mereka kan cari makan. Kenapa dilarang..? Entah apalah jawaban orang itu. Terus dia bilang, Perda-nya ada Pak? Kalau ada boleh lah dilarang. Itulah rupanya, tak ada praturannya bang. Itu kan gara2 pengusaha taksi itu supaya kami dilarang. Nah sesudah itu lah kami boleh disitu lagi. Tak ada alasan orang itu melarang kami"

"Ooo" kataku kagum. Masih ada anggota DPRD yang peduli seperti itu. "Bapak itu masih disitu sekarang?"

"O dia udah habis periode-nya bang," jawabnya. "Sekarang nggak anggota lagi dia."

"Cuma fraksi itu yang membela bang," lanjutnya lagi. "Yang lainnya udah dikasih duit itu semua sama pengusaha. Kata Bapak itu: Ini kita cuma satu (fraksi). Kalau fraksi yang lain membela, jangankan diluar, masukpun (ke dalam bandara) kalian bisa". 

Menarik juga pikirku. Kalau ada becak mesin wisata mangkal di Polonia, dirawat, ditatar sadar wisata pengemudinya, akan jadi khas kota Medan yang tak ada dimana-mana. Kenalan saya orang asing saat ke Medan jalan-jalan keliling naik becak mesin. Yang sebelumnya, waktu saya bawa naik mobil kaget melihat becak mesin, "nani sore (apa itu)?" tanyanya. "Motored Tricycle," saya bilang. Dia lalu nyari kamera di tasnya untuk difoto-foto. Turis bule pun mungkin lebih senang ke hotel-hotel di daerah SM Raja atau Pinang Baris menggunakan kendaraan ini.

* * *

"Jadi abang masih ada nomor telepon anggota DPRD yang sekarang?" aku tanya. Simpatik juga dengan kondisi mereka. Kalau betul cerita itu, masih ada Wakil Rayat yang betul membela mereka, sesuai aturan.

"Masih bang," katanya. Pak S** L**, wakil ketua, pak G**, pak ... (tak kudengar lagi).

O ya pak S** L** pernah ada acara di rumahku, beliau lebih dahulu datang. Ketika kucari-cari untuk persilahkan masuk kok gak keliatan. Dicari-cari ternyata lagi duduk di lantai teras di bagian yang gelap-gelap. Waduh pejabat negara rendah hati sekali. Aku jadi terharu waktu itu.

"Mau rupanya orang itu ditelpon-telpon gitu?" tanyaku.

"O senang orang itu bang," katanya. "Itula yang dicari-cari orang itu."

Dan kemudian dia bilang kata-kata yang rasanya akan selalu aku ingat.

"Selama awak hidup 48 tahun ini," kutengok mukanya menerawang dan samar tersenyum bangga. "Baru sekali ini lah awak bisa bicara-bicara dengan Wakil Gubernur, Wakil Ketua DPRD, anggota DPRD. Bicara langsung bang. Satu meja kami."

"Datang pun kami, senang orang tu menyambut. Waalaikumsalaam..!! Iyah apa kabar Pak" katanya. Diajaknya awak cerita. "Apa ini yang bisa dibantu?" Macam bekawan4) dekat lah kami.

"Kalau anggota-anggota (DPRD) dulu," kata dia. "Jangankan cerita, ngeliat awak pun malas orang itu. Udah diliatnya pun awak duduk disitu, buang muka dia".

* * *

Tak terasa, kami sudah sampai. Aku sebelumnya pesimis dengan liburku kali ini, apa yang kudapat. Pulang ke kampung cuma weekend, Sabtu-Minggu. Tapi sejak lebaran September dulu aku tak pernah pulang. Pun cuti pas Muharram, Natal dan Tahun Baru tak bisa karena pekerjaan yang ngantri. Jadi kuniatkanlah pulang meihat orang tua walau sebentar. Tak nyana di 20 menit berada di tanah kelahiran sendiri, sudah banyak yang kuterima dan resapi. Kadang-kadang memang bukan lamanya kita mengalami sesuatu yang paling berarti, tapi kualitasnya yang mungkin bermanfaat bagi jiwa.

Aku turun, kubayar abang itu. Biasanya aku menambah ongkos untuk tukang becak mesin. Kali ini kubayar pas, 25 ribu. Aku menghargai dia dengan caraku. Aku merasa tak perlu menambah. Aku hormat dengan abang itu sebagai seorang pekerja keras, seorang rakyat kecil yang berjuang dengan kesusahan hidupnya, yang makin sulit dibuat oknum-oknum yang buta pada rasa malu. Cuma gara-gara receh yang untuk beli makan sekalipun tak cukup. Biarlah kudo'akan dia agar makin kuat berusaha dan apa yang dimakannya, anak istrinya, adalah hasil kerja keras yang halal.

Sebelum dia memutar becaknya, kutanya namanya. "Dahrun, dari Belawan", katanya dengan senyum lebar. Duh, pulang pergi dia dari Belawan, 26 kilometer dari pusat kota Medan. Dia melaju, kelihatan senang dengan nafkahnya kali ini dan berbagi cerita ke aku yang sebelumnya tak tau apa-apa.

Jakarta, 11 Januari 2010.

Catatan:
1) awak: saya 
2) dimakan: dijadikan mangsa, dalam hal ini "diperas"
3) pigi: pergi
4) bekawan: berkawan/berteman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar