Selasa, 23 Oktober 2012

Pengungsi di Jepang

Original post February 2008.

Salah satu pertanyaan dari teman saya apakah di Jepang ada gelandangan. Jawabnya, tentu saja ada.

Tadi saya baru dari stasiun kereta api bawah tanah. Letaknya yang beberapa lantai dibawah dan tertutup menjadikan tempat ini cocok untuk berlindung dari angin musim dingin. Saya lihat beberapa  bapak-bapak, berjaket lusuh, sedang duduk mengobrol bersandar di tembok. Seperti kebanyakan orang Jepang lainnya, mereka tidak acuh, asyik sendiri dengan kegiatannya. Salah seorang duduk terpisah di anak tangga yang saya naiki, asyik membaca koran dengan sepatunya dilepas.

Kecuali di Akihabara, saya memang tidak pernah melihat orang disini meminta-minta (mengemis)*. Seperti kata mbak daun singkong, mungkin mereka tau orang lain juga punya kesusahan sendiri-sendiri. Kalau saya pikir, mungkin karena mereka tidak mau berurusan dengan polisi. Meminta-minta dan membuat orang lain merasa terganggu bisa membuat mereka diusir bahkan dipenjara. Atau, memang pada dasarnya gelandangan (tramp) berbeda dengan pengemis (beggar).

Tempat tinggal memang bisa jadi urusan runyam di negeri ini. Saat ini ribuan orang sudah menjadi "internet/manga cafe refugee", yaitu mereka yang tidak sanggup menyewa tempat tinggal atau kos-kosan, akhirnya pergi ke internet/komik cafe semalaman sebagai tempat tidur. Akomodasi memang sangat mahal di kota-kota besar seperti Tokyo dan Yokohama. Biasanya refugees (pengungsi) ini pekerja paruh waktu/tidak tetap, masih muda, dan "cuma" berpenghasilan paling banyak 1 juta yen setahun (kira-kira Rp 85 juta). Menurut sebuah survey, sekitar 80% internet/manga cafe di Jepang memiliki penghuni tetap seperti ini.



Asosiasi internet cafe sendiri mengajukan keberatan kepada media yang menciptakan istilah internet cafe refugee karena memberikan kesan negatif, padahal mereka itu adalah pelanggan utama cafe-cafe tersebut.

Dan ternyata bagi sebahagian yang lain, internet cafe itu termasuk mewah. Sekarang ini muncul istilah "McRefugee", yaitu buat mereka yang menjadikan restoran McDonald sebagai tempat tinggalnya. Kalau "menginap" di internet/manga cafe membutuhkan 1.000-2.000 yen per malam, di McDonald yang buka 24 jam hanya dibutuhkan 80 yen untuk satu burger kecil atau 100 yen untuk satu cup kopi, dan nantinya bisa diisi ulang. Bagi mereka, menginap di internet/manga cafe hanyalah buat orang kaya yang punya uang.

Seorang ahli ekonomi, Takuro Morinaga, memperkirakan dengan trend semakin membesarnya gap penghasilan orang kaya dan miskin di Jepang, para gelandangan dan refugees ini akan semakin banyak dan hidup berkelompok yang pada akhirnya akan muncul tempat-tempat kumuh di Jepang.

Agaknya orang Jepang perlu belajar prinsip kita, mangan ora mangan seng penting ngumpul. Janganlah terlalu individualistis.

Catatan:
1 yen = (kira-kira Rp. 85,-)

* Di Akihabara, Tokyo, kadang-kadang ada beberapa orang yang menyapa orang2 asing (tak dikenal) lalu meminta uang (tidak memaksa). Mereka bukan gelandangan. Berpakaian cukup bersih, kadang-kadang sepertinya terpelajar. Kelihatannya orang-orang yang kehabisan ongkos untuk pulang (CMIIW). Saya pernah memberi kepada satu orang, gemuk berkacamata. Sampai saya jauh dan berada di lantai dua dia masih membungkuk-bungkuk berterimakasih kearah saya. Soal apakah dia betul-betul musafir kehabisan uang atau cuma peminta-minta yang memanfaatkan rasa kasihan orang WTH.

sumber gambar: http://www.chopsticksny.com/contents/down-in-tokyo/2008/03/447

Tidak ada komentar:

Posting Komentar