Berangkat ke kantor di pagi hari dengan transport umum buat saya lebih enak. Tinggal bawa badan, kalau beruntung dapat tempat duduk, dan bisa tidur sambil mendengarkan lagu-lagu Kangen Band atau Iklim dari HP menggunakan earphones. Urusan jalan macet biarlah urusan supir bus. Untuk ukuran Jabodetabek, saya termasuk beruntung tidak harus berangkat terlalu dini dari rumah. Cukup berangkat pukul 6 kurang, biasanya sudah dapat busnya dan tidak telat sampai di kantor (masuk 7.30). Beberapa teman saya ada yang harus berangkat dari rumah jam 5, biasanya yang tinggal di Bogor, Karawang, atau atau daerah penyangga Jakarta lainnya.
Masalah baru terasa pada saat pulang, yang saya rasakan sebagai "Dilema Pulang Kantor di Jakarta". Kami pulang jam 5 sore, dan saat itu memang jalanan di Jakarta sedang lucu-lucunya. Setelah ngantri menggunakan lift kantor dan jalan menuju halte, biasanya saya sampai di halte sekitar pukul 5.20-5.30. Disana saya akan bergabung dengan para penunggu bus lainnya. Saya perhatikan wajah para penunggu bus ini adalah "wajah-wajah penuh penantian tanpa kepastian". Apakah bus akan datang; kalaupun datang apakah masih mau mengambil penumpang, atau apakah yang berdiri di sebelah saya ini copet atau bukan, hihi.. (yang terakhir ini nggak deng).
Sebenarnya ada dua alternatif lain jalan saya pulang. Yang pertama, naik bus jemputan kantor. Kebetulan salah satu rute bus jemputan melewati jalan dekat rumah. Tapi karena beberapa hal, misalnya pulang harus betul-betul tenggo saya jarang menggunakan bus ini.
Yang kedua, naik bus Trans Jakarta. Tapi bisa saya katakan bahwa bus Trans Jakarta saat "prime time" tidak manusiawi. Berdesakan dan kapan datangnya tidak ada yang tau (karena korban macet juga). Malah bus Trans Jakarta lah yang paling malang kena macet di sore hari karena bodynya yang besar sehingga lebih sulit bermanuver di antara kendaraan-kendaraan lain. Saya pernah naik trans Jakarta sore hari, untuk menempuh jalan sejauh 200 meter saja mengambil waktu sekitar 1 jam. Saat itu ingin keluar tapi bus-nya tertutup dan pintunya tinggi dari jalan (kalau rendah mungkin bisa minta buka pintu dan keluar saja) sehingga tidak ada pilihan selain menahankan rasa kesal dan pegal di dalam bus. Tahankanlah uteh!
![]() |
| Antrian calon penumpang Bus Trans Jakarta dengan latar depan kemacetan Semanggi |
Sebahagian orang kantoran Jakarta tidak langsung pulang saat waktunya tapi menunggu macet terurai, sehingga mereka akan pulang lebih malam. Namun ini menurut saya juga tidak lebih baik. Selain bukan berarti sampai di rumah lebih cepat, macet di Jakarta pada malam hari kerja sampai jam 9 seringkali tidak lebih cair daripada sore hari. Jadi sore kena macet, malam juga kena macet. Lebih baik kena macet sore hari, lebih cepat sampai rumah daripada macet malam hari.
Setelah mengalami itu saya baru balik paham kenapa orang-orang lebih memilih naik kendaraan pribadi sendiri. Membawa kendaraan sendiri - kalau ada - adalah pilihan terbaik dibanding menggunakan transportasi publik di Jakarta. Kalau AC nya bekerja dengan baik jauh lebih aman dan nyaman. Kalau kena larangan 3 in 1 bayar saja joki 10-20 ribu. Pantaslah Jakarta bertambah macet.
Tapi senangnya, saya lihat orang-orang pekerja di Jakarta tetap kelihatan tabah menjalani semua itu. Manusia memang makhluk yang beradaptasi. Begitupun kawan-kawan saya yang berangkat subuh dari rumah dan harus fight untuk segera pulang ke rumah. Mereka tetap ceria. Mau apa lagi? Lebih baik dijalankan saja sambil berupaya mencari cara yang paling baik untuk kepentingan dan kenyamanan diri sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar