Original post January 2010
Sabtu 9 Januari, sekitar pukul 9 pagi di bandara Polonia. Aku bergegas
keluar dari terminal kedatangan. Diluar penuh para penjemput dan supir
taksi bergerombol. Aku berjalan tak menghiraukan supir-supir taksi yang
mencegat menawarkan jasa. Sampai sekarang taksi di Polonia tak pernah
masuk dalam hitunganku. Harganya tak reasonable, tanpa argo, belum tentu
bersih pula. Entahlah kalau aku berombongan. Tujuanku melintasi
taman, keluar bandara ke dekat loket pembayaran parkir, ke jalan di
depan pom bensin Petronas. Disitulah biasanya tukang becak mesin (beca motor) mangkal. Jaraknya hanya beberapa ratus meter dari terminal. Kalau tak
ada, bisa jalan terus ke simpang jalan Juanda cari angkot. Bawaanku cuma
ransel berisi 3 baju.
Aku disambut seorang abang beca. Kulirik
becanya, tidak baru. Jok penumpangnya terkelupas, cat becaknya juga
sudah pudar. Penutup depannya kain bekas spanduk. Tapi tak apa. Bagiku
tukang beca mesin itu pekerja keras dan friendly (bisa diajak
ngobrol). Kusebut tujuanku. "30 ribu," katanya. Kutawar 20 ribu dengan
menyebut bahwa itu harga yang biasa. Dia minta 25 ribu, dengan
embel-embel "ini harus bayar parkir lagi bang, 3 ribu". Bah, itu bukan
urusanku, pikir hatiku. Tapi tak mau tertunda gara-gara 5 ribu, akhirnya
aku iyakan.
* * *
Dalam perjalanan, aku buka percakapan. "Memangnya bayar 3 ribunya sekali masuk bang?"
"Ya
tiap kali ada disitu," katanya agak ragu. "Tapi memang nggak semua
bang. Kalau dikenal orang itu, nggak diminta. Tapi kalau enggak
(dikenal), diminta".
"Abang gaul la," kataku bercanda, garing. "Biar nggak diminta sama orang itu"
"Payah bang, gak bisa dekat kali awak1) sama orang itu," jawabnya. "Kalau terlalu dekat, dimakan2) orang itu awak".
"Orang itu siapa bang? Preman?"
"Bukan bang. ** (salah satu unit angkatan yang markasnya dekat disitu).
Aku terdiam. Oknum berseragam tapi penyebab ekonomi biaya tinggi.
"Gak malu orang tu minta-minta 3 ribu gitu?"
"Itulah
bang, awakpun heran." jawabnya. "Kunci becak awak ini berapa kali udah
diambil" sambil memegang lubang kunci starter kereta yang dikendarainya.
"Ini awak rusak aja biar gak ada kuncinya. Tak bisa diambil orang itu".
Lobang kunci itu sudah dol, dan tak ada kunci bergantung disitu. Lubangnya lurus, tanda dalam posisi On.
"Kalau gitu gampang la becaknya dicuri bang".
"Iya memang. Tapi cemana lagi bang".
* * *
Kami
berbincang sepanjang perjalanan diantara deru mesin Honda Win becaknya.
Kalau la ini becak mesin lama, pasti tidak bisa kami bicara. Suaranya
jauh lebih ribut daripada ini. Untung pulak becaknya berpenutup depan.
Kalau tidak bisa2 pas cerita masuk capung ke mulutku.
"Gitu
bang," lanjutnya. "Pernah, satu orang ngusir awak. " Cabut kauh!"
katanya. Bukan apa-apa bang, sok kali dia. Maap-maap, umurnya aja pun
masih sebaya anak awak yang paling kecil."
Aku mengangguk-angguk.
Aku pernah juga kena begitu. Di simpang Guru Patimpus, disetop oknum
polwan muda berpangkat bengkok dua. "Nggak kau liat lampu merah itu,"
katanya ketus. Kim*knya ini, kupikir. Tamat SMA, sekolah Caba tak genap
setahun, membentak warga negara pula. Padahal apakah aku melewati lampu
merah atau kuning pun belum jelas. Terakhir, ujung-ujungnya duit juga.
Makan kau duitku itu biar jadi api di perutmu, kupikir.
Kembali ke cerita si abang beca. "Awak
bilang," lanjut dia, "Bapak jangan gitu la. Cemana kalau
orangtua Bapak saya "kau kau" kan. Kan nggak senang Bapak."
"Iyah, melawan kau??!" petugas itu marah.
"Bukan gitu Pak," awak bilang. "Nggak pantas la Bapak bicara gitu ke saya".
"Banyak kali cerita kau," katanya. "Pigi3) kau dari sini!"
"Nggak
mau saya pigi. Polisi sama Dishub aja nggak ngusir kami," jawab dia.
"Bapak kan tugasnya bukan ini. Kalau Polisi atau Dishub baru bisa ngusir
kami".
"Iyah ngajar-ngajarin pulak kau! kata petugas itu marah. Ditendangnya awak."
Aku
terdiam. Petugas menganiaya rakyat pulak. Susah-susah gitu abang itu
pasti pernah beli pulsa dan bayar PPN. Dan itu salah satu sumber gaji
petugas itu. Kutanya, "dimana ditendangnya bang."
Di sini awak bang, katanya sambil memegang kakinya setinggi betis, bagian luar.
"Terus
awak bilang," lanjutnya. "Ini saya punya nomor telpon anggota DPRD.
Bapak mau bicara?? Saya telpon. Biar kita tau betul apa nggak. Bapak mau
nelpon? Atau saya yang telpon nanti Bapak bicara."
"Trus apa katanya?" tanyaku.
"Pigi dia... Gak berani dia bicara."
Hebat,
pikirku. "Siapa anggota DPRDnya bang?" tanyaku. "I** S** namanya bang"
katanya. Nama yang tak kukenal. "dari Fraksi P** dia." Sempat pula
kutanya sekali lagi untuk mengingat namanya.
* * *
"Abang dulu nggak disini ya". Tanyanya retorik. "Dulu sempat rame bang. Kami tukang becak mesin demo".
"Gara-garanya
pengusaha-pengusaha taksi itu ngasi duit itu ke orang tu," tuduhnya. "Biar kami
nggak boleh disana. Soalnya bekurang penghasilan orang itu" (Ya mungkin seperti aku yang lebih milih becak mesin). Sempat kosong kami disitu bang. Waktu itulah muncul ojek-ojek itu kalau abang tengok".
Memang ada juga di bandara ojek-ojek yang menawarkan jasa selain taksi dan becak mesin.
"Dilarang
kami disana. Makanya kami demo. Itulah diterima di DPRD. Diterima kami
disitu bang. Bapak itu (I** S**) langsung bicara nelpon di depan kami
semua. Suaranya dikuatkan (speakerphone maksudnya). Jadi kami semua
disitu mendengar. "Gini Pak. Mereka ini kan masyarakat kita juga. Mereka
kan cari makan. Kenapa dilarang..? Entah apalah jawaban orang itu.
Terus dia bilang, Perda-nya ada Pak? Kalau ada boleh lah dilarang.
Itulah rupanya, tak ada praturannya bang. Itu kan gara2 pengusaha taksi
itu supaya kami dilarang. Nah sesudah itu lah kami boleh disitu lagi.
Tak ada alasan orang itu melarang kami"
"Ooo" kataku kagum. Masih ada anggota DPRD yang peduli seperti itu. "Bapak itu masih disitu sekarang?"
"O dia udah habis periode-nya bang," jawabnya. "Sekarang nggak anggota lagi dia."
"Cuma
fraksi itu yang membela bang," lanjutnya lagi. "Yang lainnya udah
dikasih duit itu semua sama pengusaha. Kata Bapak itu: Ini kita cuma
satu (fraksi). Kalau fraksi yang lain membela, jangankan diluar,
masukpun (ke dalam bandara) kalian bisa".
Menarik juga pikirku.
Kalau ada becak mesin wisata mangkal di Polonia, dirawat, ditatar sadar
wisata pengemudinya, akan jadi khas kota Medan yang tak ada
dimana-mana. Kenalan saya orang asing saat ke Medan jalan-jalan keliling
naik becak mesin. Yang sebelumnya, waktu saya bawa naik mobil kaget
melihat becak mesin, "nani sore (apa itu)?" tanyanya. "Motored Tricycle," saya
bilang. Dia lalu nyari kamera di tasnya untuk difoto-foto. Turis bule
pun mungkin lebih senang ke hotel-hotel di daerah SM Raja atau Pinang
Baris menggunakan kendaraan ini.
* * *
"Jadi abang masih
ada nomor telepon anggota DPRD yang sekarang?" aku tanya. Simpatik juga
dengan kondisi mereka. Kalau betul cerita itu, masih ada Wakil Rayat
yang betul membela mereka, sesuai aturan.
"Masih bang," katanya. Pak S** L**, wakil ketua, pak G**, pak ... (tak kudengar lagi).
O
ya pak S** L** pernah ada acara di rumahku, beliau lebih dahulu datang.
Ketika kucari-cari untuk persilahkan masuk kok gak keliatan. Dicari-cari
ternyata lagi duduk di lantai teras di bagian yang gelap-gelap. Waduh pejabat
negara rendah hati sekali. Aku jadi terharu waktu itu.
"Mau rupanya orang itu ditelpon-telpon gitu?" tanyaku.
"O senang orang itu bang," katanya. "Itula yang dicari-cari orang itu."
Dan kemudian dia bilang kata-kata yang rasanya akan selalu aku ingat.
"Selama
awak hidup 48 tahun ini," kutengok mukanya menerawang dan samar
tersenyum bangga. "Baru sekali ini lah awak bisa bicara-bicara dengan Wakil
Gubernur, Wakil Ketua DPRD, anggota DPRD. Bicara langsung bang. Satu
meja kami."
"Datang pun kami, senang orang tu menyambut.
Waalaikumsalaam..!! Iyah apa kabar Pak" katanya. Diajaknya awak cerita.
"Apa ini yang bisa dibantu?" Macam bekawan4) dekat lah kami.
"Kalau
anggota-anggota (DPRD) dulu," kata dia. "Jangankan cerita, ngeliat awak pun malas orang
itu. Udah diliatnya pun awak duduk disitu, buang muka dia".
* * *
Tak
terasa, kami sudah sampai. Aku sebelumnya pesimis dengan liburku kali
ini, apa yang kudapat. Pulang ke kampung cuma weekend, Sabtu-Minggu.
Tapi sejak lebaran September dulu aku tak pernah pulang. Pun cuti pas
Muharram, Natal dan Tahun Baru tak bisa karena pekerjaan yang ngantri.
Jadi kuniatkanlah pulang meihat orang tua walau sebentar. Tak nyana di
20 menit berada di tanah kelahiran sendiri, sudah banyak yang kuterima
dan resapi. Kadang-kadang memang bukan lamanya kita mengalami sesuatu
yang paling berarti, tapi kualitasnya yang mungkin bermanfaat bagi jiwa.
Aku
turun, kubayar abang itu. Biasanya aku menambah ongkos untuk tukang
becak mesin. Kali ini kubayar pas, 25 ribu. Aku menghargai dia dengan
caraku. Aku merasa tak perlu menambah. Aku hormat dengan abang itu
sebagai seorang pekerja keras, seorang rakyat kecil yang berjuang dengan
kesusahan hidupnya, yang makin sulit dibuat oknum-oknum yang buta pada
rasa malu. Cuma gara-gara receh yang untuk beli makan sekalipun tak
cukup. Biarlah kudo'akan dia agar makin kuat berusaha dan apa yang
dimakannya, anak istrinya, adalah hasil kerja keras yang halal.
Sebelum
dia memutar becaknya, kutanya namanya. "Dahrun, dari Belawan", katanya
dengan senyum lebar. Duh, pulang pergi dia dari Belawan, 26 kilometer
dari pusat kota Medan. Dia melaju, kelihatan senang dengan nafkahnya
kali ini dan berbagi cerita ke aku yang sebelumnya tak tau apa-apa.
Jakarta, 11 Januari 2010.
Catatan:
1) awak: saya
2) dimakan: dijadikan mangsa, dalam hal ini "diperas"
3) pigi: pergi
4) bekawan: berkawan/berteman
Selasa, 23 Oktober 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
-
Ramai berita tentang Waka DPR yang anaknya diminta dijemput oleh KJRI New York mengingatkan saya sebuah kata "Kopasjiba" yang say...
-
Saya sedang kembali ke apartmen kampus ketika berpapasan dengan seorang pria bule yang menuju Curtin Oval, lapangan sepakbola kampus. Meliha...
-
Kita yang bukan penutur asli bahasa Inggris mudah keliru mengartikan Moral Hazard . Saya dua kali mendengar orang menyebutkan istilah itu t...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar