Original post February 2008.
Salah satu pertanyaan dari teman saya apakah di Jepang ada gelandangan. Jawabnya, tentu saja ada.
Tadi
saya baru dari stasiun kereta api bawah tanah. Letaknya yang beberapa
lantai dibawah dan tertutup menjadikan tempat ini cocok untuk berlindung
dari angin musim dingin. Saya lihat beberapa bapak-bapak, berjaket
lusuh, sedang duduk mengobrol bersandar di tembok. Seperti kebanyakan orang
Jepang lainnya, mereka tidak acuh, asyik sendiri dengan kegiatannya.
Salah seorang duduk terpisah di anak tangga yang saya naiki, asyik
membaca koran dengan sepatunya dilepas.
Kecuali di Akihabara, saya memang tidak pernah melihat orang disini meminta-minta (mengemis)*. Seperti kata mbak daun singkong,
mungkin mereka tau orang lain juga punya kesusahan sendiri-sendiri.
Kalau saya pikir, mungkin karena mereka tidak mau berurusan dengan
polisi. Meminta-minta dan membuat orang lain merasa terganggu bisa
membuat mereka diusir bahkan dipenjara. Atau, memang pada dasarnya
gelandangan (tramp) berbeda dengan pengemis (beggar).
Tempat
tinggal memang bisa jadi urusan runyam di negeri ini. Saat ini ribuan
orang sudah menjadi "internet/manga cafe refugee", yaitu mereka yang
tidak sanggup menyewa tempat tinggal atau kos-kosan, akhirnya pergi ke
internet/komik cafe semalaman sebagai tempat tidur. Akomodasi memang
sangat mahal di kota-kota besar seperti Tokyo dan Yokohama. Biasanya
refugees (pengungsi) ini pekerja paruh waktu/tidak tetap, masih muda,
dan "cuma" berpenghasilan paling banyak 1 juta yen setahun (kira-kira Rp
85 juta). Menurut sebuah survey, sekitar 80% internet/manga cafe di Jepang memiliki penghuni tetap seperti ini.
Asosiasi internet cafe sendiri mengajukan keberatan kepada media yang menciptakan istilah internet cafe refugee karena memberikan kesan negatif, padahal mereka itu adalah pelanggan utama cafe-cafe tersebut.
Dan
ternyata bagi sebahagian yang lain, internet cafe itu termasuk mewah.
Sekarang ini muncul istilah "McRefugee", yaitu buat mereka yang
menjadikan restoran McDonald sebagai tempat tinggalnya. Kalau "menginap"
di internet/manga cafe membutuhkan 1.000-2.000 yen per malam, di McDonald
yang buka 24 jam hanya dibutuhkan 80 yen untuk satu burger kecil atau
100 yen untuk satu cup kopi, dan nantinya bisa diisi ulang. Bagi mereka,
menginap di internet/manga cafe hanyalah buat orang kaya yang punya
uang.
Seorang ahli ekonomi, Takuro Morinaga, memperkirakan dengan
trend semakin membesarnya gap penghasilan orang kaya dan miskin di
Jepang, para gelandangan dan refugees ini akan semakin banyak dan hidup
berkelompok yang pada akhirnya akan muncul tempat-tempat kumuh di
Jepang.
Agaknya orang Jepang perlu belajar prinsip kita, mangan ora mangan seng penting ngumpul. Janganlah terlalu individualistis.
Catatan:
1 yen = (kira-kira Rp. 85,-)
* Di
Akihabara, Tokyo, kadang-kadang ada beberapa orang yang menyapa orang2
asing (tak dikenal) lalu meminta uang (tidak memaksa). Mereka bukan
gelandangan. Berpakaian cukup bersih, kadang-kadang sepertinya
terpelajar. Kelihatannya orang-orang yang kehabisan ongkos untuk pulang
(CMIIW). Saya pernah memberi kepada satu orang, gemuk berkacamata.
Sampai saya jauh dan berada di lantai dua dia masih membungkuk-bungkuk
berterimakasih kearah saya. Soal apakah dia betul-betul musafir
kehabisan uang atau cuma peminta-minta yang memanfaatkan rasa kasihan
orang WTH.
sumber gambar: http://www.chopsticksny.com/contents/down-in-tokyo/2008/03/447
Selasa, 23 Oktober 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
-
Ramai berita tentang Waka DPR yang anaknya diminta dijemput oleh KJRI New York mengingatkan saya sebuah kata "Kopasjiba" yang say...
-
Saya sedang kembali ke apartmen kampus ketika berpapasan dengan seorang pria bule yang menuju Curtin Oval, lapangan sepakbola kampus. Meliha...
-
Kita yang bukan penutur asli bahasa Inggris mudah keliru mengartikan Moral Hazard . Saya dua kali mendengar orang menyebutkan istilah itu t...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar